SEGALANYA UNTUKMU

Posted on October 31, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Puisi.

Tatap mataku dan kau kan lihat
Betapa kau begitu berarti bagiku
Lihatlah dalam hatiku dan kau kan temukan
Apa yang selalu kau cari selama ini

Ada banyak cinta
Ku jatuh cinta
Tak ada lainnya
Hanya cinta suci ku simpan untukmu
Segalanya ku lakukan
Dan ku lakukan untukmu

Jangan kau tanya lagi
Tentang setiaku yang takkan pernah berbatas
Tak perlu kau pikirkan
Tentang hidupku
Ku bahagia bila kau bahagia

Ingatlah…
Cinta itu tuk membahagiakan
Cinta itu tuk menentramkan
Bila dengan cintaku kau bisa bahagia
Bila dengan cintaku kau bisa tentram
Ku kan berikan semua untukmu

Tak perlu merasa sungkan
Tak perlu merasa terbebani
Karena cintaku bukan tuk membebani
Dan aku ikhlaskan semua
Segalanya ku lakukan untukmu
Ikhlas ku rela asal kau bahagia

Betapa rapuh diriku

Posted on October 27, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Pemikiran.

Kerisauan dan kegelisahan hidup sepanjang hari senantiasa aku alami, mengingat betapa berat beban hidup ini. Ditengah kondisi ekonomi yang semakin tidak tentu, harga kebutuhan semakin membumbung tinggi dan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin hari semakin tak mampu aku cukupi. Mulai dari kebutuhan makan sehari-hari, fotocopy bahan perkuliahan, biaya rekening listrik, beban pulsa handphone, mencicil hutang-hutang, biaya sewa rumah sampai biaya SPP kuliahku setiap semester serasa semakin membebaniku.

Selama itu aku senantiasa mencoba untuk tegar sebisaku memenuhi semua yang menjadi kebutuhan dengan bekerja dan berbisnis sebisaku. Sementara hasil dari pekerjaanku samasekali tidak dapat dijadikan pengharapan, demikian juga dengan hasil bisnisku jauh dari cukup. Namun apa yang bisa aku lakukan, hanya menjalani semua dengan kesabaran dan kepasrahan. Memang benar, Alloh Ta’alaa telah mengatur semua kebutuhan umat-Nya, terbukti dengan penghasilan seadanya saya masih bisa makan, bisa mengisi bensin motor, membeli perlengkapan kuliah walaupun sebagian hutang harus saya tunda pembayarannya.

Hal seperti itu berlangsung begitu lama namun sepertinya bagiku yang aku terima masih kurang sehingga sifat lemah iman menggerogotiku, kesabaran yang tadinya aku coba pelihara semakin hari semakin surut, sikap pasrah yang ada dalam hatiku kala itu terkikis oleh kelemahanku. Dalam batin terbersit sebuah pembenaran : orang-orang yang tidak sholat dan jauh dari agama Alloh hidupnya senang-senang saja bahkan semakin bertambah kekayaannya. Mereka yang bergelimang maksiyat terlihat begitu nikmat menjalani hidup mereka, tanpa beban seakan semua yang mereka inginkan mudah mereka dapatkan. Mengapa aku yang menjalankan ibadah baik sholat, puasa, wirid dan selalu mengingat Alloh (menurut pengertianku karena Alloh Ta’alaa yang lebih tahu) selalu susah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Padahal aku tidak meminta agar kaya raya dan bergelimang harta, hanya tercukupi kebutuhan hidupku, tapi apa yang aku harapkan itu sangat susah didapatkan.

Akhirnya ibadah sholatku dari hari kehari semakin menurun kwalitasnya hingga pada suatu kesempatan samasekali tidak melakukan sholat. Namun apa yang terjadi bukan ketenangan dan kesuksesan yang aku dapatkan, kesusahan hidupku semakin bertambah dari hari ke hari. Hal itu tidak berlangsung lama, aku mulai menyadari kekeliruan jalan fikiran tentang orang-orang yang jauh dari ibadah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat menyayangiku, betapa tidak seandainya saja ketika aku tidak beribadah kepada Alloh jauh dari Alloh dan dengan kekuasaan-NYA, Alloh menjadikan hidupku secara materi duniawi terpenuhi dan aku terlena dan semakin terlena sampai akhir hidupku, akan jadi apa aku ketika menghadap Alloh Ta’alaa.

Aku menyadari semua terjadi bukan tanpa kendali dari Alloh, dengan kuasa-NYA Alloh ingin menunjukkan kepadaku betapa rapuh dan lemahnya manusia tanpa pertolongan Alloh. Keyakinanku semakin tebal tatkala membaca penggalan surat Al-Fatihah yang berbunyi “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”.
Yaa Alloh ternyata Engkau membuka tabir itu semakin jelas lewat arti dari penggalan surat Al-Fatihah tersebut : “Kepada-MU (Alloh) lah aku menyembah dan hanya kepada-MU (Alloh) lah aku memohon pertolongan”. Pencarianku berujung pada sebuah kenyataan yang tak terpungkiri bahwa Alloh Maha Penolong.

Alloh begitu indahnya menata hidupku sesuai dengan kehendak-NYA. Penghasilanku yang apabila dihitung secara matematis samasekali tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan hiduku. Namun Alloh mengaturnya begitu sempurna mulai tanpa diduga aku mendapatkan hasil lebih dari bisanya, dari pekerjaanku,orderan kaktus, komputer dan lain sebagainya yang semua itu tentu atas izin dan kehendak Alloh. Semua yang terjadi menjadikan aku sungguh sangat bersyukur, walau hidup boleh dikatakan cukup namun aku belajar untuk mensyukuri nikmat yang Alloh berikan, mengapa aku tidak menyadari bahwa nikmat dari Alloh aku dapatkan setiap saat dalam hidupku mulai dari bangun pagi, Alloh masih memberikan aku waktu untuk menghirup udara, menikmati hari dengan tubuh yang sehat, menyaksikan gedung S1 (Teknik Industri, tempatku kuliah) yang semakin kumal, mencermati pasaran Warnet Character tempatku bekerja yang semakin surut, menikmati hidangan walau seadanya dengan nikmat sementara orang lain walau bergelimang kemewahan namun tidak dapat menikmati karunia Alloh karena sakit yang parah. Tentu masih banyak lagi nikmat lain yang seandainya aku tuliskan tak cukup untuk aku paparkan hingga menjelang tidurku.

Benar adanya bahwa Alloh Ta’alaa berserta orang-orang yang sabar dan berserah diri, Alloh memudahkan segala urusan, kesulitan dan perkara-perkaraku. Tentu itu semua terjadi sesuai dengan kehendak dan rencana-NYA, aku samasekali tidak memiliki kemampuan untuk meminta penyelesaian sesuai dengan kemauanku sendiri. Penyelesaian segala urusanku ternyata begitu sempurna dari yang Maha Sempurna, semoga benar adanya Alloh meridhoiku. Tidak ada keraguan lagi bahwa hidup memang harus disyukuri apapun keadaan hidup kita itulah yang terbaik menurut Alloh, menjalaninya dengan kesabaran dan ketawakalan karena Alloh pasti menguji umat-NYA yang mengaku beriman kepada-NYA dengan segala bentuk ujian.

Liburan Jibril Ke Bumi

Posted on October 9, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Jibril mulai berteriak kelelahan, setelah tugasnya yang terakhir di
sebuah planet di galaksi yang jauh, dia ingin sejenak menengok jejak
terakhirnya di bumi 14 abad yang lalu. Tugas selanjutnya memang telah
menunggu, tapi dia meminta reses sejenak pada Tuhan untuk sekedar
beristirahat, dan waktu itu digunakannya untuk melihat planet sangat
kecil berwarna biru yang mengelilingi bintang berwarna kuning. Sedikit
ilmu yang telah disampaikannya kepada Muhammad ingin dilihatnya lagi,
sekedar bernostalgia. Jibril tersenyum-senyum sendiri, betapa aneh
perjalanan anak spiritualnya yang bernama Muhammad itu. Dia tidak bisa
membaca, karena itu bodoh sekali. Pertama kali Jibril mendatangi
Muhammad, Muhammad malah ketakutan. Tapi Jibril memaksa juga mengajari
pemuda bodoh tapi jujur itu beberapa kata untuk sedikit mengenalkannya
pada Sang Pencipta. Kedua kali Jibril datang, Muhammad tambah ketakutan
sampai dia sakit, istrinya yang jauh lebih tua dari Muhammad sendiri,
Khadijah,  sampai kebingungan, dan menenangkan Muhammad. Jibril sampai
geleng2 kepala, tidak tahukah pemuda ini bahwa dia akan diberi sedikit
pengetahuan tentang sang Khaliq.

                           

 

                           

Tapi
Muhammad cepat sekali belajar, dalam waktu singkat dia telah menjadi
manusia yang cukup dewasa, cukup untuk menyampaikan kepada manusia
lain, bahwa yang patut disembah hanyalah Tuhan. Tuhan yang tak
terbayangkan oleh mata biasa, tak teruraikan oleh kata, yang untuk
mengenal-Nya manusia hanya bisa meraba2.

                           

 

                           

Betapa
berat perjuangan Muhammad, Jibril sudah tak ragu lagi. Diludahi,
dilempari kotoran onta, dikejar2 seperti maling yang mau dibunuh,
biasalah itu untuk utusan Tuhan. Jibril sudah tak kaget lagi, anak
spiritual Jibril sebelumnya, Yesus,  malah mengalami nasib lebih parah,
sampai digantung di Golgota. Kebanyakan utusan2 itu mengalami nasib
yang hampir serupa, ditolak oleh kaumnya, dianggap gila, diusir,
beberapa dibunuh. Hanya sedikit sekali yang cukup berhasil, dalam arti
dalam masa hidupnya punya cukup banyak pengikut. Sidharta Gautama salah
satunya, anak spiritual yang satu ini memang cukup bandel dan mbalelo,
lebih suka mencari "enlightment" dengan caranya sendiri. Lebih suka
mencari bahagia tanpa Tuhan, buat apa jauh2 klo bisa mencari bahagia
kalau dalam dirinya sendiri saja sudah ada. Kadang Jibril jengkel sama
Sidharta, seperti kacang lupa kulitnya, tapi tidak apa2 lah pikir
Jibril waktu itu. Yang penting ajaran menuju kebaikannya banyak diikuti
orang.

                           

 

                           

Dari
kejauhan Jibril mulai melihat samar2 planet bumi, seperti kelereng biru
bercak2 putih yang berputar. Kangen…, kangen sekali, 14 abad bukan
waktu yang sebentar. Sudah terbayang di otaknya, anak2 kecil berlarian
bermain, nenek2 tersenyum sambil nyusur, sungai2 jernih tempat manusia
mandi, si kulit hitam dan si kulit putih berjalan beriringan, wanita2
bermata sipit bernyanyi, sungguh bumi yang berwarna-warni indah. Hmmmm
Jibril tersenyum2 sendiri seperti gila saja. Tak sabar ingin segera
sampai…………..

                           

 

                           

Sesampai
di bumi, Jibril beristirahat sejenak, di tengah padang pasir yang hanya
ditumbuhi beberapa pohon itu. Mengibas2 sayapnya dan mencoba sebentar
merebahkan diri. Bahagia sekali Jibril mendapat "short vacation",
bermiliar2 tahun sudah dia mengabdi sebagai Menteri Penerangan Semesta.
Akhirnya dia bisa sedikit bernafas lega.

                           

 

                           

"Allahu
Akbar, Allahu Akbar, …." sayup2 terdengar suara pujian kepada Tuhan
dari kejauhan. Jibril sedikit kaget, tapi dia senang sekali, misinya
berhasil. Manusia masih membesarkan Tuhan, riuh rendah memuji Tuhan.
Dia berdiri, dari kejauhan kelihatan beberapa puluh manusia bersorban
putih bersemangat sambil mengacungkan2 tongkat. Hebat..hebat..manusia
ini sangat mencintai Tuhan sehingga panas2 begini mau2nya arak2 an.
Jibril tersenyum bangga, setelah liburannnya selesai, dia akan bisa
dengan bangga memberikan laporan kepada Tuhan bahwa tugas yang telah
diberikan padanya sukses berat. Tuhan mah pasti sudah tahu, tapi kalau
Jibril yang lapor sendiri, tentu akan menaikkan konditenya Jibril
sebagai Menteri Penerangan Semesta yang bertanggung jawab dan sukses.

                           

 

                           

Semakin
lama semakin keras suara2 manusia itu, diam2 Jibril mengikuti mereka,
sebenarnya bukan diam2, karena memang manusia2 itu tak bisa melihat
Jibril, kalau Jibril menampakkan diripun belum tentu mereka kuat
melihatnya, Muhammad saja sering pingsan kalau melihatnya dalam wujud
asli. Teknologi yang dipunyai manusia pun belum bisa menjelajahi
dimensi yang didiami Jibril.

                           

 

                           

Sampailah
rombongan manusia itu di suatu kampung, rumah2 di kampung ini berbentuk
bulat2 terbuat dari kayu, ternyata rombongan itu mengetuk pintu rumah
yang pertama terlihat, seorang perempuan berkulit hitam menggendong
anaknya keluar, tiba2 terdengar suara dor…dor…dor….dor….

                           

Perempuan
itu langsung roboh, darah mengalir dari tubuhnya, bahkan seorang anak
kecil yang digendongnya pun berlumuran darah, ada lubang kecil di
kepalanya yang mengucurkan darah begitu deras. Jibril kaget setengah
mati, apa salah dan dosa ibu dan anak ini koq sampai dibunuh sedemikian
rupa, yang juga membuat Jibril kaget, ternyata tongkat itu
yang digunakan untuk membunuh, dan tidak perlu ditusukkan, Jibril tidak
tahu alat apa lagi itu yang digunakan manusia untuk membunuh. Ah..dia
ingat, bukankah dulu sudah ada tongkat seperti itu, digunakan oleh
orang2 Cina untuk pertunjukan kembang api dan akhirnya untuk senjata.

                           

 

                           

Rumah
demi rumah diobrak abrik, dan semua penghuninya dibunuh. Jibril shock
berat, mengapa orang2 berkulit putih yang berbahasa Arab ini membunuh
orang2 kulit hitam ini. Galau menggelayut dalam diri Jibril, setitik
airmata menunjukkan simpatinya, Jibril bergetar, dan akhirnya terbang
berkeliling. Tak jauh dari situ dia melihat kendaraan2 aneh berwarna
putih yang belum pernah dia lihat, mempunyai roda empat berwarna hitam
bertuliskan UN di sampingnya. Jibril penasaran terdampar di daerah
manakah dia, koq manusia begitu tega membunuh sesamanya. Darfur…, ya
daerah ini bernama Darfur, tertera di salah satu tenda yang didiami
oleh beberapa wanita dan anak2 berkulit hitam.

                           

 

                           

Jibril
semakin sedih, di sebelah sana terlihat beberapa wanita berebutan air,
dan di sebelah tenda seorang anak kurus menangis, mulutnya dikerubuti
lalat. Jibril kecewa, dia tidak mau liburannya rusak gara2 pemandangan
ini. Dia segera terbang setinggi2nya, mencoba mencari daerah lain yang
mungkin lebih indah dan damai.

                           

 

                           

Untuk
mengurangi sedihnya, Jibril bernyanyi lagu2 klasik Yunani, sayapnya
digesek2an sehingga bersuara menyerupai kithara, menyanyikan lagu2
moral yang dianjurkan oleh Plato dan Aristoteles. Melayang2 tak tentu
arah di angkasa, Jibril berusaha lepas dari pemandangan mengerikan yang
baru saja dilihatnya. Setelah dirasa agak tenang, Jibril segera
berpikir untuk melanjutkan perjalanan nostalgianya. Kali ini dia tidak
mau terdampar lagi di tempat yang salah. Setelah beberapa waktu
berpikir, akhirnya dia memilih Jerusalem sebagai persinggahan
selanjutnya.

                           

 

                           

Kota
yang indah itu, kota yang disucikan oleh tiga agama  besar, tempat
kelahiran Yesus, tempat istana besar Solomon (Sulaiman) pernah
dibangun, tempat dimana Muhammad pernah mengarahkan mukanya waktu
sembahyang. Jerusalem pastilah tenang dan damai, karena rahmat tiga
agama yang dibawanya. Tempat yang bagus untuk mengisi liburan singkat
Jibril di bumi.

                           

 

                           

Dari
angkasa, Jibril segera melesat ke bawah sedikit ke arah utara dari
tempatnya semula, utara…? ah Jibril tersenyum, arah..? arah ya arah,
khayalan manusia saja arah itu. Sama saja dengan batas, semesta ini tak
berbatas, semakin luas malah, mengembang ke segala arah. Atau juga
langit, mana ada langit, manusia memang ada2 saja. Tapi Jibril memang
maklum, sama Tuhan manusia memang dibikin tidak terlalu pinter, wong
sebodoh itu saja sudah keminter, apalagi kalau dibikin pinter. Walau
kadang2 Jibril juga sedikit protes, kenapa Tuhan menyembunyikan
identitas-Nya, memberi tahu manusia cuma setengah hati, celakanya
manusia sok tahu lagi.

                           

 

                           

Jibril
langsung menuju bukit Zion, dimana sudah berdiri Masjid indah berkubah
warna emas, Al-Aqsa. Ribuan tahun yg lalu, Haikal Sulaiman pun tak
kalah indahnya. Termangu di emperan masjid, Jibril melihat2 sekeliling.
Tenteram dan tenang, adzan berkumandang, menyambut mega kemerah2 an di
ufuk. Jibril menyempatkan diri untuk ikut sholat berjamaah dengan
manusia2 itu. Menyelam sejenak dalam keagungan-Nya.

                           

 

                           

Seusai
salam, Jibril segera terbang berkeliling, melihat dari sisi ke sisi,
perubahan demi perubahan sewarna peradaban, di sebuah kota yang menjadi
sumbu kepercayaan. Di pinggir kota, Jibril melihat beberapa pemuda
berlarian, sambil sesekali melemparkan batu, terdengar suara riuh, dari
seberangnya sebuah kendaraan besar dari besi dan beroda bergerigi
panjang berjalan pelan sambil sesekali memuntahkan suara2 mengerikan.
Beberapa pemuda tergeletak berlumuran darah, teriakan Allahu Akbar
bergema dimana2, kendaraan dari besi itu semakin dekat dengan rumah2,
beberapa manusia berpakaian hijau belang2 keluar dari kendaraan besi
itu dengan membawa tongkat yang sama dipergunakan oleh manusia di
Darfur. Tongkat2 itu diarahkan ke rumah2 di sepanjang jalan itu, Jibril
melihat beberapa jiwa memisahkan diri dari raga dan segera melayang2 di
sekitar rumah.

                           

 

                           

Tontonan
apa lagi ini, pikir Jibril. Belum lama dia melihat manusia berteriak2
Allahu Akbar membunuhi manusia lain, sekarang dia melihat manusia2
berteriak Allahu Akbar yang dibunuh. Jibril semakin bingung, terbang
melesat keluar kota, mencari tahu apa yang terjadi di kota yang
dianggap suci ini. Pemandangan di kota lain tidak lebih menyenangkan,
kendaraan2 besar merusakkan rumah2 dan wanita2 menangis, di sebelah
sana Jibril melihat tembok yang panjang berkelok2 dan di sisi2nya
dihiasi oleh kawat berduri. Jibril semakin tidak mengerti, ada apa
dengan manusia ini, bukankah setelah wahyu terakhir dibisikkannya ke
Muhammad, seharusnya manusia membangun jembatan, bukan tembok.
Membangun persatuan, bukan perpecahan.

                           

 

                           

Jibril
menangis lagi, kali ini tidak hanya setetes, deras seperti hujan musim
gugur, sesenggukan dia meratapi misinya, sayap2nya dikepakkan tanpa
ritme, menimbulkan badai gurun. Hari tiba2 menjadi gelap,
mendung2 bergulung membentuk rantai menakutkan, Jibril dipanggil Yang
Kuasa…

                           

 

                           

"Aku tidak akan kembali lagi ke bumi" sumpah Jibril dalam hati.

Kembalikan Senyumku (buku harian seorang anak jalanan)

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Ibu…,
kenapa kau begitu tega membuangku di tepi nasib. Apakah matahari memang
sengaja menghamburkan partikel2 nya untuk menghidupi tata surya..?,
ataukah matahari sudah kehabisan energi dan akan menjadi supernova..?.
Melangkah di trotoar2 dekil, di samping sky craper tempat manusia2
berdasi dan bermobil Mercy. Aku menangis…., akhirnya aku menangis
setelah sekian lama aku selalu sesumbar bahwa danau airmataku sudah
kering disedot oleh rahwana2 kehidupan. Aku sadar bahwa tangis
terakhirku adalah tangisku pada ibu, ketika aku tahu bahwa dia akan
pergi menemui-Nya, tetapi dia dengan lantang mengundang malaikat maut,
bercanda dengannya, untuk kemudian memeluknya. Sesudah itu aku berjanji
untuk tidak menangis, tapi kejadian kemarin waktu penggerebekan itu
benar2 menghancurkan benteng pertahananku.

                           

 

                           

Tak berapa lama setelah ibu pergi, seorang datang mengusirku. Tidak berhak lagi aku tinggal di kamar kontrakan 3 x 5
                           meter itu, karena ada orang lain yang bisa membayar dengan teratur dan punya pekerjaan tetap.

                           

======Senyumku telah berkurang satu.

                           

Akupun
menggelandang, dengan sedikit uang yang tersisa dan baju sekedarnya,
malam itu aku tidur di emperan toko. Dingin menusuk tulang, karena sang
hujan ternyata datang menjemput kekasihnya, bumi yang sudah mulai
retak. Aku harus tidur dengan pakaian basah, tidur….?, aku tidak bisa
bilang itu tidur, hanya merebahkan diri, karena pikiranku mengembara
menembus batas2 langit.

                           

 

                           

Pagi
datang dengan cepatnya, aku dikagetkan oleh laki2 dengan suara berat,
menendang punggungku menyuruhku untuk bangun. Badannya penuh tattoo,
bunga mawar di bahu sebelah kanan, Che Guevara di bahu sebelah kiri
(kurang ajar betul preman ini, menggunakan wajah pahlawan itu untuk
menghiasi tubuh setannya), ada tattoo wanita telanjang, dan tak tahu
lagi, semua saling bertumpuk membentuk pemandangan mengerikan.

                           

"Heh, bocah, baru ya..?"

                           

aku diam saja, ketakutan. Aku pun tak tahu maksud pertanyaannya.

                           

"Bangsat, kenapa kau diam saja, bisu…?"

                           

"Tidak..Om"

                           

"Kau baru jadi gelandangan di sini…?"

                           

Aku mengangguk.

                           

"Tanah Abang adalah wilayah kekuasaanku, kau jangan macam2 di sini, sini tasmu..!!!!"

                           

Preman itu merampas tasku, aku tak bisa melawannya, dia terlalu kuat. Digeledahnya semua isi tasku, dan uang beberapa
                           puluh ribu pun diambilnya. Setelah selesai melakukan razia tasku, dilemparnya tas itu ke mukaku.

                           

==========Senyum berikutnya terambil seorang bajingan

                           

Kulangkahkan
kakiku kemana dia mengajak, sampai terasa perutku meronta minta diisi,
jam 1 siang kulihat. Tuntutan lambungku ternyata tak bisa ditawar2
lagi, kulihat ada masjid di ujung jalan. Segera aku menuju ke masjid
itu, sholat akan mengurangi letih dan lapar pikirku. Segera kuminum air
jernih itu sepuas2nya, dan aku berwudhu. Sungguh sejuk kurasakan,
kuresapi benar2 doaku..

                           

"Tuhan segala yg hidup, jadikanlah aku termasuk orang2 yang bertaubat dan orang2 yang bersuci"

                           

Terbentang sebentar kenangan2 masa lalu, aku begitu bahagia bersama ibu, walau ayah telah tiada, tapi ibu telah bisa
                           bertindak sebagai ibu dan ayah bagiku. Bertarung melawan ganasnya kehidupan dengan lembut dan elegan.

                           

Rumah Tuhan yang mewah ini sejuk, karena di pojok2nya berputar baling2 kipas angin. Kuangkat kedua tanganku

                           

"Allaahu Akbar" aku pun asyik mahsyuk menelusuri kebesaran-Nya. Jiwaku bergetar, ketika aku berjanji "Sesungguhnya sholatku,
                           ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untukmu wahai Tuhan seru sekalian alam"

                           

Janji
dahsyat yang telah diucapkan miliaran kali tiap hari oleh manusia,
tetapi sedikit sekali yang bisa mewujudkannya. Akupun tidak, Oh Tuhan
dosa apa yang harus kami tanggung, berjanji padamu tiap hari, tetapi
selalu mengingkari. Ingkar janji dengan Sang Khalik.., aku tak tahu
lagi apakah itu pantas untuk seorang makhluk.

                           

Tak terasa lama sekali aku berdiri menghadap-Nya, tiba2 dari belakang tangan besar menarikku, akupun terseret2 tak karuan….

                           

"Gelandangan, kalau mau berteduh jangan di masjid, ini untuk sholat, lihat pakaianmu yang dekil itu, tidak pantas itu
                           untuk menghadap Tuhan. Tuhan itu Rabul Jalaal, Maha Indah, hanya menerima yang indah"

                           

"Saya sedang sholat Pak"

                           

"Sudah, kamu jangan alasan, mana ada anak jalanan sholat, kamu pergi sana…!!!!"

                           

Aku
didorong pergi oleh orang berjubah putih dan berpeci itu. Pikiranku
memberontak, seberapa picik pikiran manusia mengartikan keindahan
Tuhan. Keindahan versi manusia pun dipaksakan menjadi keindahan Tuhan.
Aku baru merasakan kebenaran ucapan guru ngajiku, bahwa masjid yang
abadi itu ada dalam hatimu. Sujud yang terbaik itu harus terpendam
dalam dadamu. Rumah Tuhan bukanlah tembok, tapi jiwa.

                           

====senyumku dirampas lagi oleh setan berbaju kebaikan

                           

Hari pun cepat menjemput senja, tuk kemudian menyerahkan estafet kepada malam.  Hari pertamaku sebagai seorang gelandangan.

                           

 

                           

Aku
sudah mulai menemukan irama hidup, aku bekerja sebagai tukang semir
sepatu, kalau sempat aku pun menawarkan jasa membersihkan mobil kepada
orang2 yang aku semir sepatunya. Aku masih mencoba tabah menghadapi
hidup, mencoba tersenyum walaupun getir, mencoba bahagia walaupun
sengsara.

                           

Hingga
malam petaka itu datang, kami digerebek. Semua dimasukkan ke truk dan
kami dibawa ke suatu tempat yang kami tidak ketahui, hanya yang pasti
di luar kota. Operasi gabungan antara Tramtib dan Tentara itu mendadak
sekali, sehingga kami pun tak sempat menyelamatkan sedikit barang2 yang
kami simpan selama ini.

                           

Barang2
kami semua diangkut, yang berharga diambili, yang tidak dibuang entah
kemana. Kami diinterogasi seperti residivis yang berlumuran darah baru
membunuh korbannya, dipukul, ditendang, dan yang lebih menyakitkan
beberapa di antara kami disodomi dan beberapa yang cewek diperkosa. Dan
satu diantaranya adalah aku, Oh Tuhan kenapa perbuatan terkutuk itu
terjadi padaku. Apakah Sodom dan Gomora tidak cukup Kau hancurkan..?

                           

Duniaku hancur, tinggal bayang2 gelap, setan demi setan, rahwana demi rahwana, Dewa Perang Ares telah turun lagi ke bumi,
                           dan merenggut senyum terakhirku.

Selamat jalan Aisha

Posted on October 2, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Wajah tirus Aish dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung, dulu jenaka yang menyimpan banya keceriaan dan keoptimistisan, kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang ingin diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam tangannya.

"Ada apa, Ish..?"

Suara tilawah Al Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Aish.

"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan suara parau.

Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Aish. Di tiap-tiap malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur waktu untuk Aish sampai beberapa waktu saja. Mulut Aish bergerak-gerak, kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang diungkapkannya.

"Asy..ha..du alla…"

Tiba-tiba aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia seperti mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian. Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu. Kulakukan ini karena pesan terakhir Aish, jika "saatnya" tiba ia tidak mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash, begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum genap satu tahun usianya, kepadaku.

"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Aish."

Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.

"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.

Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata,

"Mudah-mudahan anak bapak diberi kemudahan oleh Allah.."

Perlahan-lahan, Aria membantu Aish membacakan syahadah di telinga Aish. Kemudian mulut Aish bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.

"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur karena terhalang airmata. Aku menatap wajah Aish yang sedang bertarung melepas nyawa.

Nafas Aish satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya nafas Aish pun terhenti…

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…"

*****

Aisha, adikku, Aish begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku. Tapi Aish, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah terka. Mereka mengira Aish, cowok, jika melihatnya sepintas dari belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku mengajak Aish hadir ke Baksos Mesjid kampus.

Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku,

"Wah kemajuan nih, Adelina…Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."

Mendengar itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Aish.

"Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Aish berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi.

Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis yang tak kalah galak dari kakaknya.

Itulah Aisha. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan mengira dia akan memakai jilbab. Aish menikah di usia muda, bahkan mempunyai anak.

Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Aisha. Karena pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Surabaya, aku dan Aish menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar kami kemana-mana. Aish memaksaku, agar tak ikut-ikutan pilih universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.

Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar tugas arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan kebiasaan merokonya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Quran bersama di rumah. Alhamdulillah, pada saat itu aku berhasil masuk FE UGM, sehingga tak perlu meninggalkan rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin imbas yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam. Aku mulai mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan, Alhamdulillah, aku menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti di kampus.

Namun yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Aish sama sekali. Aish tetap saja tomboy, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun demikian, Aish adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy dan sikapnya yang manja di rumah Aish adalah juara kelas di sekolahnya, dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.

Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat rangking ketiga di kelasnya. Aish menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga sifat Aish yang membanggakan, Aish cepat bangkit dari keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu we are the champion, Aish membangunkan semangatnya sendiri, dan dia bisa ceria lagi keesokan harinya.

Hingga pada suatu hari, Aish menemukan hidayah itu… Di balik kegagahan dan ketomboyannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Aish ke kegiatan baksos di kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Aish masih tetap dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas untuk kaum tak punya. Aish memang punya banyak baju yang sudah tak dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah laki-laki.

Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.

"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Aish

"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang SMP juga pakai jilbab.". Terangku

"Oooo.."Aish membundarkan mulutnya.

Baksos belum mulai ketika aku dan Aish tiba di depan mesjid kampus. Karena masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok Siyem seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.

"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.

Ijah, bocah kecil kelas dua SMP itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.

"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.

"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, pasti Allah akan memberikan lebih. Dan ternyata benar…" Katanya terisak, mengusap ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah pemberianku setahun lalu.

Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem meninggal dunia..

Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Aish. Sejak hari itu, Aish segera memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu siapa yang sangka Aish menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang senang basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu dia memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya. Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Aish melepas semua poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu. Walau aku tahu, Aish menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Aish, esok selalu disambutnya dengan penuh semangat menantang dan keoptimisan.

Dan perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering membuat aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Aish 4 tahun lalu…Papa marah, Mama kesal, karena Aish dianggap mendahului aku dan Mas Ardi. Apalagi Aish masih 19 tahun dan masih tingkat dua…! Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela didahului, akhirnya Aish melangsungkan pernikahannya.

Aish, kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika Allah menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Aish atau tidak, bahwa sakit-sakit tulang yang sering Aish keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami yang luar biasa, karena mengetahui Aish tak akan lama bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.

Sehingga akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur penyakit Aish. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Aish ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira yang timingnya buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan anak adalah hal yang tak mungkin bagi Aish, karena akan memperlemah kondisi Aish. Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Aish. Bahkan ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan mempertaruhkan nyawanya. Aish bersikeras untuk hamil dan melahirkan.

"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Aish, tapi bantu Aish dengan doa, agar Aish diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jika harus meninggal pun, Aish meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi Ma, Pa, Aish ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."

Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan Aish memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan Aish, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama memakai jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku pun menikah ketika Aish sedang rawat intensif di rumah sakit. Aish selalu berkata, ingin melihatku
menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.

Dan Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Aish dapat melahirkan Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Aish menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu dibuat cemas akan keselamatan Aish sendiri.

Ya, dua tahun Aish berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,

"Allah sayang kepada aish, ya, Mbak…Sehingga Allah memberi batas waktu
yang jelas untuk Aish beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia…"

Ah, Aish sayang….

**************

Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat isyarat lambaian tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya.

"Insya Allah Hani syahidah, De…Karena Aish begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya."Hiburnya. Aku mengangguk.

Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.

"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak… Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat nasehat dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh sampai dia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Aish menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.
"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak…?" Aish tersenyum.

"Mas Aria harus mencari pengganti Aish untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Aish terus, dan melupakan hal yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu,

"Mbak…, aku ingin Umar mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga. Perhatian seperti Mas Ardi, tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik dan jenaka seperti ibunya…"

"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli…

"Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya.."tawanya jenaka.

Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Aish tak pernah menampakkan keputus asaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya…Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.

Selamat jalan the champion…, Selamat jalan Aisha

CnN

Posted on October 1, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Uncategorized.

Free Image Hosting at ImageShack.us