You are reading Perempuan yang Masih Ingin Berani Memulai Mimpi. You can leave a comment on this post.
Newer »« OlderYou are reading Perempuan yang Masih Ingin Berani Memulai Mimpi. You can leave a comment on this post.
Newer »« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | Sep » | |||||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |
Perempuan itu kini tidak mengharapkan apa pun.
Tidak juga sekadar bermimpi. Bukanlah kepesimisan yang pelan-pelan, kemudian
bertambah cepat, sedang membunuh jiwanya. Tapi, dia hanya berusaha menyesuaikan
dirinya pada realitas yang ada.
Tidak lagi ia sanggup bermimpi. Bermimpi membangun
rumah tangga. Padahal, sejak kelas tiga SMU, atau enam tahun yang lalu, impian
itu menjadi salah satu poin besar rancangan hidupnya. Tapi kini tidak lagi.
Kini, ia hanya ingin mengalir seperti air. Ia tak ingin mematok target lagi.
Sebab ia tidak ingin air matanya kembali tertumpah hanya karena keinginan yang
entah kapan akan terwujud.
Bukan karena dirinya mengidap penyakit AIDS, kanker
rahim, atau apa pun itu, yang kemungkinan besar akan membuat seorang laki-laki
harus berpikir keras untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Bukan.
Bukan itu. Tapi karena kondisi yang dialami dirinya, lebih tepatnya
keluarganya, yang menyebabkan dirinya tak sanggup lagi berkeinginan berumah
tangga. Bahkan untuk sekadar bermimpi.
Kita semua pasti setuju, bahwa jika seseorang akan
menikah, maka ia harus menyiapkan mental, fisik, materi, dan sebagainya. Akan
tetapi, tidak demikian halnya dengan perempuan itu. Ia, perempuan itu, harus
menambah tuntutan tersebut dengan satu persiapan lagi. Yaitu bekal untuk
menghadapNya di akhirat nanti. Memang, bukan hanya perempuan itu yang harus menyiapkan
bekal ke akhirat dengan sebaik mungkin. Melainkan setiap mukmin. Tapi, bagi
perempuan itu, persiapan bekal akhirat menjadi sesuatu yang wajib adanya.
Sebab, ketika ia memutuskan untuk menikah, nyawanyalah yang akan dipertaruhkan.
Benarkah? Ya, benar. Karena kakak pertamanya belum menikah. Perempuan. Mengidap
penyakit kejiwaan. Dan…, pernah mengancam akan menghabisi nyawa adiknya,
perempuan itu.
Setidaknya, itulah yang terlontar dari mulut sang
kakak perempuan itu. Itu terjadi ketika sang kakak tahu bahwa ada seorang
laki-laki sholeh yang ingin melamar sang adik, perempuan itu. Amarah liar
kakaknya itu menjadi-jadi. Barang-barang pecah belah pun di lemparnya di depan
mata perempuan itu. Teriakan histeris sang kakak membahana, hingga keesokan
harinya para tetangga mulai menatap keluarga perempuan tersebut dengan tatapan
yang tidak seperti biasanya.
Akan tetapi, sesungguhnya, perempuan itu tidak
takut mati. Bahkan di tangan kakaknya sendiri yang mengidap skizofrenia sejak
sembilan tahun yang lalu.
Tidak. Ia tidak takut mati.
Yang ia takutkan hanyalah, apabila sepeninggalnya
nanti, orang-orang yang dicintainya justru tidak kuasa menghadapi cobaan ini.
Tidak sanggup mengikhlaskan semua ini.
Yang ia takutkan adalah jika adik laki-lakinya yang
begitu disayanginya, yang juga tidak begitu kuat mental dan ruhiyahnya itu
(akibat sembilan tahun berhadapan dengan seorang kakak yang terganggu jiwanya),
akan semakin dalam memasuki jurang. Hingga untuk kembali ke rumah setelah
bekerja seharian, bukanlah menjadi pilihan utama. Melainkan lebih baik menginap
di rumah teman. Dan perempuan itu tidak tahu, apakah sang teman akan
mengingatkan adiknya bila waktu sholat telah tiba? Akan mengingatkan jika jalan
sang adik mulai menyimpang?
Yang perempuan itu takutkan pula, jika kedua orang
tua yang begitu dikasihinya, tidak lagi kuat menahan tatapan sinis para
tetangga, yang seakan-akan memperolok mereka: "Kalian orang tua yang gagal
mendidik anak. Lihat saja, seorang anaknya sakit jiwa…" (Padahal,
perempuan itu yakin benar bahwa ujian ini sebenarnya bisa saja ditimpakan Allah
kepada siapa saja. Namun Allah memilih keluarga perempuan itu untuk
menghadapinya).
Tidak. Ia tidak sanggup melihat mata kedua orang
tuanya semakin sembab setiap pagi, akibat sepertiga malam terakhirnya selalu
membanjiri sajadah mereka dengan doa pengharapan agar sisa kebaikanNya masih
tetap terselip bagi keluarga perempuan itu.
Akhirnya, seiring berjalannya waktu, perempuan itu
kini mencoba berharap kembali padaNya. Mencoba untuk berani memulai mimpinya
yang sempat menguap begitu saja. Ia masih ingin, ingin sekali membangun rumah
tangga Islami yang dulu pernah didambakannya dengan seorang laki-laki sholeh,
yang lebih kuat keimanannya dari pada dirinya. Meskipun, ia juga sangat menyadari, kondisinya masih saja tidak
semudah yang ia bayangkan. Ia hanya ingin memasrahkan segalanya padaNya, apa
pun itu keputusanNya.
Hingga akhirnya, beruntunglah ia masih berani
menyimpan sebuah doa, yang selalu ia panjatkan sebelum tidur malamnya,
"Allah, jika engkau tidak memperkenankan aku bertemu penamping hidupku di
dunia ini, berikanlah ganjaran yang terbaik di sisiMu kelak…"
Alhamdulillah. Sejak itu, sang perempuan menjadi
lebih kuat dari pada sebelumnya. Karena ia percaya, segala sesuatu pasti ada
batasnya. Karena ia percaya, air mata tak abadi, akan hilang dan berganti. Pun
ia percaya, semakin besar ujian seseorang, semakin besar pahala yang akan
didapatkan jika keikhlasan menjadi perisainya.
Apalagi ia juga percaya…, bersama kesulitan, ada
kemudahan…. Seperti sekarang ini. Ia memang masih sulit menghadapi perangai
kakaknya. Tapi ia diberiNya kemudahan untuk menjadi seorang muslimah yang
benar-benar Islam. Mampu berserah diri padaNya setulus-tulusnya…
1 comment.
cerita nyata yah ??
Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.
Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>