Penghianatan pada Persahabatan dan Cinta

Posted on June 6, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Aku mendapati seorang wanita separo baya berdiri di depanku, membuka pintu yang sedari tadi kuketuk. Wanita itu mengamatiku lekat-lekat mencoba mengingat-ingat sosok dihadapannya, sosok yang dulu pernah dikenalnya. Beberapa saat kami hanya mampu diam dan saling memandang.

“Melanie…benar itu kamu sayang….oh Melanie,” tiba-tiba saja tangis wanita itu meledak berhambur bersama pelukannya yang menimpa tubuhku. Dia mengingatku…ya dia mengingatku. Kini aku bisa merasakan kembali desah nafas dan hangat pelukannya, pelukan seorang ibu yang kini rapuh namun mencoba untuk tegar, walaupun aku tahu betapa dalam duka yang dipendamnya.

“Tante tahu Mel…ini salah tante. Tante menyesal karena sudah menyakiti perasaan Andro. Selama ini tante tidak pernah sadar kalau Andro itu ada, tidak pernah tahu kalau dia juga punya perasaan. Sekarang tante sadar Mel. Tapi semuanya sudah terlambat. Sudah tidak ada lagi maaf Andro buat tante. Tolong tante Mel….Cuma kamu yang bisa menyadarkan Andro. Tolong tante ya Mel,” dia kembali menangis dan terus saja menyesali dirinya, menyesal karena telah membuat Andro membencinya selama bertahun-tahun. Menyesal karena telah menolak kehadiran Andro yang tidak pernah diharapkan. Seorang anak yang lahir bukan atas dasar cinta.

Kini dia hanya bisa membiarkan Andro menganggapnya sudah mati dan menganggap bahwa ia tidak pernah dilahirkan oleh seorang wanita yang ingin dipanggilnya mama.

Wanita itu mulai tenang. Sudah kulihat senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum getir yang dipaksakan sekadar menghibur hati yang galau. Walau masih jelas kutangkap setitik air diujung matanya yang berkaca. Kami mulai saling bertukar cerita. Cerita tentang dirinya. Cerita tentang Andro dan tentang peristiwa itu. Peristiwa dua tahun lalu yang mengawali kisah ini.

Raditya Purnama. 19 Juli 1980 - 23 Desember 2005. Semua pelayat sudah mulai kembali kerumah mereka masing-masing, tante Ranti, mama Radit juga sudah mulai meninggalkan area pemakaman didampingi sanak keluarga. Hanya aku yang masih bertahan disini. Didepan tempat peristirahatan Radit dengan sejuta penyesalan yang terus berkecamuk dibatinku. Rasa bersalah karena membiarkan Radit pergi tanpa mendengarkan penjelasan dariku. Rasa bersalah karena penghianatan yang telah kulakukan.

“Sudah siang Mel, sudah waktunya kita pulang,” aku menoleh sebentar ke arah suara itu. Kulihat Andro berjongkok disampingku mengusap rambutku dan menyeka air mata yang telus mengalir membasahi pipiku.

“Sebentar lagi ya Ndro. Aku mau nemenin Radit sebentar lagi. Kasihan dia pasti kesepian disana,” aku merengek kepada Andro sambil menatap nisan yang bertuliskan nama Radit.

“Udah mau hujan nih Mel, nanti kamu sakit lagi. Kamu nggak mau kan Radit lihat kamu terus-terusan sedih begini!” Andro kembali membujukku, akhirnya akupun menerima ajakannya.

Namun, belum sempat aku berdiri, aku merasakan duniaku berputar, semuanya tampak gelap dan aku tidak sadarkan diri. Sebuah wangi hangat menyengat memenuhi dadaku. Aku membuka mataku dan menyadari bahwa aku berada disuatu ruangan. Tapi dimana ini…. sepertinya aku kenal ruangan ini. Wangi parfum ini dan… Ya Tuhan air mataku kembali menetes. Aku sadar sekarang, wangi ini….ya ini wangi radit. Aku memaksakan diriku bangun.

Namun belum sempat aku berdiri, badanku kembali sempoyongan dan sebuah tangan yang kuat menopangku sebelum aku sempat terjatuh… tangan Andro. “Kamu mau kemana Mel, kamu belum sehat,” Andro mencoba menghentikanku ketika kulepaskan tangannya dari tubuhku.

“Lepasin aku Ndro, aku mau nemenin Radit, kasihan dia sendirian, pasti dia kesepian malam ini,” aku meronta-ronta seperti orang gila. Mencoba melepaskan pelukan Andro yang ingin menghalangiku. Namun semakin aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, aku merasa semakin merasa lemah dan semakin terpuruk dalam dekapannya. Akhirnya aku hanya mampu menangis dan menangis…

“Relain dia Mel, Radit sudah bahagia dan tenang disana, kalau kamu seperti ini terus Radit justru akan semakin sedih Mel. Kamu harus kuat demi orang-orang yang menyayangi kamu.” “Udah nggak ada lagi yang sayang sama aku Ndro, cuma Radit yang sayang sama aku dan sekarang Radit sudah pergi,” aku kembali menangis dipelukan Andro.

“Kamu salah Mel, masih ada seseorang yang sangat menyayangi kamu, seseorang yang ingin kamu kembali tersenyum seperti dulu lagi.”

Deg aku merasakan darahku semakin deras mengalir dan datak jantung semakin kencang berdetak, aku sadar ini nggak boleh terjadi.

“Enggak…kamu nggak boleh sayang sama aku, Ndro. aku cuma bisa buat semua orang yang menyayangiku mati, aku nggak mau kamu celaka Ndro…”

Entah dari mana datangnya kekuatan ini, Aku berlari meninggalkan Andro dengan segala kekecewaannya, dan yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berlari dan terus berlari.

Dua hari setelah peristiwa itu papa mengajakku pindah ke Bogor untuk menenangkan diri. Ya, untuk menenangkan perasaanku yang selalu merasa bersalah jika aku ingat apa yang pernah aku lakukan terhadap mama dan Radit, Bahkan juga pada Andro. Maafkan aku Ndro

***

“Tante tinggal kamu sebentar yang Mel, kalau ada apa apa tante ada di dapur,” wanita itu meninggalkanku di muka pintu yang kini terbuka dihadapanku dimana aku bisa memperhatikan keseluruhan detail ruangan itu. Semuanya masih sama seperti dulu. Kamar bercat biru dengan gorden dan sprei yang berwarna senada. Warna kesukaannya. Poster itupun masih menempel disana, poster jumbo Club 80’s pada dinding diatas karpet bergambar klub sepakbola kebanggaanya. Tempat dimana kami mengekspresikan kegemaran kami.

Ya… aku, Andro dan Radit, tiga sahabat yaang mempunyai kegemaran yang sama. Menyukai musik yang sama, menyukai warna yang sama, dan bahkan mereka menyukai wanita yang sama… ah kenapa aku harus mengungkit kembali luka itu.

Dan dia ada disana di sudut ruangan didepan jendela besar yang menghadap ke taman di belakang rumah. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Tak terasa air mataku jatuh ketika menyentuh tubuh didepanku.

Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanya, perasaan cowok yang dulu tangguh namun kini harus memberikan seluruh hidupnya dikekang oleh kursi roda, karena aku… semua salahku. Aku kembali menangis. Aku membalikkan tubuh itu, tubuh yang dulu pernah memelukku, tubuh sahabatku….dia menangis, sama seperti aku.

“Untuk apa kamu kembali Mel, untuk melihat orang yang nggak berguna ini. Orang yang dulu berpura-pura kuat tetapi dalamnya lembek?” Ya tuhan…aku nggak sanggup lagi melihatnya, semakin aku menatap mata itu semakin besar rasa bersalahku karena telah meningglkannya.

“Maafkan aku Ndro, aku nggak bermaksud…,” aku nggak mampu lagi meneruskan kata-kataku, semuanya terasa membeku, aku memelukknya, tapi ia justru mendorongku hingga aku terjatuh.

“Kenapa kamu ndro, kenapa kamu berubah, kemana andro yang dulu kukenal” “Kenapa…. kamu tanya kenapa mel….kamu tahu apa artinya sakit, disini mel …disini…,” Andro berteriak kearahku sambil menunjuk-nunjuk dadanya.

“Bertahun tahun aku mengharapkan kasih sayang dari mama, tapi justru penolakan yang aku dapatkan. Rasanya aku mau mati Mel. Tapi ketika aku mengenalmu ada sesuatu didirimu yang memberikan aku semangat untuk menghidupkan kembali jiwaku. Senyum kamu mel tapi aku salah menilai kamu, semuanya sama kamu dan mama sama, sayang kalian palsu, kalian menolak aku.”

“Ndro maafin aku ndro aku nggak ingin kamu…,” Aku mencoba menjelaskan tapi lagi-lagi Andro menyerangku dengan kata-katanya yang terus menyiksaku.

“Pergi kamu Mel …kamu udah mati bagiku pergi!” Andro kembali mendorongku dan aku kembali terjatuh, entah dari mana datangnya keyakinan ini, aku tidak lagi berlari meninggalkan Andro seperti yang yang pernah kulakukan dua tahun yang lalu. Aku justru bangkit dan menenangkannya dalam pelukanku.

“Aku nggak akan pergi lagi Ndro…aku akan ada disini buat kamu karena aku sayang kamu…ya, aku sayang kamu Ndro.” Aku merasakan suatu kelegaan yang selama ini belum pernah kurasakan. Kelegaan karena aku bisa jujur pada diriku sendiri mengakui perasaanku yang sesungguhnya pada Andro. Walau aku tahu aku telah berkhianat. Ya aku telah mengkhianati cintaku pada Radit juga berkhianat pada persahabatan kami.

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>