Cinta

Posted on June 29, 2008 by cucuk-aryan.
Categories: For Ukhti-Ku.

Ya Aziz……….
Jika Cinta Adalah Ketertawanan
Tawanlah Aku Dengan Cinta Kepada-Mu
Agar Tidak Ada Lagi Yang Dapat
Menawanku Selain Engkau

Ya Rohim……….
Jika Cinta Adalah Pengorbanan
Tumbuhkan Niat Dari Semua Pengorbananku
Semata-mata Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu

Ya Robbii……….
Jika Rindu Adalah Rasa Sakit
Yang Tidak Menemukan Muaranya
Penuhilah Rasa Sakitku
Dengan Rindu Kepada-Mu
Dan Jadikan Kematianku Sebagai
Muara Pertemuanku Dengan-Mu
Ya Robbii……….
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Kurasakan
Saat Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu

Ya Alloh……….
Jika Kasih Adalah Kebahagiaan
Yang Tiada Bertepi
Tumbuhkan Kebahagiaan Dalam Hidupku
Di saat Kupersembahkan Sesuatu Untuk-Mu

Ya Alloh……….
Hatiku Hanya Cukup Untuk Satu Cinta
Jika Aku Tak Dapat Mengisinya Dengan Cinta Kepada-Mu
Kemanakah Wajahku Hendak Kusembunyikan Dari-Mu

Ya Ar-Rahman………
Dunia Yg Engkau Bentangkan Begitu Luas
Bagai Belantara Yg Tak Dapat Kutembus
Di Malam Yang Gelap Gulita
Agar Tidak Tersesat Dalam Menapakinya

Ya Ar-Rahhim…….
Berikan Alas Kaki Buat Hamba Agar Jalan Yg Kutapaki Terasa Nikmat
Meski Penuh Dengan Bebatuan Runcing & Duri Yang Tajam
Hamba Sadar Semua Ini Milikmu Dan Suatu Saat
Jika Kau Kehendaki Semuanya Akan Kembali Jua Kepada-Mu
Hamba pasrahkan kehidupan hamba kepada-Mu.

Love

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: For Ukhti-Ku.

Love is a give…
Yup Thats definetely right..
Cinta adalah rahmat dari-Nya..
Karena dengan cintalah…
Seorang Ibu merelakan jiwanya demi untuk kelahiran buah hatinya…
Karena dengan cintalah…
Seorang ayah, merelakan dirinya berusaha sekuat tenaga demi mencari nafkah untuk anggota keluarganya.
..
Karena dengan cintalah…
Shalahuddin Al Ayyubi tidak dapat tertawa sebelum mesjid Al - Aqsha dapat dibebaskan untuk menebus cintanya kepada Rabbul Izzati…
Karena dengan cintalah…
Para mujahid dan mujahidah rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk dapat mendapat cinta dari Yang Maha Mempunyai Cinta…
Allah…
Ya…
Dia-lah Allah sang Ar Rahman…
Dengan cinta-Nya bumi, langit dan planet melaju dalam alur yang harmonis…
Dengan cinta-Nya angin masih menyapa tetumbuhan dan rerumputan..
Dengan cinta-Nya cahya mentari masih menerpa hangat tubuh kita..
Kepada Allah-lah muara cinta yang Hakiki.

Pada seurai cinta

Posted on June 3, 2008 by cucuk-aryan.
Categories: Puisi.

Tak hanya dalam bayang,
Bila engkau menatanya di jiwa
Bagi titik-titik yang banyak tercecer
Di pelataran jingga dunia

Bahwa manusia ada di langit yang sama adalah benar,
Bahwa cinta dicipta untuk diburaikan
Pada garis vertikal menuju Pencipta
Pada garis horinsontal menuju manusia serta lingkarnya

Maka biarkan cinta mengalir
menembus segala waktu, jarak dan ruang
Agar engkau merasa indahnya sebagai pecinta
Dan mereka merasa adalah bagianmu.

Wahai, cinta seurai usah engkau genggam sendiri
Beri sisi lain di segenap hatimu
Karna mereka butuh, aku butuh, dunia butuh
Hingga kekalah ukhuwah kita
Selamanya…

Jika Aku Jatuh Cinta

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Puisi.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku
pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Meminang Bidadari

Posted on June 2, 2008 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

“Menikah ?”
“Ya..”
“Tentu”, jawab Ayesha tanpa ragu.
“Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan.”
Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh.
“Dengan siapa, Ammah ?”
Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak meyembung.
Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah,karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ?
Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.
“Ammah….dengan siapa ?”
Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah.
Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.
“Dengan Ayyash !”
Ayyash ?
Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega.
Biarlah…..biarlah Ayesha yang memutuskan….ini hidupnya.
Suara hati wanita itu bicara.
Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi …juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ?
“Kau pikirkan dulu, ya ? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik.”
Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, meyisiri rumah-rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan.
Pernikahan….sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan ? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina.
Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash!
***
Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.
Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah. Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup.
Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya.
Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.
Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu.
Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang
bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.
Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom syahid, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah dan mengabarkan berita itu pada umminya.
Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik.
Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka.
Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari.
****
Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.
Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah….nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali.
Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut.
“Ayyash mencari istri ?”
“Ia akan menikah secepatnya, akhirnya ”
“Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?”
Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
“Kenapa sehari semalam ?”, tanyanya pada ammahnya.
“Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis.”
Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri,seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah.
“Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama.
Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya.
Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan.
“Ya….”jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha.
Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung.
Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah.
Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha.
Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang
Wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash.
Pengantinnya, bidadarinya…..kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya.
“Ayesha…..saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu.”
Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha,lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati.
Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ?
Bagi ia yang akan menjelang syahid ?
Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati istrinya.
“Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya.”
Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. “Tak apa. Saya mengerti.” Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash.
Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.
“Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha.”
Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali.
Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi.
Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash,dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash,membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.
Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan.
Saat ia merebahkan diri di dada Ayyash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak.
“Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash”
Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya.
Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya.
Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.
***
Ayyash terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ?
“Ayyash….istrimu, Ayesha.”
Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.
“Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan…Ayesha yang melakukannya…”
“Gudang peluru itu. Bunyi…bagaimana kau bisa tak mendengar ?”
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya…..Ayesha mendahuluinya ?
Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya,serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi….Masya Allah !
Istrinya kini….benar-benar bidadari.
Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah.
Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.
Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.
Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Opearsi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya.
Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan…
Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata.
Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

Berbahasalah dengan santun

Posted on April 18, 2008 by cucuk-aryan.
Categories: Pemikiran.

BAHASA menunjukkan cerminan pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi.

Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun, damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan, dan suka menang sendiri.

Bahasa memang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu suatu kebijakan yang berimplikasi pada pembinaan dan pembelajaran di lembaga pendidikan. Salah satu bentuk pembinaan yang dianggap paling strategis adalah pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa lainnya di sekolah. Dalam KTSP, bahasa Indonesia termasuk dalam kelompok mata pelajaran estetika. Kelompok ini juga merupakan salah satu penyangga dari kelompok agama dan akhlak mulia. Ruang lingkup akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral.

Kelompok mata pelajaran estetika sendiri bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan itu mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mesyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

Tujuan rumpun estetika tersebut dijabarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang bertujuan agar peserta didiknya memiliki kemampuan antara lain (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis dan (2) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Tujuan tersebut dilakukan dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Pelajaran bahasa Indonesia telah eksis sejak dulu dari tingkat SD sampai PT. Di SD pelajaran ini mulai diberikan di kelas IV-VI, alokasinya 5 jam per minggu atau 15,63% dari total alokasi jam pembelajaran, SMP 4 jam atau 12,5%, di SMA kelas XI 4 jam atau 10,53%, kelas XI dan XII 4 jam atau 7,69%. Alokasi itu diperkuat lagi dengan pelajaran bahasa Sunda sebanyak 2 jam setiap minggunya. Di PT, bahasa Indonesia termasuk dalam MKDU, minimal 2 SKS. Ini menunjukkan bahwa kedudukannya dalam kurikulum pendidikan formal begitu utama dan strategis.

Ironisnya, eksistensi dan besarnya alokasi jam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah saat ini belum memberikan kontribusi dan korelasi yang berarti terhadap tumbuhnya kesadaran penggunaan bahasa secara verbal yang lemah lembut, santun, sopan, sistematis, teratur, mudah dipahami, dan lugas. Pelajaran tersebut harus diakui belum mampu membangun nilai-nilai estetika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan pembelajarannya masih bersifat kurang komunikatif, dikotomis, artifisial, verbalistis, dan kognitif.

Kegagalan menanamkan pendidikan nilai melalui pembelajaran bahasa Indonesia ini tercermin pada perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai sopan santun. Kegagalan ini sedikit banyak telah memberi andil pada terjadinya tindak kekerasaan di masyarakat, perseteruan di tingkat elite, dan ikut memengaruhi terjadinya pelecehan terhadap nilai-nilai luhur yang dihormati bersama.

Menurut pakar bahasa, I. Pratama Baryadi dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terdapat korelasi antara bahasa sebagai lambang yang memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antarmanusia dengan kekerasan yang merupakan perilaku manusia yang hegemonik-destruktif.

Dua korelasi itu, pertama, bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan kekerasan sehingga menimbulkan salah satu jenis kekerasan yang disebut kekerasan verbal. Wujudnya terlihat dalam tindak tutur seperti memaki, membentuk, mengancam, menjelek-jelekkan, mengusir, memfitnah, menyudutkan, mendiskriminasikan, mengintimidasi, menakut-nakuti, memaksa, menghasut, membuat orang malu, menghina, dan lain sebagainya.

Kedua, bahasa yang tidak digunakan sesuai dengan fungsinya akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan. Fungsi hakiki bahasa adalah alat komunikasi, alat bekerja sama, dan pewujud nilai-nilai persatuan bagi para pemakainya. Dalam teori percakapan, ada dua prinsip penggunaan bahasa yang wajar-alamiah, yaitu prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.

Prinsip kerja sama menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan bentuk yang lugas, jelas, isinya benar, dan relevan dengan konteksnya. Prinsip kesopanan menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan sopan, yaitu bijaksana, mudah diterima, murah hati, rendah hati, cocok, dan simpatik.

Sejalan dengan itu, dalam ajaran Islam ada yang disebut dengan dosa lisan. Dalam Q.S. Al Qalam [68]: 10-11), "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi menghina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah". Larangan itu dipertegas lagi oleh dua hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadis pertama berbunyi, "Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata baik. Atau, (jika tidak bisa) lebih baik diam". Bunyi hadis kedua, "Orang yang disebut Muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya (dari menyakiti Muslim lain)". Begitulah ajaran agama mengatur etika dan anjuran berbahasa dengan baik dalam lehidupan.

Anjuran tersebut juga relevan dengan pepatah lama yang menyebutkan lidah atau lisan bagaikan pedang. Jika lisan telah mengibaskan ketajaman mata pedangnya di hati, rasa sakit dan lukanya akan berbekas untuk waktu yang lama. Penyimpangan (deviasi) prinsip-prinsip tersebut dapatlah memicu timbulnya kekerasan. Sebagai contoh, berbicara kasar, berbicara saja tanpa tindakan, berbicara bohong, berbicara dengan keras, tidak jelas, menyakitkan, menyinggung perasaan, merendahkan orang lain, dan tidak transparan.

Dalam praktik sehari-hari, perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai dan hakikat fungsi bahasa seperti itu semakin banyak ditemukan di masyarakat kita saat ini. Perilaku yang tidak terpuji ini ironisnya banyak dilakukan di alam reformasi. Apakah ini merupakan cerminan dari euforia demokrasi yang kebablasan. Entah apa. Perilaku berbahasa yang buruk itu dilakukan oleh semua lapisan: golongan bawah, golongan menengah, bahkan elite politik negeri ini. Sindir-menyindir, saling menghujat, provokasi, dan saling mengancam tidak asing terdengar keluar dari mulut para pemimpin.

"Mulutmu harimaumu", itu kata pepatah yang masih tetap relevan. Akibat dari penggunaan bahasa yang tidak terpuji itu kini masyarakat dan elite politik mudah sekali bermusuhan, melakukan tindak anarkis, merusak, dan lain sebagainya.Pendek kata, negeri ini sangat rentan dan rawan dengan konflik-konflik, friksi-friksi, perkelahian, pembunuhan, dan perusakan yang tak berkesudahan.

Dalam rangka reformasi pendidikan, selayaknyalah dipikirkan juga bagaimana sekolah dapat berperan agar anak didik khususnya, dan masyarakat pada umumnya tidak berbahasa untuk melakukan tindakan kekerasan dan tidak memicu kekerasan. Hendaknya anak didik berbahasa Indonesia yang sopan dan beradab, yang berfungsi memelihara serta membangun kerja sama kerukunan.

Beberapa hal yang dapat dipikirkan yaitu pertama, sekolah hendaknya memberi penghargaan yang wajar pada bahasa dan budaya. Kedua, pelajaran bahasa menggunakan pendekatan komunikatif tetap menekankan perlunya kesopanan berbahasa. Ketiga, semua warga sekolah dikondisikan dan disiplinkan untuk berbahasa dengan sopan.

Tentang berhasa yang sopan ini, sangat selaras dengan sabda Rasul yang mulia, "Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang makruf da mencegah yang mungkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang".

Berdemonstrasi menyampaikan tuntutan dan aspirasinya adalah hak setiap orang yang mesti diperjuangkan. Namun penyampaian itu hendaknya disampaikan secara beretika. Aksi-aksi jangan seakan membenarkan atau melegalkan kata-kata sekasar apa pun dilontarkan di depan publik. Stoplah sudah kata-kata yang mengumbar bibit-bibit kebencian, membakar amarah, memancing emosi, mendorong anarkisme, dan menebar provokasi. Hentikan kata-kata yang hanya memancing kericuhan dan bentrokan fisik dengan aparat atau pihak lain. Demikian juga dengan para pemimpin bangsa, hendaknya menjunjung etika berbahasa. Perilaku berbahasa pemimpin bangsa dan elite politik yang kerap menimbulkan perseteruan telah berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat di level akar rumput. Semua itu hanya menghabiskan energi dan membuat rakyat semakin menderita.

Momentum Idulfitri yang melambangkan kesucian hati dan peringatan Bulan Bahasa yang dilakukan tiap bulan Oktober ini seyogianya dapat menggugah kesadaran berbahasa dengan sopan dan santun. Bagi dunia pendidikan, pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa lainnya diharapkan mampu menginternalisaikan dan mengartikulasikan nilai-nilai etika berbahasa dalam perilaku verbal kita sehari-hari. Pusat Bahasa yang berotoritas membina dan mengembangkan bahasa hendaknya lebih berperan nyata lagi dalam mendorong masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang santun. Lembaga ini jangan hanya berkutat pada riset-riset dan pembakuan bahasa yang hanya menjadi "menara gading" bagi masyarakatnya.

Karena bahasa mencerminkan pencitraan pribadi, jati diri bangsa, dan keselamatan hidupnya, sejatinya pemimpin bangsa, elite politik, masyarakat, dan setiap diri berupaya menggunakan bahasa dengan sopan, santun, dan beradab. Wallahu a’lam.***

Hilang satu kekhawatiran

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.
Jika usia kita 20 tahun, lebih kurang 6 atau 7 tahun sudah kita didera kegelisahan. Jika ejawantah rasa gelisah itu beraneka, maka memang ianya kembali pada masing-masing pribadi kita. Selalu ada pilihan. Dan konsekuensi dari pilihan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan. Ada kala sang gelisah menjadi kegenitan yang kita nikmati. Ada kala menjadi ketertekanan jiwa yang tak menghasilkan apa-apa. Atau menjadi motivasi 'amal yang luar biasa saat terampil mengelola. 

Tetapi bagaimanapun, seperti kata Imam Ahmad, jika seorang pemuda tak berkeinginan untuk segera menikah, hanya ada dua kemungkinannya. Yaitu �diragukan�, atau banyak berma'shiat. Ada yang bersikukuh menunggu usia 25. Sunnah Rasul katanya. Padahal Muhammad menjadi Rasul di usia 40, bukan sebelum 25. Mungkin lebih tepat sunnah Muhammad namanya. Dan sunnah Rasul tentunya justru berbunyi: 

�Wahai sekalian pemuda, siapapun di antara kalian berkemampuan dalam ba'ah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia, lebih tunduk bagi pandangan dan lebih suci bagi kemaluan. Dan barangsiapa belum berkemampuan, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh puasa itu benteng baginya.� (HR Al Bukhari dan Muslim) 

Tak berkait dengan angka. Begitulah kita memaknai �usia pernikahan�. Tetapi, kata Ustadz Mohammad Fauzil 'Adhim, kata-kata �Dan barangsiapa belum berkemampuan� berarti pengecualian. Dan pengecualian berarti sangat sedikit. Maka jika 'Ali menikah di usia 18, Usamah ibn Zaid 17 tahun, berapa tahun lagi kita harus menunggu? 

Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang. Biaya untuk kegelisahan-kegelisahan. Biaya untuk pemborosan-pemborosan yang nir pertanggungjawaban. Maka, jika Allah mendeklarasikan akan memperkaya orang yang menikah di Surah An Nuur ayat 32, maka benarlah nikah adalah separuh agama, soal yakin tidak kepada Allah Ar Razzaqul Wahhab. 

�Jika seorang hamba menikah, maka menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.� (HR Al Hakim dan Ath Thabrani, dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata: hasan) 

Jika menikah mengeliminasi kegelisahan-kegelisahan kita yang terakumulasi selama 6, 7, 8, atau 10 tahun, menggantinya dengan kelengkapan separuh agama, maka benarlah kiranya: HILANG SATU KEKHAWATIRAN!

Masuklah Islam Secara Kaffah

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.

Al Baqarah 208-209

Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan.
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.
Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu
bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).

Inilah
seruan kepada kaum mukminin dengan menyebut iman. Yaitu, sifat atau
identitas yang paling mereka sukai, yang membedakan mereka dari orang
lain dan menjadikan mereka unik serta menghubungkan mereka dengan Allah
yang menyeru mereka itu. Seruan kepada orang orang beriman unfuk masuk
Islam secara total’ Pemahaman
pertama terhadap seruan ini ialah orang-orang mukmin harus menyerahkan
diri secara total kepada Allah, dalam urusan yang kecil maupun yg
besar. Hendaklah mereka menyerahkan diri dengan  sebenar-benarnya secara keseluruhan, baik mengenai
tashawur,’persepsi, pandangan’, pemikiran’ maupun perasaan, niat maupun
amal’,kesenangan maupun ketakutan; dengan tunduk dan patuh kepada
Allah, dan ridha kepada hukum dan qadha-Nya, tak tersisa sedikit pun
dari semua ini untuk selain Allah. Pasrah yang disertai dengan ketaatan
yang mantap, tenang, dan ridha. Menyerah kepada tangan (kekuasaan) yang
menuntun langkah-langkahnya. Mereka percaya bahwa “tangan” itu
menginginkan bagi mereka kebaikan, ketulusan’ dan kelurusan .
 

Mereka merasa tenang dan tenteram menempuh jalan itu ketika berangkat dan kembali di duniaataupun diakhirat .Arahan dakwah kepada orang-orang yang beriman ini juga mengisyaratkan bahwa di sana terdapat jiwa-jiwa  (manusla) yang senantiasa memberontak dengan keragu-raguan untuk  melakukan ketaatan yang mutlak baik secara sembunyi maupun terang-terangan Ini
adalah hal yang biasa terdapat di dalam kelompok masyarakat, di samping
itu ada jiwa-jiwa yang tenang, percaya kepada Allah, dan ridha’ Ini
adalah  seruan yang setiap waktu ditujukan kepada orang-orang yang beriman  agar
mereka menjadi suci dan bersih, tulus dan ikhlas, dan sesuai getaran
getaran jiwa dan arah perasaannya dengan apa yang dikehendaki Allah
bagi mereka
dan  juga agar sesuai dengan tuntutan nabi dan agama mereka  dengan tanpa keraguan dan kebimbangan serta kegamangan. 
Ketika
seorang muslim mematuhi ini dengan sebenar-benarnya berarti ia telah
masuk ke alam kedamaian secara menyeluruh dan ke alam keselamatan
secara total. Alam yang penuh kemantapan dan ketenangan, penuh
keridhaan dan kemantapan  tidak ada kebingungan dan kegoncangan, tidak
ada kelinglungan dan kesesatan.

Damai
dengan segala yang ada dan segala yang maujud’. Kedamaian yang
berseri-seri dalam lubuk hati. Kedamaian yang membayang-bayangi
kehidupan dan masyarakat ” kesejahteraan dan keselamatan di bumi dan
langit .K
eselamatan
dan kedamaian yang pertama kali melimpah ke dalam hati melimpah dari
tashaawwur-nya yang benar terhadap Allah Tuharnya memancar dari
keindahan  dan kelapangan tashawwurnya ini .
Sesungguhnya,
Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya orang muslim
menghadapkan arahnya dengan hati yang mantap. Maka jalannya kepada Nya
tidak bercerai-berai, penghadapannya kepada Nva tidak berbilang
(melainkan cuma satu) dan tidak diombang-ambingkan oleh tuhan ini dan
tuhan itu ke sana ke mari sebagaimana ketuhanan berhala dalam jahiliah.
Yang ada hanya satuTuhan tempat ia menghadap dengan penuh keyakinan dan
kemantapan, dengan terang dan jelas.
 Dia ( Allah) adalah Tuhan Yang
Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa , Apabila seorang muslim menghadap
kepada-Nya berarti ia menghadap kepada kekuatan yang sebenarnya yang
cuma satu-satunya di alam semesta ini. Ia merasa aman dari semua
kekuatan palsu, merasa tenang dan tenteram.. Ia tidak merasa takut kepada
seseorang atau kepada sesuatupun. Ia hanya menyembah kepad.a Allah yang
Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa. Ia juga tidak  khawatir kehilangan sesuatu dan tidak  juga berambisi terhadap apa saja yang ada pada orang yang tidak berkuasa untuk mencegah atau memberi.
 

Dia
adalah Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Kekuatan dan
kekuasaan-Nya merupakan jaminan dari kezaliman, hawa nafsu, dan
merugikan hak orang lain. Ia tidak seperti tuhan-tuhan berhala dan
kejahiliahan dengan bermacam-macam kemauan dan keinginannya. Dengan
demikian, seorang muslim meninggalkan ketuhanan berhala dan
berlindung kepada Allah, pilar yang kokoh, untuk mendapatkan keadilan, perlindungan, dan keamanan. Dia
adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemberi nikrnat
dan Pemberi karunia ,Pengampun dosa dan Penerima tobat yang mengabulkan
permohonan doa orang yang memohon kepada-Nya dan menghilangkan duka
deritanya.
Maka,
seorang muslim di bawah naungan Allah merasa aman dan tenang, merasa
selamat dan berhasil, disayangi kalau lemah, dan diampuni kalau
bertobat.
Demikianlah
seorang muslim menjalani kehidupannya bersama sifat sifat Tuhannya yang
dikenalkan oleh Islam kepadanya. Maka’ pada setiap sifat-Nya dia
menemukan sesuatu yang menenangkan hatinya dan menenteramkan jiwanya.
Dia menemukan sesuatu yang menjamin perlindungan, pemeliharaan  kelemah
lembutan, kasih sayang keperkasaan,ketahanan, kemantapan, dan
keselamatan.

Begitulah
Islam melimpahkan ke dalam hati orang muslim pandangan yang benar
mengenai hubungan antara hamba dan Tuhan, antara Sang Pencipta dan alam
semesta, serta antara alam semesta dan manusia . Maka Allah telah
menciptakan alam ini dengan benar serta menciptakan segala sesuatu
padanya dengan ukuran dan hikmah. Manusia diciptakan dengan bertujuan,
tidak dibiarkan sia-sia telah disiapkan untuknya segala keadaan alam
yang sesuai buatnya dan diciptakan pula segala sesuatu di bumi
untuknya.  Manusia adalah makhluk yang mulia dalam pandangan Allah. Dia
adalah khalifah-Nya di muka bumi. Allah senantiasa menolongnya dalam
menjalankan kekalifahannya ini, sedang alam sekitarnya merupakan teman
yang baik baginya, saling merespons antara ruhnya dan ruh semesta,
ketika kedua-duanya menuju kepada Allah-Tuhan Semestaa Alam. Dia diseru
kepada festival Ilahi yang diadakan di langit dan bumi ini agar dia
senang dan gembira . Dia juga diseru untuk saling berlemah-lembut dan
berkasih sayang dengan segala sesuatu dan segala makhluk hidup di alarm
yang besar ini. Yakni, semua yang bersorak-sorai dengan teman-teman
yang sama-sama diseru seperti dia untuk ikut dalam festival ini, dan
sama-sama meramaikannya..
 

 Akidah
yang menghentikan pemiliknya di depan tumbuhan kecil ini dan
membisikkan kepadanya bahwa dia akan mendapatkan pahala kalau mau
menyiramnya ketika ia sedang haus, membantunya unfuk berkembang, dan
menghilangkan semua gangguan dari jalannya, adalah akidah yang indah
lebih dari sekadar akidah yang mulia. Akidah yang menuangkan kedamaian
didalam ruhnya, yang membebaskannya untuk berpelukan mesra dengan
seluruh alam semesta, menebarkan keamanan dan kelembutan di sekitarnya,
kasih sayang dan keselamatan.
 Keyakinan
akan adanya alam akhirat memiliki peranan yang pokok di dalam
mencurahkan keselamatan dan kedamaian ke dalam ruh orang mukmin dan
dunianya. Juga berperanan dalam menghilangkan kegundahan, kebencian,
dan keputusasaan.

Sesungguhnya
perhitungan terakhir bukan di dunia ini dan pembalasan yang sempurna
bukan di alam kehidupan yang sementara ini. Karena sesungguhnya
perhitungan terakhir ada di sana dan keadilan yang mutlak terkandung di
dalam perhitungan ini.
Maka
ia tidak menyesal kalau melakukan kebaikan dan berjihad di jalan Allah,
tetapi belum tampak hasilnya atau belum mendapatkan balasannya. Ia
tidak sedih dan bimbang kalau belum mendapatkan balasan yang sempurna
dibandingkan orang lain dalam kehidupan ini, karena dia akan
mendapatkannya secara sempurna menurut timbangan Allah.
 
Dia
juga tidak berputus asa untuk mendapatkan keadilan apabila di dalam
perjalanan hidup yang pendek ini tidak mendapatkan bagian yang
diinginkannya.
Karena keadilan itu pasti akan terwujud, sedang Allah tidak hendak berbuat zalim kepada hamba -hamba-Nya .Keyakinan
adanya akhirat juga  menjadi penghalang baginya dari melakukan
pertarungan gila-gilaan dan panas yang mengotori tata nilai dan segala
sesuatu yang patut dihormati, dengan tidak merasa berat dan tidak
merasa malu. Maka, di sana ada akhiral di sana juga ada karunia,
kekayaan, dan penggantian terhadap segala sesuatu yang terlepas.

Pandangan
yang demikian ini akan menimbulkan kedamaian dan keselamatan dalam
lapangan perlombaan dan persaingan; tidak merasa paling baik daripada
semua gerak-gerik orang yang ikut perlombaan; dan menganggap enteng
semua perniagaan yang lepas dari perasaan bahwa safu-satunya kesempatan
ialah usia yang pendek dan terbatas ini. Pengetahuan dan kesadaran seorang  mukmin adalah bahwa tujuan keberadaan manusia adalah ibadah karena ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hal
ini akan mengangkat derajatnya ke cakrawala yang terang benderang, akan
mengangkat perasaan dan hati nuraninya akan mengangkat
aktivitas-aktivitas dan amalnya dan akan menyucikan semua jalan dan
sarananya. Maka, ibadahlah yang ia kehendaki ketika sedang melakukan
aktivitas dan amalannya, bekerja dan mengeluarkan belanja menjalankan
tugas kekhalifahannya di muka bumi, dan merealisasikan berlakunya
manhaj Allah padanya ,
pantaslah
kalau dia tidak mau berbuat curang dan durhaka tidak mau mengicuh dan
menipu, tidak mau berbuat aniaya dan sewenang-wenang, tidak mau
menggunakan caracara yang kotor dan hina, tidak mau tergesa-gesa dalam
menempuh tahapannya, tidak mau menempuh jalan pintas (menyimpang dari
kebenaran), dan tidak mau mengendarai kesulitan
dalam urusannya.
 

Dia
sangat serius melakukan tujuan ibadahnya dengan niat yang ikhlas dan
beramal serta bekerja secara konstan (terus menerus) dalam batas-batas
kemampuannya. Dengan semua ini, tidaklah berkobar-kobar rasa takut dan
ambisi di dalam jiwanya serta tidak bergoncang jiwanya dalam menempuh
setiap tahapan dalam perjalanannya. Maka dia beribadah dalam setiap
langkahnya, dia mewujudkan tujuan keberadaannya dalam setiap getaran
pikirannya dan dia naik menuju Allah dalam setiap aktivitas serta dalam
semua lapangannya.
 
Perasaan
seorang mukmin selalu berjalan bersama takdir Allah dan selalu
melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk mewujudkan apa yang diinginkan
oleh Allah. Perasaan ini akan menuangkan kedalam ruhnya ketenteraman,
kedamaian, dan kemantapan, serta penerang jalannya ” Sehingga mereka
tidak bingung, tidak gundah, dan tidak marah-marah dalam menghadapi
kendala hambatan, dan kesulitan
serta
mereka tidak putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, dan juga
tidak khawatir akan salah tujuan atau tersia-sia balasannya.

Oleh
karena itu, ia merasakan kedamaian didalam jiwanya sehingga ia rela
berperang menghadapi musuh musuh Allah dan musuh-musuhnya.
Sebab,
ia berperang karenaAllah, dijalan Allah, dan untuk menjunjung tinggi
agama Allah. Ia tidak berperang untuk mendapatkan kedudukan, harta
rampasan, memenuhi ambisi, atau untuk mendapatkan kekayaan kehidupan
dunia.
 
Demikian
pula perasaannya bahwa dia berjalan pada sunatullah bersama seluruh
alam ini. Undang-undang alam adalah undang-undangnya iuga arah alam
adalah arahnya juga” (arena itu, tidak berbentuan dan tidak
bertentangan, dan tidak boleh mengeksploitasi alam dengan
sewenang-vvenang.
Seluruh
kekuatan alam adalah untuk kekuatannya dengan cahaya yang mengarahkan
dirinya. Kekuatan alam ini pun menuju kepada Allah bersamanya .
 Tugas-tugas
yang diwajibkan oleh Islam kepada orang muslim semuanya bersumber dari
fitah dan untuk meluruskan fitrah itu, tidak melampaui batas
kemampuannya tidak acuh terhadap tabiat dan kejadian manusia tidak
mengabaikan satupun potensi manusia dengan tidak membebaskannya untuk
beramal, membangun, dan berkembang.
 
Taklif
Islam juga tidak melupakan satu pun kebutuhan jasmani dan rohaninya.
Tidak pula merajalelakannya dalam kemudahan, kebebasan, dan kelaparan.

Oleh
karena itu, ia tidak bingung dan tidak gundah di dalam menghadapi tugas
- tugasnya Ia mengembannya sesuai dengan kemampuannya dan ia berjalan
di jalannya menuju kepada Allah dengan tenang, bahagia dan damai.
 
Masyarakat yang dibangun oleh manhaj Rabbani
ini berada dalam naungan peraturan yang bersumber dari akidah yang
bagus dan mulia ini Mereka berada di bawah jaminan –jaminan yang
meliputi iiwa kehormatan, dan hartabenda .  Semuanya menebarkan
keselamatan dan jiwa kedamaian.
 
 Demikianlah
masyarakat yang saling menyayangi dan saling mencintai, yang saling
berhubungan dengan berjalin berkelindan, saling menjamin, dan saling
setia Inilah tipe masyarakatyang hendak diwujudkan oleh Islam, dalam
bentuknya yang paling
tinggi
dan paling bersih. Kemudian” diwujudkannya dalam aneka macam bentuk
menurut masanya, dengan tingkat-tingkat kejernihan yang berbeda.
Akan
tetapi secara keseluruhan lebih baik daripada masyarakat lain yang
dibentuk oleh kejahiliahan dalam masa lampau ataupun masa sekarang.
Juga lebih baik dari semua masyarakat yang dilumuri oleh kejahiliahan
ini dengan segala pandangan dan tatanan keduniawiannya.
 Inilah
masyarakat yang diikat dengan unsur akidah yang meleburkan semua unsur
kesukuan dan kebangsaan, bahasa dan warna kulit dan semua unsur baru
yang tidak ada hubungannya dengan esensi manusia .

 

Tentang Rasa

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: A Special For....

Aunuril Laily Khakim…..
Kepadamu aku telah jatuh cinta secara sempurna,
meski hanya satu lirikan matamu,
sendi-sendiku terasa lepas satu-persatu,
karena satu lirikanmu…..berharga…..seribu ciuman
    di kening!!
hanya saja, itu jugakah yang engkau rasakan??

Aunuril Laily Khakim…..
Aku jatuh cinta padamu
sehari empat kali, pagi, siang, sore dan malam
perasaan ini teramat dalam, kalau kamu mau tahu
ingin rasanya kau selalu berada di dekatku
sehingga betapa kau sedih
ketika pagi-pagi aku meninggalkanmu untuk pergi ke kantor

tapi, di sisi lain aku merasa bahagia
karena di situlah kerionduan bernyanyi
bersama waktu bernama siang
dan ketika malam aku pulang
kau menyambutku dengan senyuman, berharap lelahku hilang

saat malam itulah,
saat kita berdua terbang ke khayangan
kita berdua di istana kita, di surga kita
Nirwana kita
tanpa ada orang lain yang menggangu

Bahaya Ciuman

Posted on April 8, 2008 by cucuk-aryan.
Categories: Uncategorized.

Yang paling menarik perhatian dan paling banyak ditulis oleh para ahli jiwa ialah ciuman dengan lidah.Secara
terperinciditerangkan tentang peranan pentingdari dua pasang bibir dan dua lidah dalam berciuman.Bagian mana yang
memainkan peranan utama tergantung pada selera seseorang.Namun yang lebih menarik perhatian para pakar bukan
kenikmatan dari sebuah ciuman tersebut tetapi,reaksi yang ditimbulkan olehkedua insan yang berciuman.

Para pakar menyebutkan bibir mempunyai kepekaan tujuh kali lebih besar dibanding kulit tubuh.Lidah juga memiliki
kepekaan empat kali lipat dari bibir.Oleh karena itu,ketika melakukan ciuman dengan lidah,tubuh akan bereaksi secara
total.Tekanan darah bertambah cepat,jantung berdetak cepat,dan nafas turun naik.Sebaliknya daya kerja dari indera
pandengaran,penciuman dan penglihatan akan menurun separuh.

Reaksi biologi yang ditimbulkan dari ciuman lidah nampaknya menarik perhatian para dokter.Dikatakan dibalik
kenikmatan dalanm gelora nafsu erotis,ciuman llidah dapat memendekkan umur tiga menit.Boleh percaya atau
tidak,yang jelas para pakar telah mencurahkan perhatian untuk menelitinya dan mengkaji seperti yang pernah dilakukan
di Universitas Baltimore,Amerika Serikat.

Penelitian dimulai dengan menyuruh sepasang muda-mudi berciuman dengan mesra.Kemudian diperiksa denyut nadi
mereka,ketika sedang berciuman.Ternyata,denyut nadi mereka semakin cepat,sekitar 150kali setiap menit,atau dua kali
lipat dari denyut nadi normal.Pada waktu yang sama,jantung memompa darah lebih banyak dari biasanya.Selain
itu,pada saat ciuman telah terjadi perpindahan 9 miligram air,0,7 miligram zat putih telur,0.18 miligram zat organik,0,711
milligram lemak,0,45 miligram garam mineral,serta sekitar 250 jenis bakteri yang masuk kedalam mulut masing-masing.

Hasil penelitian tersebut,menunjukkan bahwa ciuman beresikomenularkan kkuman penyakit.Menurut para pakar yang
meneliti penyakit yang akan terjangkit antara lain;radang hati, keracunan,sakit leher, sakit kulit bibir,alergi yang
disebabkan olehn kosmetik yang dipakai wanita.Akibat lain yang mungkin muncul adalah produksi glukosa yang
berlebihan sehingga menyebabkan timbulnya penyakit diabetes atau kencing manis.Ini berarti jika kita sering
melakukanciuman,besar kemungkinan umur kita akan bertambah pendek.Tapi jika anda tidak bisa menahan keinginan
untuk berciuman,sebaiknya anda berhati-hati.Perhatikanlah jenis ciuman yang anda berikan atau terima.