| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | Jan » | |||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik, tapi
omongannya pedas dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan, ucapan
enak didengar tetapi sangat boros. Ada pula seseorang yang pandai
menyenangkan pasangan, pandai mengatur keuangan, namun kurang rajin
beribadah.
”Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit
kamu menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya.” (HR Bukhari
Muslim).
Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa,
mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan
amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Bagi suami hampir
tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan
suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta
sejuta sifat baik lainnya.
Nasihat Rasulullah SAW, berkenaan kekurangan yang ada pada
pasangan kita, ”Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan
seorang mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri
istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.” Pesan Rasulullah
senapas dengan firman-Nya, ”Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,
(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa [4]: 19).
Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib
ataupun kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan
(nasihat lisan) maupun perbuatan (nasihat dengan teladan) untuk
memperbaiki kekurangan pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan
tersebut harus dengan keikhlasan
serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.
Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian
kewajiban menyampaikan ilmu ataupun nilai kebaikan yang orang lain pada
saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari orang
yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki.
Selain ikhlas dalam menasihati, penting pula ikhlas dalam menerima
nasihat.
Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita untuk ikhlas menerimanya.
Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan
ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih
metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasihati pasangan kita. Bil
hikmah wa mau’idzhatul hasanah, dengan hikmah serta pelajaran utama.
Semoga apa yang dicontohkan banyak rumah tangga publik figur belakangan
ini, tidak terjadi pada kita. Amin.
no comments yet.
Mengapa harus sembunyi-sembunyi? »« Cinta adalah fitrah yang suci
Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.
Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>