You are looking at posts that were written in the month of September in the year 2007.
You are looking at posts that were written in the month of September in the year 2007.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | Oct » | |||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
Ketika suatu sore yang tenang dan hembusan angin menambah suasana sore yang larut dalam pikiran seorang bapak tua. Ditolehkan kepala kesebelah kiri, penuh dengan pikiran yang ingatkan bapak itu pada kehidupan yang sekarang, sendiri sepi bagaikan hidup dengan orang-orang asing ditengah gurun padang pasir yang tandus. Mementingkan pertahanan hidup demi kelangsungan hidup yang tidak akan lama lagi. Air pun jauh darinya bagaikan patamorgana yang dilihat, seakan dekat melambai-lambai didepan mata. Kemudian bapak tua itu menoleh kekanan seakan ia melihat betapa masa mudanya penuh dengan canda dan tawa dari para-para sahabat yang selalu setia menemani. Tersenyum bagaikan bulan yang kelihatan pada hari yang ke sepuluh, girang bagaikan seekor anak burung yang baru bisa terbang. Pikiran itu mempengaruhi bapak tua itu, seperti ibu mempengaruhi anak diwaktu pagi, memberikan semangat dan motivasi pada waktu berangkat sekolah, mempengaruhi sarapan apa yang harus disantap oleh sang anak diwaktu pagi, mempengaruhi pakaian apa yang harus dipakai oleh anak ketika akan berangkat kesekolah. Dalam pengaruh itu, bapak tua memejamkan mata untuk mengingat masa mudanya itu.
Berkisah pada suatu hari, dimana semua orang bahagia dengan hasil yang dicapai dengan kerja keras sendiri.
”Sahabat-sahabatku apakah kalian berhasil dalam pertarungan sementara ini?”
Kinanti menjawab, aku berhasil dalam pertarungan ini dengan sedikit ragu akan masa depanku yang tidak tahu ujung pangkalnya.”
Adha pun memotong perkataan dari kinanti, ”ya tergantung pada usaha kita yang akan kita capai.”
Lalu anggukan yang sama dan irama yang sama keluar dari mulut Rianti, Oliv, Raini, Mice dan Nengsi dengan kata ”ya”.
”Tapi tanpa dukungan dari orang tua kita tidak akan dapat berbuat apa-apa” spontan keluar dari mulut Rianti.
Dan pada saat itu suasana menjadi hening, dan semuanya memeluk Rianti. Bapak tua itu sempat terbangun karena teriakan dari suara tukang sampah yang meminta tagihan tiap bulannya. Lalu bapak tua itu mengambil tongkat disebelah kanannya seraya berkata,
”ya tunggu sebentar”.
Lalu bapak tua itu mengambil uang yang tersimpan didalam suatu kotak yang diletakan didalam lemari pakaian. Setelah mengambil kotak itu, bapak tua itu melihat sehelai surat yang telah pudar dimakan waktu. Namun kenangan itu tidak mungkin dilepaskan begitu saja.
”Bapak, bapak”,
Suara itu terdengar oleh bapak tua itu dari teras rumah. Kemudian bapak tua itu melipat kembali surat yang yang telah rapuh itu dan memasukkan kedalam saku dan menuju ketukang sampah itu yang telah lama menunggu.
”Maaf nak bapak telah lama megambil uangnya dan membuat anak menunggu”.
Tukang sampah iu menjawab.
”ya tidak apa-apa pak”.
Lalu tukang sampah melanjutkan kerumah berikutnya. Dan bapak tua itu kembali ketempat duduk yang semula.
Kembali bapak itu mengingat-ingat masa yang tak pernah ia lupakan kemudian bapak tua itu kembali memejamkan mata sambil mengingat akhir dari lamunan yang sempat terganggu oleh tukang sampah. Setelah itu Kinanti, Rianti, Adha, Mice, Raini, Oliv, dan Nengsi mulai mebicarakan tentang masa depan mereka. Kinanti yang duluan ugkapkan tentang keinginannya yang ingin menjadi seorang duta besar diluar negri. Lalu Adha ingin menjadi seorang guru, yang beground dari keluarganya guru, yang ingin meningkatkan pendidikan di Indonesia ini. Mice ingin menjadi seorang hafiz al-qur’an agar bisa mengajarkan semua anak indonesia tentang agama yang diridhai oleh Allah swt. Raini ingin menjadi seorang yang ahli dalam pertambangan karena mengingat sumber daya alam Indonesia yang begitu besar. Oliv ingin menjadi seorang pramugari yang terbaik diantara pramugari yang lain. Nengsi ingin menjadi seorang dokter yang bisa menolong orang dengan tanpa pamrih. Sedangkan Rianti berkeinginan ingin menjadi seorang pengacara yang mengurus tentang kekerasan dalam rumah tangga. Setelah semua mengungkapkan satu persatu pendapat riantilah yang menjadi perhatian dari teman-temannya. Mendengar itu semua, Zuardi seorang guru matematika disekolah itu bertanya.
”Rianti kenapa Rianti ingin bercita-cita seperti itu?”
Mendengar suara itu rianti dan teman-temannya memalingkan kepala kepada arah suara itu, ternyata bapak zuardi telah berada tepat dibelakang Rianti.
”Maaf kalau bapak mengganggu pecakapan kalian”.
”Tidak kok pak”, Jawab Rianti sendu.
”Bolehkah bapak ikut dalam pembicaraan kalian?”
Semua menjawab secara bersamaan ”boleh pak”.
”Ohya Rianti, kenapa Rianti ingin mengambil dan bercita-cita seperti itu?”
Rianti menjawab, ”karena kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin memberantas itu semua”.
”Bagus nak”, secara spontan bapak zuardi mengeluarkan kata-kata itu.
”Kalo yang lain apakah cita-citanya sama dengan Rianti?”
”Tidak pak, Mice menjawab.
Lalu satu persatu memaparkan semuanya. Tidak terasa diskusi yang memberikan sedikit pengetahuan itu membawakan seorang bapak dan siswanya ke sore hari. Dan merekapun pulang kerumahnya masing.
Adha sesampai dirumah disambut oleh bapaknya dengan penuh kasih sayang. Kinanti sampai dirumah diantarkan pada hidangan yang sederhana yang ditunjukan dengan kebahagiaan. Begitu juga dengan Mice, Raini, Oliv, dan Ningsi.
Tetapi hal yang berbeda dirasakan oleh Rianti. Sesampai dirumah Rianti mendapatkan keluarganya sedang berantakan. Dilihat adiknya sedang menangis diteras rumah, diteruskan langkahnya dilihat dipojok sebelah kiri kakak dengan raut wajah yang sedih dengan tetesan air mata yang tidak keluar lagi. Lalu Rianti terus masuk kedalam dan mendapati orang tuanya sedang bertengkar hebat. Sampai-sampai pertengkaran itu mengakibatkan ibunya berdarah dikepala.
Melihat kejadian itu semua, Rianti langsung berlari ke kamar dan melemparkan tanda kelulusannya kearah tempat tidur. Setelah itu Rianti mengambil sejumlah uang yang ditabungnya di laci meja belajarnya. Kemudian Rianti pergi menemui adik dan kakaknya seraya berkata,
”kakak tolong jaga adik baik-baik ya, dan buat adik jangan pernah nakal”,sambil menghapus air mata kakaknya.
”Rianti sekarang mau kemana?” Tanya kakaknya,
”sekarang aku mau menghirup udara yang bebas, bebas dari seluruh aktifitas yang melelahkan. Semua orang pasti akan mengimpikan hal yang seperti ini, lalu Rianti pergi”.
Seperginya Rianti, kakak dan adiknya pergi kedalam kamar yang telah ditinggalkan. Disana terlihat kamar yang rapi, dengan susunan dua buah bantal mengarah keselatan, diselatan terlihat tulisan ”saya akan sukses” disebelah timur terlihat tas sekolah yang terletak diatas meja belajar. Diatas tempat tidur ada sehelai kertas, lalu sang kakak membaca kertas itu. Ternyata kertas itu memberitahukan tentang kelulusan Rianti, sayang surat itu tidak sampai ketangan ibunya sendiri, dan kandas ditengah pertengkaran yang hebat.
Setelah itu sang kakak memberikan sehelai kertas itu pada ibunya, lalu ibunya berkata ”haruskah cita-citamu kandas ditengah-tengah pertengkaran ini”. Ibunya menatap dengan sedih surat kelulusan itu.
Setelah beberapa hari, Rianti meninggalkan rumah. Datanglah perasaan cemas dari seorang ibu yang menanti anaknya kembali. Kemudian ibu Rianti mencari kerumah teman-temannya tetapi yang didapatkan hanya jawaban kosong yang dibawa pulang.
Ke esokan harinya, keluarlah dimedia masa tentang kecelakaan salah satu alat transportasi tujuan jakarta. Konon kabarnya dalam kecelakaan itu, nama Rianti adalah salah satu korban dari kecelakaan tersebut. Tanpa pikir panjang seorang ibu berlari keluar rumah tanpa memakai sendal untuk memastikan keadaan anaknya itu. Setelah sampai dipapan informasi telah diurut satu persatu nama-nama korban kecalakan itu. Dengan perasaan yang gundah akhirnya sampai pada urutan terakhir barulah nama Rianti ditemukan. Hanya sebuah nama yang masih tergores didalam hati seorang ibu, yang dicampur baurkan antara kegalauan hati dengan kehilangan. Betapa sedih yang dirasakan oleh ibu Rianti, namun kesedihan itu dapat dibendung dengan air mata. Namun luka tidaklah dapat dibendung dengan air mata, luka dibendung dengan kehadiran kembali kebahagiaan yang pernah dilalui dengan bersama.
Melihat seorang ibu yang menangis datanglah seorang perawat memberikankan sepucuk surat dan selebar foto yang ditemukan disaku baju Rianti yang ditujukan kepada bapak Zuardi.
”kadang ku merasa bangga disetiap helaan nafas ku masih ada yang peduli terhadap seutas harapan yang masih ada diantara sela jerih payah untuk menuntaskan amanah yang diberikan oleh orang yang menaruh harap pada ku. Kadang ku merasa sedih setiap nafas yang ku hembuskan tidak dapat ku jalani untuk melaksanakan amanah yang diberikan dipundak-pundak yang menaruh beban. Saat sedih terasa tertumpuklah harapan kegembiraan dari batin yang terasa saat perjalanan pulang. Palingku hanya berdo’a pada yang kuasa agar orang-orang yang berusaha dan berdo’a tidak menolak untuk panggilan pulang.”
Setelah satu minggu barulah surat itu sampai pada bapak Zuardi. Setelah bapak Zuardi membaca surat itu tiada yang dapat ia lakukan kecuali memperbaiki diri dan menyadari tanggung jawab seorang guru bukan berarti menyampaikan materi kepada siswa. Tapi banyak hal lain yang harus diperhatikan pada diri siswa mulai evaluasi belajar sampai dengan prilaku siswa sehari-hari.
Dalam renungan bapak tua itu menangis, dan teringat diambilnya surat yang ada didalam saku terus dibaca sambil mengingat seorang yang telah memberi pelajaran pada dirinya sewaktu ia masih muda dan mampu menunjukan pengaruhnya pada setiap orang. Sekarang dengan usia yang seperti ini ia hanya bisa mengenang dan menulis apa yang ada pada masa lalunya.
Love is an enigma.
Sebuah labirin dengan banyak pintu dan kelokan. Kita tidak akan pernah tahu di pintu yang mana serta di kelokan yang sebelah mana kita akan menemukannya. Sebab semua pintu dan kelokan itu penuh dengan kejutan yang bahkan mungkin malah menyeret kita menjauh darinya.
Mengapa aku berkata demikian? Pikir lelaki berkacamata itu.
Aku bahkan tak pernah tahu mengapa aku berkata demikian. Sekarang, untuk saat ini, yang aku tahu hanyalah perasaanku. Aku jatuh cinta. Ya… jatuh cinta pada gadis berkerudung ungu yang kini duduk di hadapanku. Dia kekasihku, dia seharusnya milikku sebab aku telah memproklamasikan perasaanku kepadanya, juga kepada dunia agar jangan ada yang berani-berani melakukan invasi terhadapnya, dan ia menerimanya. Tetapi entah kenapa sepertinya ia tak pernah kumiliki…
“Mengapa kamu mengajak aku makan di tempat ini?” tanya lelaki berkacamata itu.
Gadis berkerudung ungu diam saja. Ia langsung duduk tanpa menjawab pertanyaan itu.
*****
Gadis berkerudung ungu mencoba untuk mengais-ngais ingatannya, ia berusaha mengenali setiap jejak yang ditinggalkan oleh masa lalu untuknya. Matanya berpendar dengan liar menelusuri dinding Café Remaja itu.
“Mau pesan apa, Mbak, Mas?” suara pelayan itu mengembalikannya pada kenyataan. Sebentar ia melihat kepada lelaki berkacamata yang ada di hadapannya.
“Pangsit Mie Ayam”
“Minumnya?”
“Es Jeruk.”
“Masnya?”
“OK. Pangsit Mie Ayam dua, Es Jeruk dua.” Jawab lelaki berkacamata itu.
Setelah pesanan dicatat, pelayan itu segera meninggalkan mereka berdua. Dan dengan segera pula, gadis berkerudung ungu kembali tenggelam dalam lamunannya.
Sudah berubah. Tidak adakah yang tersisa, pikirnya. Dinding-dinding ini telah berganti warna. Warna oranye dengan border hijau yang dulu menjadi background dari graffiti yang bertuliskan namanya dan kekasihnya telah berganti menjadi warna menjadi hijau dengan border abu-abu. Lapisan cat yang baru telah menyapunya.
Tidak bisa. Tidak boleh begini. Ini tidak adil. Teriaknya dalam hati. Seperti orang buta yang mengenali huruf Braile dengan merabanya, kini jemarinya juga ia gunakan untuk menganalisis adanya fosil-fosil yang masih tertinggal di sana. Tetapi sayang sekali fosil-fosil itu telah tamat, fosil-fosil itu telah mengalami korosi akut oleh amplas tukang cat. Mereka –tukang cat itu- telah mengeksplorasinya dari permukaan dinding.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya lelaki berkacamata ketika pesanan mereka datang.
Gadis berkerudung ungu merasa kesal. Aneka perasaan berkecamuk di dadanya tetapi dia tidak ingin mengecewakan lelaki berkacamata. “Ya.” Gadis berkerudung ungu menjawabnya singkat.
Mengapa kau seperti angin yang membawa pergi semua kesadaran dan cintaku? Gadis berkerudung ungu mulai bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa tak kausisakan sedikit saja bagi lelaki yang sedang duduk di hadapanku ini? Mengapa… mengapa kau selalu membuatku berdesir dalam pesonamu? Anginmu menyapu bersih semua perasaan. Kini kau biarkan diriku gamang, menggantung, dan berjalan tanpa kepastian. Ah… mengapa nasibku selalu malang?
“…” Lelaki berkacamata itu tidak berkata walaupun sejujurnya ia ingin berteriak.
Ijinkan aku karam bersamamu, duhai gadis berkerudug ungu, pinta lelaki berkacamata itu tulus, meskipun tak sebersit cinta yang kaumiliki. Karena aku yakin sepenggal cintaku saja mampu memberi kita nafas dan kehidupan di kedalaman samudramu itu.
Seandainya uang dapat membeli dirimu, atau setidaknya membeli rantai yang dapat membelenggu kaki-kaki jiwamu, akan kubeli dan kubayar berapapun harganya.
Berapa… berapa harga masa lalu itu? Perlukah jiwa ini untuk membayarnya. Lelaki berkacamata itu tampak sangat putus asa.
“Kekasihku… Gadis berderudung unggu…” Kata itu meluncur keluar, sangat pelan, dari mulut lelaki berkacamata.
Tetapi gadis berkerudung ungu tidak mendengarnya, ia tengah terbang dengan angannya.
Kekasihku, kau adalah hembusan angin malam yang menyejukkan hariku, tetapi kau juga adalah tornado yang memporak-porandakan pertahananku. Gadis berkerudung ungu mengingat masa lalunya.
Kekasihku, tidakkah kau ingat kita mengukirkan nama kita di tembok ini sebagai janji persahabatan kita. Tetapi… kalimat perkenalanmu… pandangan matamu… aroma tubuhmu… dan kedewasaanmu… telah menyebabkanku sulit untuk menerima dirimu sebagai seorang sahabat. Apakah aku salah? Apakah hal ini bisa dikategorikan sebagai suatu kesalahan ketika aku menyatakan bahwa aku mencintai dirimu?
Aku serupa arkeolog yang mencoba menggembalikan kejayaan masa lalu dengan jalan memerangkap vista-vistanya. Rintih gadis berkerudung ungu.
Pangsit Mie Ayam di hadapan mereka sudah dingin dan mengembang. Begitu pula yang terjadi dengan Es Jeruk mereka, minuman itu tengah mencair dan luber membasahi meja. Tetapi sampai saat semua itu terjadi, tidak ada kata yang mencair dari bibir-bibir mereka. Semuanya membeku di suatu waktu.
Kubuka jendela kamar dan kuhirup udara pagi sedalam-dalamnya. Segar. Akhirnya sampai juga pada hari ini, hari yang sangat ditunggu. Tau gak, kenapa? Yup, ini adalah hari pertama aku masuk kuliah, euy. Gak kebayang bangganya, akhirnya almamater kuning yang udah aku impikan sejak dulu kini sudah tergantung di pintu kamarku. Mandi, shalat shubuh, sarapan, en go!
“Ma, Maya berangkat, Assalamu’alaikum…” kucium tangan wanita yang sangat kucintai itu, berharap do’a demi keselamatan perjalanan nanda. Sepanjang jalan tak lupa senyumku yang termanis kusebar ke seluruh penjuru alam, menyapa para tetangga ibu-ibu warung, sampai abang penjual sayur.
***
“Oke, saudara-saudara. Kuliah hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa tugas minggu depan.”.
“Huahh… capek banget!” kepalaku langsung terkulai saat dosen baru saja keluar ruangan. “Sabar, May. Namanya juga perjuangan. Semangat dong, tugas-tugas ini masih tergolong sedikit dibandingin tugas dakwah yang amat besar dan panjang. Kalo tugas dakwah kamu semangat, harusnya tugas kuliah juga musti semangat. Ok, girl, keep spirit for fighting!” Sari, rekan kelasku sekaligus rekan musholla memberi semangat dengan berapi-api.
Ada apa denganku? Tak biasanya aku begini. Akhir-akhir ini semangat belajarku down banget. Di kelas lebih banyak bengong, pikiranku jauh melanglang buana ke negeri Antah Berantah. Huahhh… aku merindukan dinamika.
***
“Assalamu’alaikum… Teh, Maya pengen curhat.” Aku langsung menubruk seorang akhwat di depanku, memeluknya dari samping. “Wa’alaikumussalam… ada apa, Dek?” tatapan lembutnya sedikit menenangkanku. Mengalirlah sederet ‘penderitaanku’ selama ini, tentang kuliah yang membosankan, tentang tugas-tugas, tentang praktikum, tentang tugas dakwah kampus yang banyak diserahin kepadaku, tentang… segalanya.
“Adik Kecilku Sayang, itulah dunia kampus, yang mungkin agak berbeda dengan dunia sekolah dulu. Makanya, harus ada sedikit persiapan. Jangan menganggap enteng setiap tugas, tapi juga jangan menganggap berat. Anggap biasa saja, seimbang. Ingat niat Adek waktu pertama ikut SPMB. Luruskan niat dulu, Dek, mungkin sudah sedikit melenceng. Adek pengen belajar di sini, ikhlas sebagai pengabdian kepada Allah, bukan mencari gelar atau unjuk kebolehan. Adek banyak-banyak muhasabah lagi sekalian refreshing. Ikhlashshunniyah, ya, Dek. Teteh yakin, Adek bisa bangkit kembali.”
“Teh, Adek udah down banget. Adek gak tau musti ngapain. Adek bingung…”
“Terkadang, down itu berguna bagi kita, asal jangan keterusan. Ibarat sebuah mesin gergaji listrik. Dia bisa dengan kuat menumbangkan pohon-pohon besar. Tapi tidak bisa terus-menerus. Mesin itu harus istirahat untuk memulihkan tenaganya, untuk mengasah mata pisaunya yang mulai terkikis. Setelah itu dia bisa bekerja kembali. Seperti itulah, Dek. Asal jangan lupakan ibadah. Saat futur, yang kita perlukan adalah evaluasi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Ibadah sunnah diperbanyak. Adek juga jangan takut, Adek tidak sendirian di sini. Adek masih punya banyak saudara di sini. Kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan, jangan ragu untuk disampaikan.”
“Jangan lupa satu lagi, Dek. Curhatlah sama Allah, berkhalwat berdua dengan-Nya, tumpahkan segala luapan hatimu. Insya Allah, Adek akan merasa segar kembali. Oke, Teteh menunggu Adek Teteh yang penuh semangat dan ceria selalu. Teteh ada kuliah lagi, Teteh tinggal dulu, ya. Assalamu’alaikum…”
Untaian mutiara mengalir dari bibir Tetehku tersayang, kakak tingkatku di kampus. Aku merasakan sedikit pencerahan. Masalah berat yang membebani leherku seolah sirna. Aku melangkah keluar dan mengambil wudhu’, menikmati dinginnya air menerpa wajahku, merasakan nikmatnya Dhuha.
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan Mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Diberikan-Nya kepada siapa yang Dikehnedaki-Nya, dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Kubaca lagi arti dari ayat yang kubaca. Hatiku bergetar, darahku berdesir. Ya Allah, kemarin aku hampir berniat untuk meninggalkan dunia dakwah ini, mencoba untuk mundur. Tapi, dari taushiyah yang diberikan teteh dan penggalan ayat yang berusan kubaca ini telah mengurungkan niatku. Aku tidak ingin hanya bisa melihat mereka menikmati indahnya ukhuwah dalam amal jama’i, sedangkan aku di sini tenggelam dalam duniaku sendiri.
Aku terpaku sendiri di sini. Mengingat-ingat kenangan dulu, saat bersama segelintir teman-teman Mushollaku. Saat susahnya perjuangan dalam mengadakan suatu acara, susahnya mencari dana, susahnya mengumpulkan panitia, namun kami tak pernah mengeluh, kami jalani dengan keikhlasan.
Yup, benar. Aku harus bangkit. Takkan kubiarkan masalah sepele memporak-porandakan semangat juangku. Dengan senyum terkembang dan semangat baru kulangkahkan kaki menuju ruang kuliah. Ah… indahnya ukhuwah.
I got this from one of my sisters-in-Islam, Nuril, in the Halaqah Muslimah group, and would like to share it with everyone, regardless of our different faiths. After all, every straight woman in this world wants their very own Adam.
Tolong sampaikan pada si dia…
Tolong beritahu si dia, aku ada pesanan buatnya..
Tolong beritahu si dia, cinta agung adalah cintaNya..
Tolong beritahu si dia, cinta manusia bakal membuatnya alpa..
Tolong nasihati si dia, jgn menyintaiku lbh dr dia menyintai Yang Maha Esa..
Tolong nasihati si dia, jgn mengingatiku lbh dr dia mengingati Yang Maha Kuasa..
Tolong nasihati si dia, jgn mendoakanku lbh dr dia mendoakan ibu bapanya..
Tolong katakan pada si dia, dahulukan Allah krn di situ ada syurga..
Tolong katakan pada si dia, dahulukan ibu bapanya krn di telapak itu syurganya..
Tolong ingatkan si dia, aku terpikat kerana imannya bukan rupa..
Tolong ingatkan si dia, aku lebih cintakan zuhudnya bukan harta..
Tolong ingatkan si dia, aku kasihinya kerana santunnya..
Tolong tegur si dia, bila dia mula mengagungkan cinta manusia..
Tolong tegur si dia, bila dia tenggelam dalam angan-angannya..
Tolong tegur si dia, andai nafsu mengawal fikirannya..
Tolong sedarkan si dia, aku milik Yang Maha Esa..
Tolong sedarkan si dia, aku masih milik keluarga..
Tolong sedarkan si dia, tanggungjawabnya besar kepada keluarganya..
Tolong sabarkan si dia, usah ucap cinta di kala cita-cita belum terlaksana..
Tolong sabarkan si dia, andai diri ini enggan dirapati kerana menjaga batasan cinta..
Tolong sabarkan si dia, bila jarak mejadi penyebab bertambah rindunya..
Tolong pesan padanya, aku tidak mahu menjadi fitnah besar kepadanya..
Tolong pesan padanya, aku tak mahu menjadi punca kegagalannya..
Tolong pesan padanya, aku membiarkan Yang Esa menjaga dirinya..
Tolong khabarkan pada si dia, aku tidak mahu melekakan dia..
Tolong khabarkan pada si dia, aku mahu dia berjaya dalam impian dan cita-citanya..
Tolong khabarkan pada si dia, jadilah penyokong dalam kejayaanku..
Tolong sampaikan pada si dia, aku mendambakan cinta suci yang terjaga..
Tolong sampaikan pada si dia, cinta kerana Allah tidak ternilai harganya..
Tolong sampaikan pada si dia, hubungan ini terjaga selagi dia menjaga hubungan dengan Yang Maha Kuasa..
Tolong sampaikan kepada si dia kerana aku tidak mampu memberitahunya sendiri…
Hanya engkau Ya Allah mengetahui siapa si dia..
Moga pesananku sampai padanya walau aku sendiri tidak mengetahui siapa dan dimana si dia..Moga dia seekor lebah yang sentiasa memuji keagungan Yang Maha Kuasa memasuki taman larangan dengan sopan santunnya dan bertemu mawar berduri yang terjaga oleh tuannya..Simpanlah pesanan ku ini sehingga engkau bertemu diriku suatu hari nanti…
I have already translated it to English, but I don’t like it at all, so I’ll leave it be in Malay.
Here is something about women. I found this quote and decides that I like it so much. Different religions have a different version in how Hawa was created, and Hawa being created from Adam’s ribs is the Islamic version.
HAWA dicipta dari tulang rusuk ADAM, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasnya… untuk dipuja dan diagung-agungkan, bukan juga dari kakinya untuk dijadikan alasnya… untuk dihina dan dizalimi, melainkan dari sisinya untuk dijadikan teman hidup, dekat pada lengan untuk dilindungi, dan dekat di hati untuk dicintai.
Hawa was created from Adam’s ribs, not from his head to be above him, to be idolized and exalted, not from his feet to be his doormat, to be tortured and abused, instead, from his side, to be his soulmate, near his limbs to be protected, and near his heart to be loved.
I’ve decided not to really focus in finding love at the moment. Love is everywhere around me. Allah loves me, and He knows what’s best for me. I am trying to be a good Muslimah to show my love for Him as well. After all, it was stated in
Surah An-Nur, verse 26:
24.26 . Vile women are for vile men , and vile men for vile women . Good women are for good men , and good men for good women ; such are innocent of that which people say : For them is pardon and a bountiful provision .
Here’s the Indonesian version:
"Wanita-wanita yang buruk itu untuk lelaki yang buruk dan lelaki-lelaki yang buruk untuk wanita yang buruk, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik"
(Surah An-Nur : 26)
Gista sudah tidak tahu lagi apa maunya Kian, pacarnya. Setiap janjian ingin ketemu, selalu ada saja alasannya. Yang sibuk sama pekerjaan kantornyalah, yang sedang meeting sama klienlah, yang harus istirahat karena besok ada rapatlah.
Semua sudah dilalui Gista selama dua minggu ini. Mau tidak mau, Gista menerimanya. Tapi apa daya, hati tak kuat menahan kangen bercampur sebalnya bertemu Kian.“Yan, kita bisa jalan, besok?” tanya Gista malam Sabtu. Malam itu, Gista telepon Kian menggunakan HP. Kalau telepon rumahnya, percuma. Pasti juga nggak bakalan ada di rumah.“Aduh, kayaknya nggak bisa deh! Besok aku ada lembur kerja.” Jawab Kian.“Oh, lembur.” Gista sudah siap akan jawaban Kian. “Tapi, besok kan Sabtu. Masa ada lembur sih? Minggunya kan libur.”
“Perusahaanku harus merombak data ulang. Soalnya ada perusahaan dari luar kota datang ke perusahaanku.”
“Oh,” Gista sudah malas ingin meneruskan pembicaraan ini. “ya udah deh, nggak jadi jalan juga nggak apa-apa. Aku maklum.” Diputuskannya pembicaraan itu. Tiba-tiba, pikiran buruk mampir di otak Gista. “Buat apa teruskan hubungan ini. Dia sudah nggak peduli lagi sama aku. Toh dia lebih sayang pekerjaannya. Hubungan selama tiga tahun ini, lebih baik pisah. Mungkin status teman lebih baik. Aku nggak bisa terus-terusan seperti ini. Ini membuat aku tambah sakit hati.” Katanya pada diri-sendiri. “Tapi, aku masih sayang sama Kian…”
Suatu saat, acara makan malam terlaksana juga. Meski dengan paksaan. “Yan, kamu ini kenapa sih? Kita kan lagi makan malam. Masih mikirin pekerjaan juga? Bisa nggak sih lupain masalah pekerjaan? Sudah lama loh, kita nggak makan malam seperti ini. Sudah satu bulan kita nggak kayak gini.” Sindir Gista.“Ta, kamu bisa nggak, nggak ngomongin hal kayak gitu! Itu bukan topik pembicaraan yang baik. Masa kamu ungkit masalah kita nggak makan malam satu bulan!” bentaknya.
“Kenapa? Kamu merasa tersindir? Bagus deh, kalau gitu! Berarti kamu sadar, apa yang kamu lakuin selama ini sama aku!”
“Memangnya aku berbuat apa? Aku wajar-wajar aja. Aku nggak mengkhianati kamu!” wajah Kian berubah bingung. Dan berusaha mengingat kejadian apa yang sudah dilakukannya.“Iya, kamu nggak berbuat apa-apa sama aku. Karena kita sama sekali nggak pernah ketemu!! Kamu nyaris nggak berbuat apa-apa!”“Maksud kamu?” Kian makin tidak mengerti maksud Gista.“Kamu masih nggak ngerti maksud aku?” Gista beranjak dari duduknya. “Kamu mau tahu? Aku capek, Yan! Aku selalu nunggu kamu ada acara. Aku merasa terabaikan. Sekarang, baru bisa makan malam sekali, kamu bikin suasana nggak enak. Aku ngomong sedikit, kamu sudah marah. Kamu tahu nggak perasaan aku kayak apa?” air mata Gista jatuh. “Aku mau pulang. Aku males mau makan malam sama orang nggak berperasaan kayak kamu!”Kian ditinggal begitu saja. Kian, masih duduk tak berekspresi. Dia masih bingung sama Gista. Kian membiarkan Gista pergi begitu saja.
Di kampus, Gista terus melamun. Dia masih memikirkan kejadian tadi malam. Selvi, sahabatnya, bingung akan kelakuan Gista yang jadi super-diam ini.
“Ta, kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu melamun sendiri?” tanya Selvi. Dia sahabat yang setia. Mengerti sahabatnya betul. Gista berubah sedikit, langsung tahu pasti ada masalah.
“Nggak kok.” Gista bohong.“Nggak? Mana ada orang baik-baik saja, tapi melamun terus. Ada yang dipikirin? Coba kamu cerita ke aku. Mungkin bisa bantu?”Sesaat mereka diam. Selvi diam, karena dia menunggu Gista sampai dia siap cerita. Sedangkan Gista, dia diam karena dia sendiri bingung akan cerita dari mana.“Ya udah, kalau masih belum mau cerita. Aku nggak maksa kok.” Ujar Selvi kemudian. “Mungkin kamu butuh sendiri.” Selvi beranjak dari duduknya. Dengan cepat Gista menarik tangan Selvi. Tandanya, dia mulai siap untuk cerita.“Duduk, Vi.”Sesuai perintah Gista, dia duduk di sebelah Gista.“Vi, aku…” Gista diam lagi.“Ta, kalau belum siap, nggak usah dipaksain.” “Aku capek. Sama Kian. Akhir-akhir ini sibuk terus. Aku nggak kuat sama dia. Aku pengin putus.” Ujarnya lirih.Selvi tak percaya. “Putus? Yang bener aja. Kalian udah cocok banget. Udah pacaran selama tiga tahun. Gila, kalian itu udah pas banget.” “Dia lebih sayang sama pekerjaannya. Lebih mentingin pekerjaan dari aku. Setiap mau keluar, pasti ada acara lain. Aku capek!”“Ta, aku ngerti. Tapi menurutku, dia juga merasa hal yang sama. Dia masih adaptasi sama keadaannya sekarang. Tahun ini dia baru mulai kerja. Jadi wajar kalau dia masih belum bisa membagi waktu sama kamu.”“Pokoknya aku mau pisah sama dia. Aku nggak bisa terus-terusan begini. Kalau nyatanya dia sama orang lain gimana. Masa aku tahu. Ketemu aja sebulan sekali. Padahal dia nggak lagi di luar kota.”“Menurutku, kamu hanya cemburu aja.”“Vi, kamu ini bukannya kasih solusi tapi malah nyalahin aku.” Gista pergi entah kemana. Selvi ditinggal. Gista merasa semua sudah nggak ada lagi. Hilang…
Di sisi lain…Kian juga sering nggak konsen sama pekerjaannya. Sampai akhirnya dia dipanggil ke kantor pemegang saham di perusahaan itu.“Anda akhir-akhir ini sering melamun. Ada apa? Apa ada masalah keluarga? Anda bisa bercerita pada saya. Yah, sekedar menenangkan hati Anda kan tidak apa-apa. Mungkin ada yang saya bantu?” Kata Pak Bowo, pemegang saham di perusahaan itu.Kian menjawab sambil tertunduk malu. “Bukan apa-apa. Hanya masalah kecil. Masalah saya dengan…”Belum selesai bicara, Pak Bowo langsung menyela. “Dengan pacar ya? Yah, saya dulu pernah muda. Jadi saya tahu betul. Saya juga sudah mengira. Tapi biar bagaimana pun wanita itu selalu ingin disayang. Atau mungkin anda tidak pernah menyayangi pacar anda, sehingga dia merasa terabaikan mungkin.”Kian mengangkat wajahnya. “Terabaikan? Apa mungkin saya tidak menyayangi pacar saya. Sampai-sampai dia marah sama saya?” tanya Kian pada Pak Bowo.Pak Bowo mengangguk. “Mungkin. Yah, lebih baik, anda ajak dia makan malam hari ini. Bicarakan baik-baik. Anda jelaskan semua yang telah terjadi. Salah paham itu lebih sulit dari pada masalah yang sebenarnya.”Kian berdiri dan meraih tangan Pak Bowo. Wajahnya berseri-seri. “Terima kasih, Pak. Iya, saya ingat. Saya sering sekali mengabaikan dia dan mementingkan pekerjaan dari pada dia. Saya sangat berterima kasih. Permisi…” pamit Kian.Kini dia sudah tahu. Apa yang harus dilakukannya. Dia harus mengajaknya bicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentu saja, merubah sikapnya selama ini.Kian menelpon Gista.“Halo? Nanti malam kita makan malam ya?” ajaknya.“Nanti malam. Ada apa nih? Kok tiba-tiba ngajak makan malam. Biasanya aku yang ajak makan malam. Udah selesai kerjanya?”“Iya, nanti malam kita ketemu di restaurant yang biasanya. Oke! Aku tunggu.”Gista masih bingung. Tapi apa boleh buat. Dia juga ingin mengatakan sesuatu. Yang sangat penting. Dan tidak boleh ditunda lagi.
Malamnya, di sebuah restaurant romantis, Kian dan Gista sudah ada di tempat. Mereka memesan menu spesial. Dan lagi-lagi, Gista bingung sama Kian. Kenapa Kian tiba-tiba berubah jadi berseri sekali.“Tumben ajak aku makan malam. Mau ngomong sesuatu?” tanya Gista memulai pembicaraan. Tapi nada bicaranya ketus.“Iya, nih. Apa kamu juga ingin mengatakan sesuatu?”“Iya, tapi kamu dulu deh.” Katanya masih ketus.“Oke, mungkin memang lebih dulu aku, karena aku… aku baru sadar akan kelakuanku beberapa minggu ini….”“Bukan beberapa minggu, tapi sebulan lebih!!” ralatnya.“Iya, maaf. Sebulan lebih ini, aku terlalu serius sama pekerjaanku. Jadi aku minta maaf. Aku ingin mulai dari nol lagi. Dan… aku janji nggak akan nyuekin kamu lagi.” Tangannya menggenggam tangan Gista. “Belum terlambat kan?”Genggaman Kian dilepas mentah-mentah oleh Gista.“Gista?”“Maaf, Yan. Kamu sudah terlambat. Malam ini, aku minta putus!” Gista berdiri dan meninggalkan Kian sendiri.“Ta, tapi kita bisa memulainya dari awal!” jerit Kian sambil berlari mengejar Gista. “Gista!! Tunggu!” Kian meraih tangan Gista dan mencegahnya pergi.“Lepasin! Aku nggak mau hubungan kita ini diterusin.”“Kenapa enggak? Aku ngaku aku salah. Kamu nggak mau maafin aku? Kita belum terlambat.”“Kamu pikir satu bulan lebih itu nggak nyiksa bagi aku? Ternyata kamu terlambat. Kamu sadar pas saat aku ingin putus sama kamu!” Kian nggak percaya sama ucapan Gista barusan. Tangannya perlahan melepaskan tangan Gista. Dan begitu tangan Gista lepas seutuhnya, Gista langsung lari tak tentu arah.Saat akan menyebrang jalan, Gista tidak melihat kanan kiri. Sampai akhirnya…CIIIIIT… BRUAK!!! Kian menoleh ke sumber suara. “Gista…!!!!!!” teriak Kian. Segera dia berlari. Badan lemah Gista berlumuran darah kental yang keluar dari berbagai luka besar. Gista tak sadarkan diri. Kian menggendongnya dan berteriak.“Panggil ambulan! Cepat!!” teriaknya pada orang-orang yang sedari tadi melihat kejadian itu. “Kenapa kalian hanya menonton saja!! Cepat!!”Tak lama dari kejadian itu, ambulan datang. Gista dibopong masuk ke dalam mobil. Kian juga masuk ke dalam mobil itu. Matanya berair tak tertahankan.“Ta, bertahan, Ta! Maafin aku! Ini salahku!” sesalnya sambil menggenggam tangan Gista yang berlumuran darah. “Ini salahku, Ta!”Untung saja, rumah sakitnya tidak jauh dari tempat kejadian. Jadi, lebih cepat sampai. Saat kasur dorong Gista mulai diturunkan, semua suster-suster mulai sibuk. Kian sendiri bingung. Dia mengikuti Gista sampai akhirnya dia tidak boleh masuk ke ruang ICU.“Dok, tolong selamatkan Gista, Dok!” pintanya.“Kami akan berusaha.” Jawab Dokter singkat.Sungguh lama Kian menunggu kepastian dari dokter. Hatinya gelisah. Dia terus saja menyalahkan dirinya-sendiri. “Aku nggak akan memaafkan diriku-sendiri kalau terjadi apa-apa sama kamu, Ta!” gumamnya. Dari kejauhan orang tua Gista datang.“Kian, gimana Gista?” tanya Mama Gista.“Dokternya belum keluar, Tante.”Tiba-tiba dokter yang memerika Gista keluar dari ruangan ICU. Semua langsung menghampiri dokter itu dengan penuh harap.“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”Dokter melepaskan masker di wajahnya dan mulai bersuara. “Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi…”Belum selesai dokter bicara, Mama Gista menangis histeris. Diikuti Papanya dan saudara yang lain. Sedangkan Kian, dia terdiam. Dia marah pada dirinya-sendiri. Memaki dan membenci diri-sendiri.
Di pemakaman, tinggal Kian sediri. Dia sangat tertekan saat itu. Hatinya terguncang. Belum lagi dia mengingat kejadian-kejadian yang sebelumnya terjadi. Sakit rasanya jika diingat.“Ta,” panggil Kian pada nisan Gista. “Padahal, aku ingin mengatakan yang sangat penting kemarin. Kenapa kamu pergi semelum aku ngomong. Ini semua salahku. Kamu pergi dalam kesedihanmu. Dalam ketertekananmu. Ini semua salahku.” Air mata Kian jatuh.Tiba-tiba cuaca mendung dan mulai gerimis. “Aku hanya ingin bilang… aku sayang sama kamu. Aku bekerja keras hanya untuk kita. Untuk nanti kita di masa depan. Tapi ini memang salahku. Aku nggak bisa membagi waktuku. Aku…” gemuruh petir menggema. Kian diam sesaat. Sedangkan hujam makin deras. “Aku… aku sayang kamu…”
Sudah lima tahun lebih kematian Gista. Kian masih belum punya penggantinya. Padahal ada orang yang sebaik, setia, dan secantik Gista. Tapi Kian masih ingat Gista. pada suatu hari di pemakaman…“Ta, sekarang aku dekat sama seseorang. Orangnya cantik, baik, sama seperti kamu. Orangnya juga persis sama kamu. Aku minta izin sama kamu. Boleh kan aku miliki dia? Aku minta izin karena… aku masih belum bisa melupakan kamu. Masih… sayang sama kamu…”