You are looking at posts that were written on April 18, 2008.
You are looking at posts that were written on .
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | Jun » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | ||||
BAHASA menunjukkan cerminan pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi.
Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun, damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan, dan suka menang sendiri.
Bahasa memang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu suatu kebijakan yang berimplikasi pada pembinaan dan pembelajaran di lembaga pendidikan. Salah satu bentuk pembinaan yang dianggap paling strategis adalah pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa lainnya di sekolah. Dalam KTSP, bahasa Indonesia termasuk dalam kelompok mata pelajaran estetika. Kelompok ini juga merupakan salah satu penyangga dari kelompok agama dan akhlak mulia. Ruang lingkup akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral.
Kelompok mata pelajaran estetika sendiri bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan itu mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mesyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
Tujuan rumpun estetika tersebut dijabarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang bertujuan agar peserta didiknya memiliki kemampuan antara lain (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis dan (2) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Tujuan tersebut dilakukan dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Pelajaran bahasa Indonesia telah eksis sejak dulu dari tingkat SD sampai PT. Di SD pelajaran ini mulai diberikan di kelas IV-VI, alokasinya 5 jam per minggu atau 15,63% dari total alokasi jam pembelajaran, SMP 4 jam atau 12,5%, di SMA kelas XI 4 jam atau 10,53%, kelas XI dan XII 4 jam atau 7,69%. Alokasi itu diperkuat lagi dengan pelajaran bahasa Sunda sebanyak 2 jam setiap minggunya. Di PT, bahasa Indonesia termasuk dalam MKDU, minimal 2 SKS. Ini menunjukkan bahwa kedudukannya dalam kurikulum pendidikan formal begitu utama dan strategis.
Ironisnya, eksistensi dan besarnya alokasi jam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah saat ini belum memberikan kontribusi dan korelasi yang berarti terhadap tumbuhnya kesadaran penggunaan bahasa secara verbal yang lemah lembut, santun, sopan, sistematis, teratur, mudah dipahami, dan lugas. Pelajaran tersebut harus diakui belum mampu membangun nilai-nilai estetika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan pembelajarannya masih bersifat kurang komunikatif, dikotomis, artifisial, verbalistis, dan kognitif.
Kegagalan menanamkan pendidikan nilai melalui pembelajaran bahasa Indonesia ini tercermin pada perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai sopan santun. Kegagalan ini sedikit banyak telah memberi andil pada terjadinya tindak kekerasaan di masyarakat, perseteruan di tingkat elite, dan ikut memengaruhi terjadinya pelecehan terhadap nilai-nilai luhur yang dihormati bersama.
Menurut pakar bahasa, I. Pratama Baryadi dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terdapat korelasi antara bahasa sebagai lambang yang memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antarmanusia dengan kekerasan yang merupakan perilaku manusia yang hegemonik-destruktif.
Dua korelasi itu, pertama, bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan kekerasan sehingga menimbulkan salah satu jenis kekerasan yang disebut kekerasan verbal. Wujudnya terlihat dalam tindak tutur seperti memaki, membentuk, mengancam, menjelek-jelekkan, mengusir, memfitnah, menyudutkan, mendiskriminasikan, mengintimidasi, menakut-nakuti, memaksa, menghasut, membuat orang malu, menghina, dan lain sebagainya.
Kedua, bahasa yang tidak digunakan sesuai dengan fungsinya akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan. Fungsi hakiki bahasa adalah alat komunikasi, alat bekerja sama, dan pewujud nilai-nilai persatuan bagi para pemakainya. Dalam teori percakapan, ada dua prinsip penggunaan bahasa yang wajar-alamiah, yaitu prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.
Prinsip kerja sama menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan bentuk yang lugas, jelas, isinya benar, dan relevan dengan konteksnya. Prinsip kesopanan menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan sopan, yaitu bijaksana, mudah diterima, murah hati, rendah hati, cocok, dan simpatik.
Sejalan dengan itu, dalam ajaran Islam ada yang disebut dengan dosa lisan. Dalam Q.S. Al Qalam [68]: 10-11), "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi menghina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah". Larangan itu dipertegas lagi oleh dua hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadis pertama berbunyi, "Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata baik. Atau, (jika tidak bisa) lebih baik diam". Bunyi hadis kedua, "Orang yang disebut Muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya (dari menyakiti Muslim lain)". Begitulah ajaran agama mengatur etika dan anjuran berbahasa dengan baik dalam lehidupan.
Anjuran tersebut juga relevan dengan pepatah lama yang menyebutkan lidah atau lisan bagaikan pedang. Jika lisan telah mengibaskan ketajaman mata pedangnya di hati, rasa sakit dan lukanya akan berbekas untuk waktu yang lama. Penyimpangan (deviasi) prinsip-prinsip tersebut dapatlah memicu timbulnya kekerasan. Sebagai contoh, berbicara kasar, berbicara saja tanpa tindakan, berbicara bohong, berbicara dengan keras, tidak jelas, menyakitkan, menyinggung perasaan, merendahkan orang lain, dan tidak transparan.
Dalam praktik sehari-hari, perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai dan hakikat fungsi bahasa seperti itu semakin banyak ditemukan di masyarakat kita saat ini. Perilaku yang tidak terpuji ini ironisnya banyak dilakukan di alam reformasi. Apakah ini merupakan cerminan dari euforia demokrasi yang kebablasan. Entah apa. Perilaku berbahasa yang buruk itu dilakukan oleh semua lapisan: golongan bawah, golongan menengah, bahkan elite politik negeri ini. Sindir-menyindir, saling menghujat, provokasi, dan saling mengancam tidak asing terdengar keluar dari mulut para pemimpin.
"Mulutmu harimaumu", itu kata pepatah yang masih tetap relevan. Akibat dari penggunaan bahasa yang tidak terpuji itu kini masyarakat dan elite politik mudah sekali bermusuhan, melakukan tindak anarkis, merusak, dan lain sebagainya.Pendek kata, negeri ini sangat rentan dan rawan dengan konflik-konflik, friksi-friksi, perkelahian, pembunuhan, dan perusakan yang tak berkesudahan.
Dalam rangka reformasi pendidikan, selayaknyalah dipikirkan juga bagaimana sekolah dapat berperan agar anak didik khususnya, dan masyarakat pada umumnya tidak berbahasa untuk melakukan tindakan kekerasan dan tidak memicu kekerasan. Hendaknya anak didik berbahasa Indonesia yang sopan dan beradab, yang berfungsi memelihara serta membangun kerja sama kerukunan.
Beberapa hal yang dapat dipikirkan yaitu pertama, sekolah hendaknya memberi penghargaan yang wajar pada bahasa dan budaya. Kedua, pelajaran bahasa menggunakan pendekatan komunikatif tetap menekankan perlunya kesopanan berbahasa. Ketiga, semua warga sekolah dikondisikan dan disiplinkan untuk berbahasa dengan sopan.
Tentang berhasa yang sopan ini, sangat selaras dengan sabda Rasul yang mulia, "Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang makruf da mencegah yang mungkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang".
Berdemonstrasi menyampaikan tuntutan dan aspirasinya adalah hak setiap orang yang mesti diperjuangkan. Namun penyampaian itu hendaknya disampaikan secara beretika. Aksi-aksi jangan seakan membenarkan atau melegalkan kata-kata sekasar apa pun dilontarkan di depan publik. Stoplah sudah kata-kata yang mengumbar bibit-bibit kebencian, membakar amarah, memancing emosi, mendorong anarkisme, dan menebar provokasi. Hentikan kata-kata yang hanya memancing kericuhan dan bentrokan fisik dengan aparat atau pihak lain. Demikian juga dengan para pemimpin bangsa, hendaknya menjunjung etika berbahasa. Perilaku berbahasa pemimpin bangsa dan elite politik yang kerap menimbulkan perseteruan telah berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat di level akar rumput. Semua itu hanya menghabiskan energi dan membuat rakyat semakin menderita.
Momentum Idulfitri yang melambangkan kesucian hati dan peringatan Bulan Bahasa yang dilakukan tiap bulan Oktober ini seyogianya dapat menggugah kesadaran berbahasa dengan sopan dan santun. Bagi dunia pendidikan, pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa lainnya diharapkan mampu menginternalisaikan dan mengartikulasikan nilai-nilai etika berbahasa dalam perilaku verbal kita sehari-hari. Pusat Bahasa yang berotoritas membina dan mengembangkan bahasa hendaknya lebih berperan nyata lagi dalam mendorong masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang santun. Lembaga ini jangan hanya berkutat pada riset-riset dan pembakuan bahasa yang hanya menjadi "menara gading" bagi masyarakatnya.
Karena bahasa mencerminkan pencitraan pribadi, jati diri bangsa, dan keselamatan hidupnya, sejatinya pemimpin bangsa, elite politik, masyarakat, dan setiap diri berupaya menggunakan bahasa dengan sopan, santun, dan beradab. Wallahu a’lam.***
Jika usia kita 20 tahun, lebih kurang 6 atau 7 tahun sudah kita didera kegelisahan. Jika ejawantah rasa gelisah itu beraneka, maka memang ianya kembali pada masing-masing pribadi kita. Selalu ada pilihan. Dan konsekuensi dari pilihan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan. Ada kala sang gelisah menjadi kegenitan yang kita nikmati. Ada kala menjadi ketertekanan jiwa yang tak menghasilkan apa-apa. Atau menjadi motivasi 'amal yang luar biasa saat terampil mengelola. Tetapi bagaimanapun, seperti kata Imam Ahmad, jika seorang pemuda tak berkeinginan untuk segera menikah, hanya ada dua kemungkinannya. Yaitu �diragukan�, atau banyak berma'shiat. Ada yang bersikukuh menunggu usia 25. Sunnah Rasul katanya. Padahal Muhammad menjadi Rasul di usia 40, bukan sebelum 25. Mungkin lebih tepat sunnah Muhammad namanya. Dan sunnah Rasul tentunya justru berbunyi: �Wahai sekalian pemuda, siapapun di antara kalian berkemampuan dalam ba'ah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia, lebih tunduk bagi pandangan dan lebih suci bagi kemaluan. Dan barangsiapa belum berkemampuan, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh puasa itu benteng baginya.� (HR Al Bukhari dan Muslim) Tak berkait dengan angka. Begitulah kita memaknai �usia pernikahan�. Tetapi, kata Ustadz Mohammad Fauzil 'Adhim, kata-kata �Dan barangsiapa belum berkemampuan� berarti pengecualian. Dan pengecualian berarti sangat sedikit. Maka jika 'Ali menikah di usia 18, Usamah ibn Zaid 17 tahun, berapa tahun lagi kita harus menunggu? Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang. Biaya untuk kegelisahan-kegelisahan. Biaya untuk pemborosan-pemborosan yang nir pertanggungjawaban. Maka, jika Allah mendeklarasikan akan memperkaya orang yang menikah di Surah An Nuur ayat 32, maka benarlah nikah adalah separuh agama, soal yakin tidak kepada Allah Ar Razzaqul Wahhab. �Jika seorang hamba menikah, maka menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.� (HR Al Hakim dan Ath Thabrani, dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata: hasan) Jika menikah mengeliminasi kegelisahan-kegelisahan kita yang terakumulasi selama 6, 7, 8, atau 10 tahun, menggantinya dengan kelengkapan separuh agama, maka benarlah kiranya: HILANG SATU KEKHAWATIRAN!
Al Baqarah 208-209
Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan.
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu
bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).
Inilah
seruan kepada kaum mukminin dengan menyebut iman. Yaitu, sifat atau
identitas yang paling mereka sukai, yang membedakan mereka dari orang
lain dan menjadikan mereka unik serta menghubungkan mereka dengan Allah
yang menyeru mereka itu. Seruan kepada orang orang beriman unfuk masuk
Islam secara total’ Pemahaman
pertama terhadap seruan ini ialah orang-orang mukmin harus menyerahkan
diri secara total kepada Allah, dalam urusan yang kecil maupun yg
besar. Hendaklah mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benarnya secara keseluruhan, baik mengenai
tashawur,’persepsi, pandangan’, pemikiran’ maupun perasaan, niat maupun
amal’,kesenangan maupun ketakutan; dengan tunduk dan patuh kepada
Allah, dan ridha kepada hukum dan qadha-Nya, tak tersisa sedikit pun
dari semua ini untuk selain Allah. Pasrah yang disertai dengan ketaatan
yang mantap, tenang, dan ridha. Menyerah kepada tangan (kekuasaan) yang
menuntun langkah-langkahnya. Mereka percaya bahwa “tangan” itu
menginginkan bagi mereka kebaikan, ketulusan’ dan kelurusan .
Mereka merasa tenang dan tenteram menempuh jalan itu ketika berangkat dan kembali di duniaataupun diakhirat .Arahan dakwah kepada orang-orang yang beriman ini juga mengisyaratkan bahwa di sana terdapat jiwa-jiwa (manusla) yang senantiasa memberontak dengan keragu-raguan untuk melakukan ketaatan yang mutlak baik secara sembunyi maupun terang-terangan Ini
adalah hal yang biasa terdapat di dalam kelompok masyarakat, di samping
itu ada jiwa-jiwa yang tenang, percaya kepada Allah, dan ridha’ Ini
adalah seruan yang setiap waktu ditujukan kepada orang-orang yang beriman agar
mereka menjadi suci dan bersih, tulus dan ikhlas, dan sesuai getaran
getaran jiwa dan arah perasaannya dengan apa yang dikehendaki Allah
bagi mereka dan juga agar sesuai dengan tuntutan nabi dan agama mereka dengan tanpa keraguan dan kebimbangan serta kegamangan. Ketika
seorang muslim mematuhi ini dengan sebenar-benarnya berarti ia telah
masuk ke alam kedamaian secara menyeluruh dan ke alam keselamatan
secara total. Alam yang penuh kemantapan dan ketenangan, penuh
keridhaan dan kemantapan tidak ada kebingungan dan kegoncangan, tidak
ada kelinglungan dan kesesatan.
Damai
dengan segala yang ada dan segala yang maujud’. Kedamaian yang
berseri-seri dalam lubuk hati. Kedamaian yang membayang-bayangi
kehidupan dan masyarakat ” kesejahteraan dan keselamatan di bumi dan
langit .Keselamatan
dan kedamaian yang pertama kali melimpah ke dalam hati melimpah dari
tashaawwur-nya yang benar terhadap Allah Tuharnya memancar dari
keindahan dan kelapangan tashawwurnya ini .Sesungguhnya,
Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya orang muslim
menghadapkan arahnya dengan hati yang mantap. Maka jalannya kepada Nya
tidak bercerai-berai, penghadapannya kepada Nva tidak berbilang
(melainkan cuma satu) dan tidak diombang-ambingkan oleh tuhan ini dan
tuhan itu ke sana ke mari sebagaimana ketuhanan berhala dalam jahiliah.
Yang ada hanya satuTuhan tempat ia menghadap dengan penuh keyakinan dan
kemantapan, dengan terang dan jelas. Dia ( Allah) adalah Tuhan Yang
Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa , Apabila seorang muslim menghadap
kepada-Nya berarti ia menghadap kepada kekuatan yang sebenarnya yang
cuma satu-satunya di alam semesta ini. Ia merasa aman dari semua
kekuatan palsu, merasa tenang dan tenteram.. Ia tidak merasa takut kepada
seseorang atau kepada sesuatupun. Ia hanya menyembah kepad.a Allah yang
Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa. Ia juga tidak khawatir kehilangan sesuatu dan tidak juga berambisi terhadap apa saja yang ada pada orang yang tidak berkuasa untuk mencegah atau memberi.
Dia
adalah Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Kekuatan dan
kekuasaan-Nya merupakan jaminan dari kezaliman, hawa nafsu, dan
merugikan hak orang lain. Ia tidak seperti tuhan-tuhan berhala dan
kejahiliahan dengan bermacam-macam kemauan dan keinginannya. Dengan
demikian, seorang muslim meninggalkan ketuhanan berhala dan berlindung kepada Allah, pilar yang kokoh, untuk mendapatkan keadilan, perlindungan, dan keamanan. Dia
adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemberi nikrnat
dan Pemberi karunia ,Pengampun dosa dan Penerima tobat yang mengabulkan
permohonan doa orang yang memohon kepada-Nya dan menghilangkan duka
deritanya. Maka,
seorang muslim di bawah naungan Allah merasa aman dan tenang, merasa
selamat dan berhasil, disayangi kalau lemah, dan diampuni kalau
bertobat. Demikianlah
seorang muslim menjalani kehidupannya bersama sifat sifat Tuhannya yang
dikenalkan oleh Islam kepadanya. Maka’ pada setiap sifat-Nya dia
menemukan sesuatu yang menenangkan hatinya dan menenteramkan jiwanya.
Dia menemukan sesuatu yang menjamin perlindungan, pemeliharaan kelemah
lembutan, kasih sayang keperkasaan,ketahanan, kemantapan, dan
keselamatan.
Begitulah
Islam melimpahkan ke dalam hati orang muslim pandangan yang benar
mengenai hubungan antara hamba dan Tuhan, antara Sang Pencipta dan alam
semesta, serta antara alam semesta dan manusia . Maka Allah telah
menciptakan alam ini dengan benar serta menciptakan segala sesuatu
padanya dengan ukuran dan hikmah. Manusia diciptakan dengan bertujuan,
tidak dibiarkan sia-sia telah disiapkan untuknya segala keadaan alam
yang sesuai buatnya dan diciptakan pula segala sesuatu di bumi
untuknya. Manusia adalah makhluk yang mulia dalam pandangan Allah. Dia
adalah khalifah-Nya di muka bumi. Allah senantiasa menolongnya dalam
menjalankan kekalifahannya ini, sedang alam sekitarnya merupakan teman
yang baik baginya, saling merespons antara ruhnya dan ruh semesta,
ketika kedua-duanya menuju kepada Allah-Tuhan Semestaa Alam. Dia diseru
kepada festival Ilahi yang diadakan di langit dan bumi ini agar dia
senang dan gembira . Dia juga diseru untuk saling berlemah-lembut dan
berkasih sayang dengan segala sesuatu dan segala makhluk hidup di alarm
yang besar ini. Yakni, semua yang bersorak-sorai dengan teman-teman
yang sama-sama diseru seperti dia untuk ikut dalam festival ini, dan
sama-sama meramaikannya..
Akidah
yang menghentikan pemiliknya di depan tumbuhan kecil ini dan
membisikkan kepadanya bahwa dia akan mendapatkan pahala kalau mau
menyiramnya ketika ia sedang haus, membantunya unfuk berkembang, dan
menghilangkan semua gangguan dari jalannya, adalah akidah yang indah
lebih dari sekadar akidah yang mulia. Akidah yang menuangkan kedamaian
didalam ruhnya, yang membebaskannya untuk berpelukan mesra dengan
seluruh alam semesta, menebarkan keamanan dan kelembutan di sekitarnya,
kasih sayang dan keselamatan. Keyakinan
akan adanya alam akhirat memiliki peranan yang pokok di dalam
mencurahkan keselamatan dan kedamaian ke dalam ruh orang mukmin dan
dunianya. Juga berperanan dalam menghilangkan kegundahan, kebencian,
dan keputusasaan.
Sesungguhnya
perhitungan terakhir bukan di dunia ini dan pembalasan yang sempurna
bukan di alam kehidupan yang sementara ini. Karena sesungguhnya
perhitungan terakhir ada di sana dan keadilan yang mutlak terkandung di
dalam perhitungan ini. Maka
ia tidak menyesal kalau melakukan kebaikan dan berjihad di jalan Allah,
tetapi belum tampak hasilnya atau belum mendapatkan balasannya. Ia
tidak sedih dan bimbang kalau belum mendapatkan balasan yang sempurna
dibandingkan orang lain dalam kehidupan ini, karena dia akan
mendapatkannya secara sempurna menurut timbangan Allah. Dia
juga tidak berputus asa untuk mendapatkan keadilan apabila di dalam
perjalanan hidup yang pendek ini tidak mendapatkan bagian yang
diinginkannya. Karena keadilan itu pasti akan terwujud, sedang Allah tidak hendak berbuat zalim kepada hamba -hamba-Nya .Keyakinan
adanya akhirat juga menjadi penghalang baginya dari melakukan
pertarungan gila-gilaan dan panas yang mengotori tata nilai dan segala
sesuatu yang patut dihormati, dengan tidak merasa berat dan tidak
merasa malu. Maka, di sana ada akhiral di sana juga ada karunia,
kekayaan, dan penggantian terhadap segala sesuatu yang terlepas.
Pandangan
yang demikian ini akan menimbulkan kedamaian dan keselamatan dalam
lapangan perlombaan dan persaingan; tidak merasa paling baik daripada
semua gerak-gerik orang yang ikut perlombaan; dan menganggap enteng
semua perniagaan yang lepas dari perasaan bahwa safu-satunya kesempatan
ialah usia yang pendek dan terbatas ini. Pengetahuan dan kesadaran seorang mukmin adalah bahwa tujuan keberadaan manusia adalah ibadah karena ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hal
ini akan mengangkat derajatnya ke cakrawala yang terang benderang, akan
mengangkat perasaan dan hati nuraninya akan mengangkat
aktivitas-aktivitas dan amalnya dan akan menyucikan semua jalan dan
sarananya. Maka, ibadahlah yang ia kehendaki ketika sedang melakukan
aktivitas dan amalannya, bekerja dan mengeluarkan belanja menjalankan
tugas kekhalifahannya di muka bumi, dan merealisasikan berlakunya
manhaj Allah padanya , pantaslah
kalau dia tidak mau berbuat curang dan durhaka tidak mau mengicuh dan
menipu, tidak mau berbuat aniaya dan sewenang-wenang, tidak mau
menggunakan caracara yang kotor dan hina, tidak mau tergesa-gesa dalam
menempuh tahapannya, tidak mau menempuh jalan pintas (menyimpang dari
kebenaran), dan tidak mau mengendarai kesulitan dalam urusannya.
Dia
sangat serius melakukan tujuan ibadahnya dengan niat yang ikhlas dan
beramal serta bekerja secara konstan (terus menerus) dalam batas-batas
kemampuannya. Dengan semua ini, tidaklah berkobar-kobar rasa takut dan
ambisi di dalam jiwanya serta tidak bergoncang jiwanya dalam menempuh
setiap tahapan dalam perjalanannya. Maka dia beribadah dalam setiap
langkahnya, dia mewujudkan tujuan keberadaannya dalam setiap getaran
pikirannya dan dia naik menuju Allah dalam setiap aktivitas serta dalam
semua lapangannya. Perasaan
seorang mukmin selalu berjalan bersama takdir Allah dan selalu
melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk mewujudkan apa yang diinginkan
oleh Allah. Perasaan ini akan menuangkan kedalam ruhnya ketenteraman,
kedamaian, dan kemantapan, serta penerang jalannya ” Sehingga mereka
tidak bingung, tidak gundah, dan tidak marah-marah dalam menghadapi
kendala hambatan, dan kesulitan serta
mereka tidak putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, dan juga
tidak khawatir akan salah tujuan atau tersia-sia balasannya.
Oleh
karena itu, ia merasakan kedamaian didalam jiwanya sehingga ia rela
berperang menghadapi musuh musuh Allah dan musuh-musuhnya. Sebab,
ia berperang karenaAllah, dijalan Allah, dan untuk menjunjung tinggi
agama Allah. Ia tidak berperang untuk mendapatkan kedudukan, harta
rampasan, memenuhi ambisi, atau untuk mendapatkan kekayaan kehidupan
dunia. Demikian
pula perasaannya bahwa dia berjalan pada sunatullah bersama seluruh
alam ini. Undang-undang alam adalah undang-undangnya iuga arah alam
adalah arahnya juga” (arena itu, tidak berbentuan dan tidak
bertentangan, dan tidak boleh mengeksploitasi alam dengan
sewenang-vvenang. Seluruh
kekuatan alam adalah untuk kekuatannya dengan cahaya yang mengarahkan
dirinya. Kekuatan alam ini pun menuju kepada Allah bersamanya . Tugas-tugas
yang diwajibkan oleh Islam kepada orang muslim semuanya bersumber dari
fitah dan untuk meluruskan fitrah itu, tidak melampaui batas
kemampuannya tidak acuh terhadap tabiat dan kejadian manusia tidak
mengabaikan satupun potensi manusia dengan tidak membebaskannya untuk
beramal, membangun, dan berkembang. Taklif
Islam juga tidak melupakan satu pun kebutuhan jasmani dan rohaninya.
Tidak pula merajalelakannya dalam kemudahan, kebebasan, dan kelaparan.
Oleh
karena itu, ia tidak bingung dan tidak gundah di dalam menghadapi tugas
- tugasnya Ia mengembannya sesuai dengan kemampuannya dan ia berjalan
di jalannya menuju kepada Allah dengan tenang, bahagia dan damai. Masyarakat yang dibangun oleh manhaj Rabbani
ini berada dalam naungan peraturan yang bersumber dari akidah yang
bagus dan mulia ini Mereka berada di bawah jaminan –jaminan yang
meliputi iiwa kehormatan, dan hartabenda . Semuanya menebarkan
keselamatan dan jiwa kedamaian. Demikianlah
masyarakat yang saling menyayangi dan saling mencintai, yang saling
berhubungan dengan berjalin berkelindan, saling menjamin, dan saling
setia Inilah tipe masyarakatyang hendak diwujudkan oleh Islam, dalam
bentuknya yang palingtinggi
dan paling bersih. Kemudian” diwujudkannya dalam aneka macam bentuk
menurut masanya, dengan tingkat-tingkat kejernihan yang berbeda. Akan
tetapi secara keseluruhan lebih baik daripada masyarakat lain yang
dibentuk oleh kejahiliahan dalam masa lampau ataupun masa sekarang.
Juga lebih baik dari semua masyarakat yang dilumuri oleh kejahiliahan
ini dengan segala pandangan dan tatanan keduniawiannya. Inilah
masyarakat yang diikat dengan unsur akidah yang meleburkan semua unsur
kesukuan dan kebangsaan, bahasa dan warna kulit dan semua unsur baru
yang tidak ada hubungannya dengan esensi manusia .
Aunuril Laily Khakim…..
Kepadamu aku telah jatuh cinta secara sempurna,
meski hanya satu lirikan matamu,
sendi-sendiku terasa lepas satu-persatu,
karena satu lirikanmu…..berharga…..seribu ciuman
di kening!!
hanya saja, itu jugakah yang engkau rasakan??
Aunuril Laily Khakim…..
Aku jatuh cinta padamu
sehari empat kali, pagi, siang, sore dan malam
perasaan ini teramat dalam, kalau kamu mau tahu
ingin rasanya kau selalu berada di dekatku
sehingga betapa kau sedih
ketika pagi-pagi aku meninggalkanmu untuk pergi ke kantor
tapi, di sisi lain aku merasa bahagia
karena di situlah kerionduan bernyanyi
bersama waktu bernama siang
dan ketika malam aku pulang
kau menyambutku dengan senyuman, berharap lelahku hilang
saat malam itulah,
saat kita berdua terbang ke khayangan
kita berdua di istana kita, di surga kita
Nirwana kita
tanpa ada orang lain yang menggangu