You are looking at posts that were written on December 21, 2007.
You are looking at posts that were written on .
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Nov | Jan » | |||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
| 31 | ||||||
Stimulan, bagi
penulis puisi pemula seperti saya, ibarat permen rasa sarsaparilla yang
melonjak-lonjak di rongga mulut. Biasanya pada lonjakan pertama,
penulis puisi pemula langsung merasa bisa untuk menjadikannya sebagai puisi.
Demikian lonjakan-lonjakan berikutnya, dan hasilnya akan ada banyak puisi
tercipta.
Untuk penulis yang
sudah mempunyai wawasan yang sangat luas, hal ini tidak mengapa karena dia sudah
pasti punya banyak pengalaman dan kenangan pada sebuah kata yang memicu puisi
itu tercipta. Namun untuk penulis yang baru mengenal puisi, hal ini
mengkuatirkan karena puisi-puisi yang tercipta dari tangannya masih akan terasa
sebagai permen rasa sarsaparilla tadi.
Stimulan puisi pada
dasarnya mempunyai dua sisi, di mana sisi pertama menunjuk kepada produktivitas
kekaryaan, dan sisi kedua berkaitan dengan daya kreasi si penulisnya. Sekarang
dengan kemudahan teknologi ada banyak puisi tercipta setiap harinya, tapi
sedikit sekali yang benar-benar “puisi”. Puisi yang disebut terakhir adalah
puisi yang mampu meruangkan setiap imaji kata-kata ke dalam ruangan yang megah.
Sehingga ketika kita membacanya akan terpukau.
Dulu, ketika SMU saya, sana , kita bisa melogikakan sebuah ukuran juga.
berhubung saya memilih jurusan IPA, diperkenalkan dengan teori menggambar
perspektif. Hal ini menurut kurikulum dimaksudkan agar siswa kelas mempunyai
wawasan yang utuh dalam menyikapi segala persoalan. Perspektif adalah cara
pandang kita terhadap sebuah benda. Dari
Dalam pelajaran tersebut, saya mendapat pengetahuan bahwa sebuah benda biasanya
dilihat dari 4 matra (atas –bawah-depan-belakang) dan juga bisa dikembangkan
lagi menjadi 6 matra (atas-bawah-depan-belakang-sisi kanan-sisi kiri), 8 matra
bahkan 10 matra. Ini ternyata sama halnya dengan pelajaran beberapa waktu lalu
di dunia puisi mengenai Utuh dan Kompleks ala New Critic.
Setiap kata, bisa
dirujuk menjadi seperti benda. Kata sifat pun bila diberi kata sandang tertentu
bisa menjadi kata benda. Kata kerja pun demikian, diberi awalan saja dia bisa
berubah menjadi kata benda. Secara gampangnya di sini, saya ingin mengatakan
bahwa setiap kata adalah benda. Dan oleh karena itu, setiap kata bisa ditilik
dari berbagai matra. Nah, akhirnya saya mulai berkesimpulan bahwa seharusnya
“puisi” adalah ruangan yang megah bagi kata-kata itu sendiri. Di mana setiap
katanya mempunyai kedalaman, ketinggian, dan keluasaan.
Namun sejauh ini, saya
baru menemukan dua pandangan mengenai ruang dalam puisi itu sendiri.
Yang pertama adalah puisi sebagai ruang logika imaji kata. Pada
ruangan ini, imaji-imaji yang ada sepertinya harus memenuhi persyaratan logika
kita. Keutuhan dipandang sebagai hal pokok yang perlu diperhatikan.
Semisal pada sajak Pakcik Ahmad berikut :
Bertamu
bila kuketuk pintu
rumahmu
mengucapkan salam
dan menanyakan "apa
kabarmu ?"
masihkah kau sambut aku dengan
ungkapan
manismu
"aku baik-baik saja, Njing !"
lantas kau persilahkan
aku masuk
duduk di sofa terbarumu
mempersilahkanku
mencicipi sirup leci dinginmu,
dan bertanya :
"apakah
anak-anakmu masih mencari kenyang dari tempat sampahku
¿"
ketika jam bertik tok
tik tok sampai pinggang langit memerah
kau persilahkanku untuk
pulang
dan membawakan sebungkus oleh-oleh untuk
keluargaku
"hanya kotoran ini yang dapat kubawakan, semoga kalian
menikmatinya."
dalam perjalanan
pulang,
aku berdoa untuk kebaikanmu dan keinginanku untuk menjadi
kekasihmu
*Sidoarjo 301107 – 15:55
Pada puisi ini, setiap
imaji kata disusun ke dalam ruangan puisi mengikuti logika. Ketika bertamu, maka
ada yang mengucap salam, menanyakan kabar, menyilakan duduk, memberi suguhan,
dan sebagainya. Masuk akal bukan?
Yang kedua adalah puisi
sebagai ruangan emosi. Pada ruangan ini, keutuhan imaji kata tidak lagi terlalu
diperhatikan. Yang dipentingkan ketika membacanya adalah emosi yang tercipta.
Perhatikan baik-baik puisi Millaty Syifa berikut :
Seumpama
Ada
Sepertinya ini
halusinasi. berhadapan
denganmu
. matamu yang
puisi
Tiktaktiktaktiktak.
betapa detak jam itu
pasti, perlahan dan
wajar
tidak demikian jantungku.
kuharap kau tak
mendengar.
Kursimu bergeser.
maju.
nafasmu hangat. wajahmu. wajahku.
ah, lagi,
matamu yang puisi
Kriiiing… gumaman di
telepon genggam.
kursimu bergeser. mundur.
Es meleleh. gelas
mengembun
. mataku
04Des07
Pada puisi tersebut,
sebenarnya banyak imaji yang secara logika “tidak seharusnya ada” di “ruangan”
itu. “Detak jam”, “kursi”, “telepon genggam”, “es”,
dan “gelas” sama sekali tidak berhubungan dengan “matamu yang
puisi”. Walaupun puisi ini secara utuh belum berhasil menjadi ruangan yang
megah, karena tidak terekplorasinya kata yang “utama” yaitu mata, tetapi ini
puisi yang menggambarkan bahwa puisi adakalanya berada pada tataran ruang emosi.
Dengan membayangkan peristiwa-peristiwa itu menjadi nyata, maka pembaca akan
dapat turut merasakan emosi / perasaan si penulisnya. Ketika saya membaca puisi
ini, saya merasakan “rasa kecewa”, tapi mungkin bagi pembaca lain tak
sama.
Saya tidak mencoba
mengatakan bahwa ruangan satu dan lainnya itu berbeda satu sama lain. Tetapi ada
kecenderungan jika kita menemukan puisi yang menjadi ruang emosi, rata-rata di
sana
, logika
penyusunan imaji kata sudah tidak diperhatikan. Kata telah menjadi instalasi
penyusunan emosi. Ruang yang disebut pertama, juga tidak berarti tak ada emosi
yang diciptakan. Biasanya ruang logika kata malah kaya dengan permenungan makna
yang dalam. Ah, tapi ini semua bisa saja salah. Sebab saya masih baru memulai
menjelajah puisi. Dan sangat mungkin ada ruang-ruang lain dari puisi yang belum
saya eksplorasi. Mau bergabung?