Biarkan Aku Mencair

Posted on September 30, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Love is an enigma.

Sebuah labirin dengan banyak pintu dan kelokan. Kita tidak akan pernah tahu di pintu yang mana serta di kelokan yang sebelah mana kita akan menemukannya. Sebab semua pintu dan kelokan itu penuh dengan kejutan yang bahkan mungkin malah menyeret kita menjauh darinya.

Mengapa aku berkata demikian? Pikir lelaki berkacamata itu.

Aku bahkan tak pernah tahu mengapa aku berkata demikian. Sekarang, untuk saat ini, yang aku tahu hanyalah perasaanku. Aku jatuh cinta. Ya… jatuh cinta pada gadis berkerudung ungu yang kini duduk di hadapanku. Dia kekasihku, dia seharusnya milikku sebab aku telah memproklamasikan perasaanku kepadanya, juga kepada dunia agar jangan ada yang berani-berani melakukan invasi terhadapnya, dan ia menerimanya. Tetapi entah kenapa sepertinya ia tak pernah kumiliki…

“Mengapa kamu mengajak aku makan di tempat ini?” tanya lelaki berkacamata itu.

Gadis berkerudung ungu diam saja. Ia langsung duduk tanpa menjawab pertanyaan itu.

*****

Gadis berkerudung ungu mencoba untuk mengais-ngais ingatannya, ia berusaha mengenali setiap jejak yang ditinggalkan oleh masa lalu untuknya. Matanya berpendar dengan liar menelusuri dinding Café Remaja itu.

“Mau pesan apa, Mbak, Mas?” suara pelayan itu mengembalikannya pada kenyataan. Sebentar ia melihat kepada lelaki berkacamata yang ada di hadapannya.

“Pangsit Mie Ayam”

“Minumnya?”

“Es Jeruk.”

“Masnya?”

“OK. Pangsit Mie Ayam dua, Es Jeruk dua.” Jawab lelaki berkacamata itu.

Setelah pesanan dicatat, pelayan itu segera meninggalkan mereka berdua. Dan dengan segera pula, gadis berkerudung ungu kembali tenggelam dalam lamunannya.

Sudah berubah. Tidak adakah yang tersisa, pikirnya. Dinding-dinding ini telah berganti warna. Warna oranye dengan border hijau yang dulu menjadi background dari graffiti yang bertuliskan namanya dan kekasihnya telah berganti menjadi warna menjadi hijau dengan border abu-abu. Lapisan cat yang baru telah menyapunya.

Tidak bisa. Tidak boleh begini. Ini tidak adil. Teriaknya dalam hati. Seperti orang buta yang mengenali huruf Braile dengan merabanya, kini jemarinya juga ia gunakan untuk menganalisis adanya fosil-fosil yang masih tertinggal di sana. Tetapi sayang sekali fosil-fosil itu telah tamat, fosil-fosil itu telah mengalami korosi akut oleh amplas tukang cat. Mereka –tukang cat itu- telah mengeksplorasinya dari permukaan dinding.

“Kamu baik-baik saja?” Tanya lelaki berkacamata ketika pesanan mereka datang.

Gadis berkerudung ungu merasa kesal. Aneka perasaan berkecamuk di dadanya tetapi dia tidak ingin mengecewakan lelaki berkacamata. “Ya.” Gadis berkerudung ungu menjawabnya singkat.

Mengapa kau seperti angin yang membawa pergi semua kesadaran dan cintaku? Gadis berkerudung ungu mulai bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa tak kausisakan sedikit saja bagi lelaki yang sedang duduk di hadapanku ini? Mengapa… mengapa kau selalu membuatku berdesir dalam pesonamu? Anginmu menyapu bersih semua perasaan. Kini kau biarkan diriku gamang, menggantung, dan berjalan tanpa kepastian. Ah… mengapa nasibku selalu malang?

“…” Lelaki berkacamata itu tidak berkata walaupun sejujurnya ia ingin berteriak.

Ijinkan aku karam bersamamu, duhai gadis berkerudug ungu, pinta lelaki berkacamata itu tulus, meskipun tak sebersit cinta yang kaumiliki. Karena aku yakin sepenggal cintaku saja mampu memberi kita nafas dan kehidupan di kedalaman samudramu itu.

Seandainya uang dapat membeli dirimu, atau setidaknya membeli rantai yang dapat membelenggu kaki-kaki jiwamu, akan kubeli dan kubayar berapapun harganya.

Berapa… berapa harga masa lalu itu? Perlukah jiwa ini untuk membayarnya. Lelaki berkacamata itu tampak sangat putus asa.

“Kekasihku… Gadis berderudung unggu…” Kata itu meluncur keluar, sangat pelan, dari mulut lelaki berkacamata.

Tetapi gadis berkerudung ungu tidak mendengarnya, ia tengah terbang dengan angannya.

Kekasihku, kau adalah hembusan angin malam yang menyejukkan hariku, tetapi kau juga adalah tornado yang memporak-porandakan pertahananku. Gadis berkerudung ungu mengingat masa lalunya.

Kekasihku, tidakkah kau ingat kita mengukirkan nama kita di tembok ini sebagai janji persahabatan kita. Tetapi… kalimat perkenalanmu… pandangan matamu… aroma tubuhmu… dan kedewasaanmu… telah menyebabkanku sulit untuk menerima dirimu sebagai seorang sahabat. Apakah aku salah? Apakah hal ini bisa dikategorikan sebagai suatu kesalahan ketika aku menyatakan bahwa aku mencintai dirimu?

Aku serupa arkeolog yang mencoba menggembalikan kejayaan masa lalu dengan jalan memerangkap vista-vistanya. Rintih gadis berkerudung ungu.

Pangsit Mie Ayam di hadapan mereka sudah dingin dan mengembang. Begitu pula yang terjadi dengan Es Jeruk mereka, minuman itu tengah mencair dan luber membasahi meja. Tetapi sampai saat semua itu terjadi, tidak ada kata yang mencair dari bibir-bibir mereka. Semuanya membeku di suatu waktu.

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>