Teruntuk Pada Mu

Posted on September 30, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Ketika suatu sore yang tenang dan hembusan angin menambah suasana sore yang larut dalam pikiran seorang bapak tua. Ditolehkan kepala kesebelah kiri, penuh dengan pikiran yang ingatkan bapak itu pada kehidupan yang sekarang, sendiri sepi bagaikan hidup dengan orang-orang asing ditengah gurun padang pasir yang tandus. Mementingkan pertahanan hidup demi kelangsungan hidup yang tidak akan lama lagi. Air pun jauh darinya bagaikan patamorgana yang dilihat, seakan dekat melambai-lambai didepan mata. Kemudian bapak tua itu menoleh kekanan seakan ia melihat betapa masa mudanya penuh dengan canda dan tawa dari para-para sahabat yang selalu setia menemani. Tersenyum bagaikan bulan yang kelihatan pada hari yang ke sepuluh, girang bagaikan seekor anak burung yang baru bisa terbang. Pikiran itu mempengaruhi bapak tua itu, seperti ibu mempengaruhi anak diwaktu pagi, memberikan semangat dan motivasi pada waktu berangkat sekolah, mempengaruhi sarapan apa yang harus disantap oleh sang anak diwaktu pagi, mempengaruhi pakaian apa yang harus dipakai oleh anak ketika akan berangkat kesekolah. Dalam pengaruh itu, bapak tua memejamkan mata untuk mengingat masa mudanya itu.

Berkisah pada suatu hari, dimana semua orang bahagia dengan hasil yang dicapai dengan kerja keras sendiri.

”Sahabat-sahabatku apakah kalian berhasil dalam pertarungan sementara ini?”

Kinanti menjawab, aku berhasil dalam pertarungan ini dengan sedikit ragu akan masa depanku yang tidak tahu ujung pangkalnya.”

Adha pun memotong perkataan dari kinanti, ”ya tergantung pada usaha kita yang akan kita capai.”

Lalu anggukan yang sama dan irama yang sama keluar dari mulut Rianti, Oliv, Raini, Mice dan Nengsi dengan kata ”ya”.

”Tapi tanpa dukungan dari orang tua kita tidak akan dapat berbuat apa-apa” spontan keluar dari mulut Rianti.

Dan pada saat itu suasana menjadi hening, dan semuanya memeluk Rianti. Bapak tua itu sempat terbangun karena teriakan dari suara tukang sampah yang meminta tagihan tiap bulannya. Lalu bapak tua itu mengambil tongkat disebelah kanannya seraya berkata,

”ya tunggu sebentar”.

Lalu bapak tua itu mengambil uang yang tersimpan didalam suatu kotak yang diletakan didalam lemari pakaian. Setelah mengambil kotak itu, bapak tua itu melihat sehelai surat yang telah pudar dimakan waktu. Namun kenangan itu tidak mungkin dilepaskan begitu saja.

”Bapak, bapak”,

Suara itu terdengar oleh bapak tua itu dari teras rumah. Kemudian bapak tua itu melipat kembali surat yang yang telah rapuh itu dan memasukkan kedalam saku dan menuju ketukang sampah itu yang telah lama menunggu.

”Maaf nak bapak telah lama megambil uangnya dan membuat anak menunggu”.

Tukang sampah iu menjawab.

”ya tidak apa-apa pak”.

Lalu tukang sampah melanjutkan kerumah berikutnya. Dan bapak tua itu kembali ketempat duduk yang semula.

Kembali bapak itu mengingat-ingat masa yang tak pernah ia lupakan kemudian bapak tua itu kembali memejamkan mata sambil mengingat akhir dari lamunan yang sempat terganggu oleh tukang sampah. Setelah itu Kinanti, Rianti, Adha, Mice, Raini, Oliv, dan Nengsi mulai mebicarakan tentang masa depan mereka. Kinanti yang duluan ugkapkan tentang keinginannya yang ingin menjadi seorang duta besar diluar negri. Lalu Adha ingin menjadi seorang guru, yang beground dari keluarganya guru, yang ingin meningkatkan pendidikan di Indonesia ini. Mice ingin menjadi seorang hafiz al-qur’an agar bisa mengajarkan semua anak indonesia tentang agama yang diridhai oleh Allah swt. Raini ingin menjadi seorang yang ahli dalam pertambangan karena mengingat sumber daya alam Indonesia yang begitu besar. Oliv ingin menjadi seorang pramugari yang terbaik diantara pramugari yang lain. Nengsi ingin menjadi seorang dokter yang bisa menolong orang dengan tanpa pamrih. Sedangkan Rianti berkeinginan ingin menjadi seorang pengacara yang mengurus tentang kekerasan dalam rumah tangga. Setelah semua mengungkapkan satu persatu pendapat riantilah yang menjadi perhatian dari teman-temannya. Mendengar itu semua, Zuardi seorang guru matematika disekolah itu bertanya.

”Rianti kenapa Rianti ingin bercita-cita seperti itu?”

Mendengar suara itu rianti dan teman-temannya memalingkan kepala kepada arah suara itu, ternyata bapak zuardi telah berada tepat dibelakang Rianti.

”Maaf kalau bapak mengganggu pecakapan kalian”.

”Tidak kok pak”, Jawab Rianti sendu.

”Bolehkah bapak ikut dalam pembicaraan kalian?”

Semua menjawab secara bersamaan ”boleh pak”.

”Ohya Rianti, kenapa Rianti ingin mengambil dan bercita-cita seperti itu?”

Rianti menjawab, ”karena kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin memberantas itu semua”.

”Bagus nak”, secara spontan bapak zuardi mengeluarkan kata-kata itu.

”Kalo yang lain apakah cita-citanya sama dengan Rianti?”

”Tidak pak, Mice menjawab.

Lalu satu persatu memaparkan semuanya. Tidak terasa diskusi yang memberikan sedikit pengetahuan itu membawakan seorang bapak dan siswanya ke sore hari. Dan merekapun pulang kerumahnya masing.

Adha sesampai dirumah disambut oleh bapaknya dengan penuh kasih sayang. Kinanti sampai dirumah diantarkan pada hidangan yang sederhana yang ditunjukan dengan kebahagiaan. Begitu juga dengan Mice, Raini, Oliv, dan Ningsi.

Tetapi hal yang berbeda dirasakan oleh Rianti. Sesampai dirumah Rianti mendapatkan keluarganya sedang berantakan. Dilihat adiknya sedang menangis diteras rumah, diteruskan langkahnya dilihat dipojok sebelah kiri kakak dengan raut wajah yang sedih dengan tetesan air mata yang tidak keluar lagi. Lalu Rianti terus masuk kedalam dan mendapati orang tuanya sedang bertengkar hebat. Sampai-sampai pertengkaran itu mengakibatkan ibunya berdarah dikepala.

Melihat kejadian itu semua, Rianti langsung berlari ke kamar dan melemparkan tanda kelulusannya kearah tempat tidur. Setelah itu Rianti mengambil sejumlah uang yang ditabungnya di laci meja belajarnya. Kemudian Rianti pergi menemui adik dan kakaknya seraya berkata,

”kakak tolong jaga adik baik-baik ya, dan buat adik jangan pernah nakal”,sambil menghapus air mata kakaknya.

”Rianti sekarang mau kemana?” Tanya kakaknya,

”sekarang aku mau menghirup udara yang bebas, bebas dari seluruh aktifitas yang melelahkan. Semua orang pasti akan mengimpikan hal yang seperti ini, lalu Rianti pergi”.

Seperginya Rianti, kakak dan adiknya pergi kedalam kamar yang telah ditinggalkan. Disana terlihat kamar yang rapi, dengan susunan dua buah bantal mengarah keselatan, diselatan terlihat tulisan ”saya akan sukses” disebelah timur terlihat tas sekolah yang terletak diatas meja belajar. Diatas tempat tidur ada sehelai kertas, lalu sang kakak membaca kertas itu. Ternyata kertas itu memberitahukan tentang kelulusan Rianti, sayang surat itu tidak sampai ketangan ibunya sendiri, dan kandas ditengah pertengkaran yang hebat.

Setelah itu sang kakak memberikan sehelai kertas itu pada ibunya, lalu ibunya berkata ”haruskah cita-citamu kandas ditengah-tengah pertengkaran ini”. Ibunya menatap dengan sedih surat kelulusan itu.

Setelah beberapa hari, Rianti meninggalkan rumah. Datanglah perasaan cemas dari seorang ibu yang menanti anaknya kembali. Kemudian ibu Rianti mencari kerumah teman-temannya tetapi yang didapatkan hanya jawaban kosong yang dibawa pulang.

Ke esokan harinya, keluarlah dimedia masa tentang kecelakaan salah satu alat transportasi tujuan jakarta. Konon kabarnya dalam kecelakaan itu, nama Rianti adalah salah satu korban dari kecelakaan tersebut. Tanpa pikir panjang seorang ibu berlari keluar rumah tanpa memakai sendal untuk memastikan keadaan anaknya itu. Setelah sampai dipapan informasi telah diurut satu persatu nama-nama korban kecalakan itu. Dengan perasaan yang gundah akhirnya sampai pada urutan terakhir barulah nama Rianti ditemukan. Hanya sebuah nama yang masih tergores didalam hati seorang ibu, yang dicampur baurkan antara kegalauan hati dengan kehilangan. Betapa sedih yang dirasakan oleh ibu Rianti, namun kesedihan itu dapat dibendung dengan air mata. Namun luka tidaklah dapat dibendung dengan air mata, luka dibendung dengan kehadiran kembali kebahagiaan yang pernah dilalui dengan bersama.

Melihat seorang ibu yang menangis datanglah seorang perawat memberikankan sepucuk surat dan selebar foto yang ditemukan disaku baju Rianti yang ditujukan kepada bapak Zuardi.

”kadang ku merasa bangga disetiap helaan nafas ku masih ada yang peduli terhadap seutas harapan yang masih ada diantara sela jerih payah untuk menuntaskan amanah yang diberikan oleh orang yang menaruh harap pada ku. Kadang ku merasa sedih setiap nafas yang ku hembuskan tidak dapat ku jalani untuk melaksanakan amanah yang diberikan dipundak-pundak yang menaruh beban. Saat sedih terasa tertumpuklah harapan kegembiraan dari batin yang terasa saat perjalanan pulang. Palingku hanya berdo’a pada yang kuasa agar orang-orang yang berusaha dan berdo’a tidak menolak untuk panggilan pulang.”

Setelah satu minggu barulah surat itu sampai pada bapak Zuardi. Setelah bapak Zuardi membaca surat itu tiada yang dapat ia lakukan kecuali memperbaiki diri dan menyadari tanggung jawab seorang guru bukan berarti menyampaikan materi kepada siswa. Tapi banyak hal lain yang harus diperhatikan pada diri siswa mulai evaluasi belajar sampai dengan prilaku siswa sehari-hari.

Dalam renungan bapak tua itu menangis, dan teringat diambilnya surat yang ada didalam saku terus dibaca sambil mengingat seorang yang telah memberi pelajaran pada dirinya sewaktu ia masih muda dan mampu menunjukan pengaruhnya pada setiap orang. Sekarang dengan usia yang seperti ini ia hanya bisa mengenang dan menulis apa yang ada pada masa lalunya.

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>