Cinta Palsu, Doa tak terijabah

Posted on December 23, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.

Kata pujangga cinta
letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia
mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta
dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening,
sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan
kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan
batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta
membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang
sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila,
orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh
para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para
pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu
agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan
manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu,
tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan,
dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah
menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan
mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada
bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi
lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta
seorang wanita.

Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu
dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati
dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang
dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia
lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah
memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung
lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil
menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta
yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa,
semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa
dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang
pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah,
disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk
terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut,
jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal
bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya
dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan
segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat
nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh
mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada
selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab doa tak
terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih
menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun
melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki
sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga
sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah
tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara
dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan,
dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud,
sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu.
Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena
disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku
kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada
hambanya yang beriman.

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita,
agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak
bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita
membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah,
agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk
Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita
persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat
2) Ikhlas dalam beramal
3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal
yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah.

Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu.
Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada
Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan
tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan
menggapai cinta dan keridhaan-Nya.

Memperindah Hati

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.

SETIAP manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermiliar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Rasulullah saw. pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah saw. tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, atau pun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah saw. adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu!” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Boleh saja kita memakai segala apa pun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah, demi Allah, tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, atau pun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.

Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian kalbunya.

Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit). Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman a.s., tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.” (Q.S. An-Naml [27]:40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat, Allah akan menimpakan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apa pun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apa pun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, “Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya.

Mahasuci Allah dari perbuatan zalim kepada hamba-hamba-Nya. Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apa pun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallah, sungguh teramat beruntung siapa pun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah kalbunya. Wallahu a’lam.

SAya BElajar

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.

Saya belajar,
bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai…

Saya belajar,
bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya…

Saya belajar,
bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali
serta orang yang begitu perhatian pada saya….

Saya belajar,
bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik….

Saya belajar,
bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati…

Saya belajar,
bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya….

Saya belajar,
bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya dan untuk itu saya harus memaafkannya……

Saya belajar,
bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain….,
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus….

Saya belajar,
bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya…

Saya belajar,
bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri….

Saya belajar,
bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan….

Saya belajar,
bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….

Saya belajar,
bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya….

Saya belajar,
bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati….

Saya belajar,
bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya…

Saya belajar,
bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis…. S

aya belajar,
bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai…

Selamat belajar ,
semoga kamu sadar.. !! Love doesn’t make the world go round. L ove is what makes the ride worth while.

BANGKITLAH WAHAI UMAT ISLAM…!!!

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Uncategorized.

Seandainya tidak ada Jihad tentulah bumi ini rusak dan tentulah
Masjid-masjid di robohkan. Perseteruan antara Al-Haq dan Al-Bathil
adalah ketentuan yang pasti berjalan, dan selalu saja Ahlul Bathil
jumlahnya lebih banyak dari Ahlul Haq, sedangkan kekalahan mereka itu
dan penghadangan kejahatan mereka tidaklah mengkin berhasil kecuali
dengan Al-Jihad. Banyak dari manusia tidak tunduk terhadap Al-Haq tanpa
kekuatan yang menggiring mereka terhadap hal itu, dan Al-Jihad fi
Sabilillah terus berlangsung sampai hari kiamat. Ia adalah jalan
kejayaan dan kemenangan umat ini, dan bagaimanapun di tebar duri-duri
rintangan di depan lajunya dan bagaimanapun musuh-musuh Islam berupaya
keras dalam memeranginya, meleyapkan pilar-pilarnya, menindas para
pemeluknya, mengusir mereka, memfitnah mereka, menuduh mereka dengan
kekurangan dan cacat, mencap mereka sebagai Ahlul Ghuluw, militan dan
teroris, maka tetap tidak akan berhenti alur langkahnya dan akan nampak
cahayanya, akan melebar pengaruhnya dan ia akan tegak berdiri selagi
masih ada siang dan malam dengan kemulian orang yang mulia atau
kehinaan orang yang hina, dan masalahnya berkisar pada kemenangan atau
kesyahidan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“akan senantiasa sekelompok dari umatku berperang di atas Al-Haq,
mereka menang atas orang yang merintangi mereka sampai golongan yang
terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Ad-Dajjal.” [di riwayatkan oleh
Abu Dawud dari Jalur Hammad Ibnu Salimah dari Qotadah dari Mutharrif
dari ‘Umrah Ibnu Hushain dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam].

Dan
ada dalam shahih Imam Muslim [no.1922] dari jalur Muhammad Ibnu Ja’far,
telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Hammak ibnu Harb dari Jabir
Ibnu Samurah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan
senantiasa Dien ini tegak, berperang untuk mempertahankannya sekelompok
dari kaum muslimin sampai hari kiamat tiba”.

Dan Muslim
meriwayatkan [no.1924] dari jalur Yazid Ibnu Habib, telah memberi tahu
saya Abdurrahman Ibnu Syumasah Al-Mahry dari Uqbah Ibnu Amir bahwa Nabi
shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “senantiasa sekelompok dari
umatku berperang di atas urusan Allah, mereka mengalahkan musuhnya,
tidak memudharatkan orang yang menyelisihi mereka, sampai datang kiamat
kepada mereka, sedang mereka tetap di atas hal itu”.

BIARKAN KAMI MATI HINGGA KAMI MERAIH SYUHADA

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: jalanKu.

Sesungguhnya Ad-Dien Al-Islami tidak terealisasikan dalam jiwa-jiwa kaum muslimin dan tidak pula pada waqi’ manusia kecuali dengan menegakan Al-Jihad fi Sabilillah dengan seluruh macam-macamnya. Dan kejahatan para perusak di muka bumi ini tidak akan terhenti kecuali dengan kekuatan yang menggentarkan mereka dan Jihad yang meluluh-lantakan segala kekuatan yang mereka miliki.

Seandainya tidak ada Jihad tentulah bumi ini rusak dan tentulah Masjid-masjid di robohkan. Perseteruan antara Al-Haq dan Al-Bathil adalah ketentuan yang pasti berjalan, dan selalu saja Ahlul Bathil jumlahnya lebih banyak dari Ahlul Haq, sedangkan kekalahan mereka itu dan penghadangan kejahatan mereka tidaklah mengkin berhasil kecuali dengan Al-Jihad. Banyak dari manusia tidak tunduk terhadap Al-Haq tanpa kekuatan yang menggiring mereka terhadap hal itu, dan Al-Jihad fi Sabilillah terus berlangsung sampai hari kiamat. Ia adalah jalan kejayaan dan kemenangan umat ini, dan bagaimanapun di tebar duri-duri rintangan di depan lajunya dan bagaimanapun musuh-musuh Islam berupaya keras dalam memeranginya, meleyapkan pilar-pilarnya, menindas para pemeluknya, mengusir mereka, memfitnah mereka, menuduh mereka dengan kekurangan dan cacat, mencap mereka sebagai Ahlul Ghuluw, militan dan teroris, maka tetap tidak akan berhenti alur langkahnya dan akan nampak cahayanya, akan melebar pengaruhnya dan ia akan tegak berdiri selagi masih ada siang dan malam dengan kemulian orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina, dan masalahnya berkisar pada kemenangan atau kesyahidan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “akan senantiasa sekelompok dari umatku berperang di atas Al-Haq, mereka menang atas orang yang merintangi mereka sampai golongan yang terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Ad-Dajjal.” [di riwayatkan oleh Abu Dawud dari Jalur Hammad Ibnu Salimah dari Qotadah dari Mutharrif dari ‘Umrah Ibnu Hushain dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam].

Dan ada dalam shahih Imam Muslim [no.1922] dari jalur Muhammad Ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Hammak ibnu Harb dari Jabir Ibnu Samurah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan senantiasa Dien ini tegak, berperang untuk mempertahankannya sekelompok dari kaum muslimin sampai hari kiamat tiba”.

Dan Muslim meriwayatkan [no.1924] dari jalur Yazid Ibnu Habib, telah memberi tahu saya Abdurrahman Ibnu Syumasah Al-Mahry dari Uqbah Ibnu Amir bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “senantiasa sekelompok dari umatku berperang di atas urusan Allah, mereka mengalahkan musuhnya, tidak memudharatkan orang yang menyelisihi mereka, sampai datang kiamat kepada mereka, sedang mereka tetap di atas hal itu”.

Dan diantara fenomena kekuatan Salaf dan kejayaan mereka adalah tegaknya Jihad fi Sabilillah, dan ia adalah jalan yang darinya umat Islamiyah menduduki posisi tertinggi dan kejayaannya serta mengembalikan pamornya. Dan setiap tarbiyah yang berdiri tanpa di iringi ruh Jihad dan tanpa mengkaitkan realita sekarang dari umat ini dengan masa lalunya, maka ia adalah tarbiyah yang lemah, bagaimanapun upaya keras para penghusungnya dan apapun niat-niat mereka itu.
Da tatkala umat Islamiyah sekarang ini tidak mempedulikan terhadap sebab kejayaan mereka dan dasar ketangguhan mereka, maka Allah menghinakan mereka dan menguasakan atas mereka musuh-musuh mereka. Dan kita tatkala memberikan diri kita pada Dien ini, kita kembali kepada Dien kita, kita mencari seba-sebab kejayaan pendahulu kita, kita mengamalkanya dan manjaharkannya dalam dunia realita, maka sesungguhnya kemenangan berada di pihak kita dan kejayaan adalah syiar kita.

Dan pada masa kita ini mulai muncul kesadaran umat ini, merebak perlawanan terhadap kafirin, dan berkibar tinggi panji-panji Jihad di Afghanistan, Palestina, Chechnya, Filipina dan banyak tempat lainnya, serta mulai umat ini memahami tujuan

Puisi Dakwah

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Pemikiran.

(Suatu inspirasi dari Arkanul Bai`ah)
Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh,
aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah,
dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.

Ikhwah wal Akhawat, Para Da`ie !!
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Redha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah keranamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Ikhwah wal Akhawat, Para Junudud Dakwah !!
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu

Jika engkau cinta maka dakwah adalah FAHAM
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatik dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra

Jika engkau cinta maka dakwah adalah IKHLAS
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti Kata Abul Anbiya, Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”

Jika engkau cinta maka dakwah adalah AMAL
membangun kejayaan ummat bila dan di mana saja berada
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Tingkatkan kerja secara tertib untuk mencapai nusrah dari Allah Jika engkau cinta maka dakwah adalah JIHAD Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimah Allah rendahkan kalimah syaitan durjana
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAAT
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah TADHHIYAH,
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap titisan keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta maka dakwah adalah THABAT,
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAJARRUD
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya sampingan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah TSIQOH
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah UKHUWAH
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Salamatus Shodri merupakan syarat terendahnya, Itsar bentuk tertingginya

Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya

Mencoba Menggambar Ruang Puisi

Posted on December 21, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Pemikiran.

Stimulan, bagi
penulis puisi pemula seperti saya, ibarat permen rasa sarsaparilla yang
melonjak-lonjak di rongga mulut. Biasanya pada lonjakan pertama,
penulis puisi pemula langsung merasa bisa untuk menjadikannya sebagai puisi.
Demikian lonjakan-lonjakan berikutnya, dan hasilnya akan ada banyak puisi
tercipta.

Untuk penulis yang
sudah mempunyai wawasan yang sangat luas, hal ini tidak mengapa karena dia sudah
pasti punya banyak pengalaman dan kenangan pada sebuah kata yang memicu puisi
itu tercipta. Namun untuk penulis yang baru mengenal puisi, hal ini
mengkuatirkan karena puisi-puisi yang tercipta dari tangannya masih akan terasa
sebagai permen rasa sarsaparilla tadi.

Stimulan puisi pada
dasarnya mempunyai dua sisi, di mana sisi pertama menunjuk kepada produktivitas
kekaryaan, dan sisi kedua berkaitan dengan daya kreasi si penulisnya. Sekarang
dengan kemudahan teknologi ada banyak puisi tercipta setiap harinya, tapi
sedikit sekali yang benar-benar “puisi”. Puisi yang disebut terakhir adalah
puisi yang mampu meruangkan setiap imaji kata-kata ke dalam ruangan yang megah.
Sehingga ketika kita membacanya akan terpukau.

Dulu, ketika SMU saya,
berhubung saya memilih jurusan IPA, diperkenalkan dengan teori menggambar
perspektif. Hal ini menurut kurikulum dimaksudkan agar siswa kelas mempunyai
wawasan yang utuh dalam menyikapi segala persoalan. Perspektif adalah cara
pandang kita terhadap sebuah benda. Dari

sana

, kita bisa melogikakan sebuah ukuran juga.
Dalam pelajaran tersebut, saya mendapat pengetahuan bahwa sebuah benda biasanya
dilihat dari 4 matra (atas –bawah-depan-belakang) dan juga bisa dikembangkan
lagi menjadi 6 matra (atas-bawah-depan-belakang-sisi kanan-sisi kiri), 8 matra
bahkan 10 matra. Ini ternyata sama halnya dengan pelajaran beberapa waktu lalu
di dunia puisi mengenai Utuh dan Kompleks ala New Critic.

Setiap kata, bisa
dirujuk menjadi seperti benda. Kata sifat pun bila diberi kata sandang tertentu
bisa menjadi kata benda. Kata kerja pun demikian, diberi awalan saja dia bisa
berubah menjadi kata benda. Secara gampangnya di sini, saya ingin mengatakan
bahwa setiap kata adalah benda. Dan oleh karena itu, setiap kata bisa ditilik
dari berbagai matra. Nah, akhirnya saya mulai berkesimpulan bahwa seharusnya
“puisi” adalah ruangan yang megah bagi kata-kata itu sendiri. Di mana setiap
katanya mempunyai kedalaman, ketinggian, dan keluasaan.

Namun sejauh ini, saya
baru menemukan dua pandangan mengenai ruang dalam puisi itu sendiri.
Yang pertama adalah puisi sebagai ruang logika imaji kata. Pada
ruangan ini, imaji-imaji yang ada sepertinya harus memenuhi persyaratan logika
kita. Keutuhan dipandang sebagai hal pokok yang perlu diperhatikan.
Semisal pada sajak Pakcik Ahmad berikut :

Bertamu

bila kuketuk pintu
rumahmu
mengucapkan salam
dan menanyakan "apa
kabarmu ?"
masihkah kau sambut aku dengan
ungkapan
manismu
"aku baik-baik saja, Njing !"

lantas kau persilahkan
aku masuk
duduk di sofa terbarumu
mempersilahkanku
mencicipi sirup leci dinginmu,
dan bertanya :
"apakah
anak-anakmu masih mencari kenyang dari tempat sampahku
¿"

ketika jam bertik tok
tik tok sampai pinggang langit memerah
kau persilahkanku untuk
pulang
dan membawakan sebungkus oleh-oleh untuk
keluargaku
"hanya kotoran ini yang dapat kubawakan, semoga kalian
menikmatinya."

dalam perjalanan
pulang,
aku berdoa untuk kebaikanmu dan keinginanku untuk menjadi
kekasihmu 

*Sidoarjo 301107 – 15:55

Pada puisi ini, setiap
imaji kata disusun ke dalam ruangan puisi mengikuti logika. Ketika bertamu, maka
ada yang mengucap salam, menanyakan kabar, menyilakan duduk, memberi suguhan,
dan sebagainya. Masuk akal bukan?

Yang kedua adalah puisi
sebagai ruangan emosi. Pada ruangan ini, keutuhan imaji kata tidak lagi terlalu
diperhatikan. Yang dipentingkan ketika membacanya adalah emosi yang tercipta.
Perhatikan baik-baik puisi Millaty Syifa berikut :

Seumpama
Ada

Sepertinya ini
halusinasi. berhadapan
denganmu
. matamu yang
puisi 

Tiktaktiktaktiktak.
betapa detak jam itu
pasti, perlahan dan
wajar
tidak demikian jantungku.
kuharap kau tak
mendengar. 

Kursimu bergeser.
maju.
nafasmu hangat. wajahmu. wajahku.
ah, lagi,
matamu yang puisi 

Kriiiing… gumaman di
telepon genggam.
kursimu bergeser. mundur. 

Es meleleh. gelas
mengembun
. mataku

04Des07

Pada puisi tersebut,
sebenarnya banyak imaji yang secara logika “tidak seharusnya ada” di “ruangan”
itu. “Detak jam”, “kursi”, “telepon genggam”, “es”,
dan “gelas” sama sekali tidak berhubungan dengan “matamu yang
puisi
”. Walaupun puisi ini secara utuh belum berhasil menjadi ruangan yang
megah, karena tidak terekplorasinya kata yang “utama” yaitu mata, tetapi ini
puisi yang menggambarkan bahwa puisi adakalanya berada pada tataran ruang emosi.
Dengan membayangkan peristiwa-peristiwa itu menjadi nyata, maka pembaca akan
dapat turut merasakan emosi / perasaan si penulisnya. Ketika saya membaca puisi
ini, saya merasakan “rasa kecewa”, tapi mungkin bagi pembaca lain tak
sama.

Saya tidak mencoba
mengatakan bahwa ruangan satu dan lainnya itu berbeda satu sama lain. Tetapi ada
kecenderungan jika kita menemukan puisi yang menjadi ruang emosi, rata-rata di

sana

, logika
penyusunan imaji kata sudah tidak diperhatikan. Kata telah menjadi instalasi
penyusunan emosi. Ruang yang disebut pertama, juga tidak berarti tak ada emosi
yang diciptakan. Biasanya ruang logika kata malah kaya dengan permenungan makna
yang dalam. Ah, tapi ini semua bisa saja salah. Sebab saya masih baru memulai
menjelajah puisi. Dan sangat mungkin ada ruang-ruang lain dari puisi yang belum
saya eksplorasi. Mau bergabung?

Untukmu

Posted on December 13, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Puisi.

Kurangkaikan puisi dengan indah tapi terasa kelu untuk kuucap
Kutulis bait nada dengan penuh rasa tapi terasa berat untuk kunyanyikan

Engkaulah matahariku yang mampu menyinari duniaku yang gelap
Engkaulah bintangku yang akan selalu bersinar digelapnya malam

Kehadiranmu laksana embun yang menyejukkan kalbuku
Kehadiranmu laksana hujan ditengah hatiku yang gersang

Tutur katamu mampu meluluhkan kesombongan hatiku
Tatapan matamu mampu menenangkan hatiku yang galau

Tapi kini kuisi hari-hariku tanpa canda tawamu lagi
Tapi kini kuisi hari-hariku tanpa belaian lembutmu lagi

Hari-hari terasa hampa tanpa dirimu lagi
hari-hari terasa kelam tanpa senyummu

Semua karenamu dan hanya tentangmu yang kini takkan lagi mengisi hariku…
Meski berat akan kujalani hari-hari tanpa dirimu lagi…