You are reading Belum ada Judul. You can leave a comment on this post.
Newer »« OlderYou are reading Belum ada Judul. You can leave a comment on this post.
Newer »« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | Oct » | |||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
Kubuka jendela kamar dan kuhirup udara pagi sedalam-dalamnya. Segar. Akhirnya sampai juga pada hari ini, hari yang sangat ditunggu. Tau gak, kenapa? Yup, ini adalah hari pertama aku masuk kuliah, euy. Gak kebayang bangganya, akhirnya almamater kuning yang udah aku impikan sejak dulu kini sudah tergantung di pintu kamarku. Mandi, shalat shubuh, sarapan, en go!
“Ma, Maya berangkat, Assalamu’alaikum…” kucium tangan wanita yang sangat kucintai itu, berharap do’a demi keselamatan perjalanan nanda. Sepanjang jalan tak lupa senyumku yang termanis kusebar ke seluruh penjuru alam, menyapa para tetangga ibu-ibu warung, sampai abang penjual sayur.
***
“Oke, saudara-saudara. Kuliah hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa tugas minggu depan.”.
“Huahh… capek banget!” kepalaku langsung terkulai saat dosen baru saja keluar ruangan. “Sabar, May. Namanya juga perjuangan. Semangat dong, tugas-tugas ini masih tergolong sedikit dibandingin tugas dakwah yang amat besar dan panjang. Kalo tugas dakwah kamu semangat, harusnya tugas kuliah juga musti semangat. Ok, girl, keep spirit for fighting!” Sari, rekan kelasku sekaligus rekan musholla memberi semangat dengan berapi-api.
Ada apa denganku? Tak biasanya aku begini. Akhir-akhir ini semangat belajarku down banget. Di kelas lebih banyak bengong, pikiranku jauh melanglang buana ke negeri Antah Berantah. Huahhh… aku merindukan dinamika.
***
“Assalamu’alaikum… Teh, Maya pengen curhat.” Aku langsung menubruk seorang akhwat di depanku, memeluknya dari samping. “Wa’alaikumussalam… ada apa, Dek?” tatapan lembutnya sedikit menenangkanku. Mengalirlah sederet ‘penderitaanku’ selama ini, tentang kuliah yang membosankan, tentang tugas-tugas, tentang praktikum, tentang tugas dakwah kampus yang banyak diserahin kepadaku, tentang… segalanya.
“Adik Kecilku Sayang, itulah dunia kampus, yang mungkin agak berbeda dengan dunia sekolah dulu. Makanya, harus ada sedikit persiapan. Jangan menganggap enteng setiap tugas, tapi juga jangan menganggap berat. Anggap biasa saja, seimbang. Ingat niat Adek waktu pertama ikut SPMB. Luruskan niat dulu, Dek, mungkin sudah sedikit melenceng. Adek pengen belajar di sini, ikhlas sebagai pengabdian kepada Allah, bukan mencari gelar atau unjuk kebolehan. Adek banyak-banyak muhasabah lagi sekalian refreshing. Ikhlashshunniyah, ya, Dek. Teteh yakin, Adek bisa bangkit kembali.”
“Teh, Adek udah down banget. Adek gak tau musti ngapain. Adek bingung…”
“Terkadang, down itu berguna bagi kita, asal jangan keterusan. Ibarat sebuah mesin gergaji listrik. Dia bisa dengan kuat menumbangkan pohon-pohon besar. Tapi tidak bisa terus-menerus. Mesin itu harus istirahat untuk memulihkan tenaganya, untuk mengasah mata pisaunya yang mulai terkikis. Setelah itu dia bisa bekerja kembali. Seperti itulah, Dek. Asal jangan lupakan ibadah. Saat futur, yang kita perlukan adalah evaluasi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Ibadah sunnah diperbanyak. Adek juga jangan takut, Adek tidak sendirian di sini. Adek masih punya banyak saudara di sini. Kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan, jangan ragu untuk disampaikan.”
“Jangan lupa satu lagi, Dek. Curhatlah sama Allah, berkhalwat berdua dengan-Nya, tumpahkan segala luapan hatimu. Insya Allah, Adek akan merasa segar kembali. Oke, Teteh menunggu Adek Teteh yang penuh semangat dan ceria selalu. Teteh ada kuliah lagi, Teteh tinggal dulu, ya. Assalamu’alaikum…”
Untaian mutiara mengalir dari bibir Tetehku tersayang, kakak tingkatku di kampus. Aku merasakan sedikit pencerahan. Masalah berat yang membebani leherku seolah sirna. Aku melangkah keluar dan mengambil wudhu’, menikmati dinginnya air menerpa wajahku, merasakan nikmatnya Dhuha.
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan Mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Diberikan-Nya kepada siapa yang Dikehnedaki-Nya, dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Kubaca lagi arti dari ayat yang kubaca. Hatiku bergetar, darahku berdesir. Ya Allah, kemarin aku hampir berniat untuk meninggalkan dunia dakwah ini, mencoba untuk mundur. Tapi, dari taushiyah yang diberikan teteh dan penggalan ayat yang berusan kubaca ini telah mengurungkan niatku. Aku tidak ingin hanya bisa melihat mereka menikmati indahnya ukhuwah dalam amal jama’i, sedangkan aku di sini tenggelam dalam duniaku sendiri.
Aku terpaku sendiri di sini. Mengingat-ingat kenangan dulu, saat bersama segelintir teman-teman Mushollaku. Saat susahnya perjuangan dalam mengadakan suatu acara, susahnya mencari dana, susahnya mengumpulkan panitia, namun kami tak pernah mengeluh, kami jalani dengan keikhlasan.
Yup, benar. Aku harus bangkit. Takkan kubiarkan masalah sepele memporak-porandakan semangat juangku. Dengan senyum terkembang dan semangat baru kulangkahkan kaki menuju ruang kuliah. Ah… indahnya ukhuwah.
no comments yet.
Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.
Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>