Penantian Ibu saat 21 Mei 2006

Posted on June 6, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Malam gelap. Sekitar sepuluh meter lagi aku sampai di rumah. Menyusuri gang sempit yang remang-remang karena hanya disinari lampu 5 watt. Perjalanan yang lumayan melelahkan hampir 4 jam akan segera tertunaikan dengan berkumpulnya aku kembali dengan anggota keluarga.

“Assalamu`alaikum!” kubuka perlahan pintu belakang rumahku. Tak terdengar jawaban, hanya suara televisi. Mungkin semua asyik menikmati acara televisi. Langsung saja aku masuk dan menuju ke dapur. Entah apa karena mendengar suara di belakang atau yang lain, seorang mendongak ke arah dapur, memicingkan mata sebentar dan menemukan sosok tubuhku sedang mengunyah tempe goreng kesukaanku. Dialah ibuku.

“Oh kamu Yan, kok nggak bilang mau pulang, kan bisa ibu masakin lebih.” Terdengar pelan dan datar, namun aku tahu ada perasaan bahagia pada ibuku.

“Tadi sudah makan kok Bu!” Ujarku ketika menyalami tangannya.
“Ya sudah, cepat temui bapakmu di ruang tamu.”
Aku letakkan terlebih dulu tasku di kamar sebelum rnenghampiri bapak. Di wajahnya terlihat kekagetan ketika aku menghampiri dan menyalaminya.

Mandi pada malam itu menjadi mandi tersegar selama 2 bulan ini. Selama kuliah Surabaya aku mandi dengan air PDAM yang hangat.

Acara televisi malam itu adalah sinetron. Sebenarnya kubenci, tapi berhubung itu acara yang ditonton ibuku terpaksa juga aku ikut nimbrung. Kapan lagi aku bisa duduk-duduk bersama ibuku.

“Beberapa hari lalu ada surat dari kampusmu Yan, tuh di laci yang tengah,” lbuku memulai pembicaraan sambil mengarahkan jari manisnya ke arah laci yang ia maksud. “Kayaknya nilai rapormu nggak seperti yang dulu Yan?” ibuku masih tetap saja menamai nilai semesterku dengan istilah rapor seperti SMA dulu.

“He’eh,” sahutku. “Kata kakakmu sih nilaimu turun Yan, bener nggak?”
Jantungku berdegup. Walaupun ibuku tidak mengerti huruf-huruf

dalam mata kuliah itu, ia selalu bertanya pada kakakku. Ada perasaan bersalah, mengapa aku tidak bisa seperti semasa sekolah. Saat itu ibuku bangga melihat raporku dengan tulisan peringkat ke 1 dari 40 siswa atau peringkat 2 dari 42 siswa. Ingin kujelaskan pada ibuku kuliah berbeda dengan sekolah.

Ya mungkin terlihat tidak adil. Ingin kutegaskan bahwa keberhasilan sewaktu kuliah tidak ditentukan nilai saja. Tapi mana mungkin ibu mengerti. “Ya sudah, kata kakakmu sih kuliah memang sulit, nggak seperti SMA.” Kali ini aku terselamatkan oleh kakakku.

Aku terdiam, ibuku juga terdiam. Mungkin ia tahu aku nggak ingin membicarakan masalah itu. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Ada perasaan gusar yang sulit dijelaskan. Aku tahu, itu tentang ibuku.

“Oh ya Yan, minggu depan pulang lagi ya, kan ada peringatan maulid nabi.” “Aduh, kayaknya nggak bisa Bu soalnya Ryan harus mengerjakan laporan. Ibu tahu sendiri kan disini nggak ada komputer.” “Emhhhh,” gumam ibuku pendek. Kulihat ada gurat kekecewaan di wajahnya.

Kurasa ibu memaklumi. Itu terlihat ketika ia mengarahkan pandangannya kembali ke arah televisi. Tapi aku tahu, pikirannya tidak ada dalam sinetron yang ia tonton.

Malam telah larut dan sampai sejauh itu aku belum bisa memejamkan mata. Ada perasan gelisah. Jam dinding di kamar tanpa henti berdetak memecah kesunyian. Aku tak tahu jam berapa sekarang. Tapi yang kuyakini, pasti tengah malam lebih.

Aku bangkit dari tempat tidur, mungkin sholat malam dapat menenangkan pikiranku. Kudengar kentongan kampung tetangga ditabuh dua kali, pertanda waktu menunjukkan pukul dua. Aku tak tahu siapa yang rajin menabuh kentongan tiap malam. Padahal sekarang sudah jarang kampung yang mengadakan siskamling. Orang-orang lebih senang tidur di rumah, menjaga rumahnya masing-masing.

Baru saja akan melangkah ke kamar mandi mengambil air wudhu, aku dikagetkan suara tertahan karena tangis dari mushalla kecil tak jauh dari kamar mandi. Suara ibuku. Aku berhenti sebentar, aku tak ingin suara air mengganggu kekhusukan do’a ibuku.

“Ya Allah puji syukur padamu yang telah memulangkan anakku di hari ulangtahunku. Walaupun ia mungkin lupa hari ini, karena terlalu sibuk belajar dengan kuliahnya. Tapi aku tetap bersyukur padamu ya Allah. Engkau memberi kado terindah di hari ulang tahunku. Ya Allah, sebagaimana engkau pulangkan anakku hari ini dengan indah. Bimbinglah ia dalam menghadapi masa-masa sulit di perkuliahan. Berikan perlindungan-Mu terhadap anakku dalam menjalani aktivitas, yang jauh dariku ya Allah. Hanya itu permintaanku.”

Deg. Hatiku hancur remuk. Terjawab kegelisahan yang menghantuiku. Aku menyesali diri yang lupa hari ulangtahun ibuku. Walaupun di keluargaku tak ada kebiasaan merayakan ulang tahun, tapi aku tak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibuku setiap 21 Mei dengan kado kecil.

Tapi hari ini, bagaimana mungkin aku lupa hari ini 21 Mei 2006, ulang tahun ke 50 ibu. Aku tak bisa menyembunyikan emosiku. Aku menyesal mengapa dua bulan ini tak pernah membuka buku agendaku, dimana 21 Mei kulingkari spidol merah.

Aku terlalu sibuk dengan kuliah. Yang mungkin lebih aku sesalkan mengapa di terminal aku tak membeli sandal seharga 5000 rupiah, sandal yang kupikir cocok dipakai ibu saat di kamar. Mengapa tadi aku lebih memilih membelikan sisa uangku untuk membeli mie goreng di pinggir jalan.

Penghianatan pada Persahabatan dan Cinta

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Aku mendapati seorang wanita separo baya berdiri di depanku, membuka pintu yang sedari tadi kuketuk. Wanita itu mengamatiku lekat-lekat mencoba mengingat-ingat sosok dihadapannya, sosok yang dulu pernah dikenalnya. Beberapa saat kami hanya mampu diam dan saling memandang.

“Melanie…benar itu kamu sayang….oh Melanie,” tiba-tiba saja tangis wanita itu meledak berhambur bersama pelukannya yang menimpa tubuhku. Dia mengingatku…ya dia mengingatku. Kini aku bisa merasakan kembali desah nafas dan hangat pelukannya, pelukan seorang ibu yang kini rapuh namun mencoba untuk tegar, walaupun aku tahu betapa dalam duka yang dipendamnya.

“Tante tahu Mel…ini salah tante. Tante menyesal karena sudah menyakiti perasaan Andro. Selama ini tante tidak pernah sadar kalau Andro itu ada, tidak pernah tahu kalau dia juga punya perasaan. Sekarang tante sadar Mel. Tapi semuanya sudah terlambat. Sudah tidak ada lagi maaf Andro buat tante. Tolong tante Mel….Cuma kamu yang bisa menyadarkan Andro. Tolong tante ya Mel,” dia kembali menangis dan terus saja menyesali dirinya, menyesal karena telah membuat Andro membencinya selama bertahun-tahun. Menyesal karena telah menolak kehadiran Andro yang tidak pernah diharapkan. Seorang anak yang lahir bukan atas dasar cinta.

Kini dia hanya bisa membiarkan Andro menganggapnya sudah mati dan menganggap bahwa ia tidak pernah dilahirkan oleh seorang wanita yang ingin dipanggilnya mama.

Wanita itu mulai tenang. Sudah kulihat senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum getir yang dipaksakan sekadar menghibur hati yang galau. Walau masih jelas kutangkap setitik air diujung matanya yang berkaca. Kami mulai saling bertukar cerita. Cerita tentang dirinya. Cerita tentang Andro dan tentang peristiwa itu. Peristiwa dua tahun lalu yang mengawali kisah ini.

Raditya Purnama. 19 Juli 1980 - 23 Desember 2005. Semua pelayat sudah mulai kembali kerumah mereka masing-masing, tante Ranti, mama Radit juga sudah mulai meninggalkan area pemakaman didampingi sanak keluarga. Hanya aku yang masih bertahan disini. Didepan tempat peristirahatan Radit dengan sejuta penyesalan yang terus berkecamuk dibatinku. Rasa bersalah karena membiarkan Radit pergi tanpa mendengarkan penjelasan dariku. Rasa bersalah karena penghianatan yang telah kulakukan.

“Sudah siang Mel, sudah waktunya kita pulang,” aku menoleh sebentar ke arah suara itu. Kulihat Andro berjongkok disampingku mengusap rambutku dan menyeka air mata yang telus mengalir membasahi pipiku.

“Sebentar lagi ya Ndro. Aku mau nemenin Radit sebentar lagi. Kasihan dia pasti kesepian disana,” aku merengek kepada Andro sambil menatap nisan yang bertuliskan nama Radit.

“Udah mau hujan nih Mel, nanti kamu sakit lagi. Kamu nggak mau kan Radit lihat kamu terus-terusan sedih begini!” Andro kembali membujukku, akhirnya akupun menerima ajakannya.

Namun, belum sempat aku berdiri, aku merasakan duniaku berputar, semuanya tampak gelap dan aku tidak sadarkan diri. Sebuah wangi hangat menyengat memenuhi dadaku. Aku membuka mataku dan menyadari bahwa aku berada disuatu ruangan. Tapi dimana ini…. sepertinya aku kenal ruangan ini. Wangi parfum ini dan… Ya Tuhan air mataku kembali menetes. Aku sadar sekarang, wangi ini….ya ini wangi radit. Aku memaksakan diriku bangun.

Namun belum sempat aku berdiri, badanku kembali sempoyongan dan sebuah tangan yang kuat menopangku sebelum aku sempat terjatuh… tangan Andro. “Kamu mau kemana Mel, kamu belum sehat,” Andro mencoba menghentikanku ketika kulepaskan tangannya dari tubuhku.

“Lepasin aku Ndro, aku mau nemenin Radit, kasihan dia sendirian, pasti dia kesepian malam ini,” aku meronta-ronta seperti orang gila. Mencoba melepaskan pelukan Andro yang ingin menghalangiku. Namun semakin aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, aku merasa semakin merasa lemah dan semakin terpuruk dalam dekapannya. Akhirnya aku hanya mampu menangis dan menangis…

“Relain dia Mel, Radit sudah bahagia dan tenang disana, kalau kamu seperti ini terus Radit justru akan semakin sedih Mel. Kamu harus kuat demi orang-orang yang menyayangi kamu.” “Udah nggak ada lagi yang sayang sama aku Ndro, cuma Radit yang sayang sama aku dan sekarang Radit sudah pergi,” aku kembali menangis dipelukan Andro.

“Kamu salah Mel, masih ada seseorang yang sangat menyayangi kamu, seseorang yang ingin kamu kembali tersenyum seperti dulu lagi.”

Deg aku merasakan darahku semakin deras mengalir dan datak jantung semakin kencang berdetak, aku sadar ini nggak boleh terjadi.

“Enggak…kamu nggak boleh sayang sama aku, Ndro. aku cuma bisa buat semua orang yang menyayangiku mati, aku nggak mau kamu celaka Ndro…”

Entah dari mana datangnya kekuatan ini, Aku berlari meninggalkan Andro dengan segala kekecewaannya, dan yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berlari dan terus berlari.

Dua hari setelah peristiwa itu papa mengajakku pindah ke Bogor untuk menenangkan diri. Ya, untuk menenangkan perasaanku yang selalu merasa bersalah jika aku ingat apa yang pernah aku lakukan terhadap mama dan Radit, Bahkan juga pada Andro. Maafkan aku Ndro

***

“Tante tinggal kamu sebentar yang Mel, kalau ada apa apa tante ada di dapur,” wanita itu meninggalkanku di muka pintu yang kini terbuka dihadapanku dimana aku bisa memperhatikan keseluruhan detail ruangan itu. Semuanya masih sama seperti dulu. Kamar bercat biru dengan gorden dan sprei yang berwarna senada. Warna kesukaannya. Poster itupun masih menempel disana, poster jumbo Club 80’s pada dinding diatas karpet bergambar klub sepakbola kebanggaanya. Tempat dimana kami mengekspresikan kegemaran kami.

Ya… aku, Andro dan Radit, tiga sahabat yaang mempunyai kegemaran yang sama. Menyukai musik yang sama, menyukai warna yang sama, dan bahkan mereka menyukai wanita yang sama… ah kenapa aku harus mengungkit kembali luka itu.

Dan dia ada disana di sudut ruangan didepan jendela besar yang menghadap ke taman di belakang rumah. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Tak terasa air mataku jatuh ketika menyentuh tubuh didepanku.

Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanya, perasaan cowok yang dulu tangguh namun kini harus memberikan seluruh hidupnya dikekang oleh kursi roda, karena aku… semua salahku. Aku kembali menangis. Aku membalikkan tubuh itu, tubuh yang dulu pernah memelukku, tubuh sahabatku….dia menangis, sama seperti aku.

“Untuk apa kamu kembali Mel, untuk melihat orang yang nggak berguna ini. Orang yang dulu berpura-pura kuat tetapi dalamnya lembek?” Ya tuhan…aku nggak sanggup lagi melihatnya, semakin aku menatap mata itu semakin besar rasa bersalahku karena telah meningglkannya.

“Maafkan aku Ndro, aku nggak bermaksud…,” aku nggak mampu lagi meneruskan kata-kataku, semuanya terasa membeku, aku memelukknya, tapi ia justru mendorongku hingga aku terjatuh.

“Kenapa kamu ndro, kenapa kamu berubah, kemana andro yang dulu kukenal” “Kenapa…. kamu tanya kenapa mel….kamu tahu apa artinya sakit, disini mel …disini…,” Andro berteriak kearahku sambil menunjuk-nunjuk dadanya.

“Bertahun tahun aku mengharapkan kasih sayang dari mama, tapi justru penolakan yang aku dapatkan. Rasanya aku mau mati Mel. Tapi ketika aku mengenalmu ada sesuatu didirimu yang memberikan aku semangat untuk menghidupkan kembali jiwaku. Senyum kamu mel tapi aku salah menilai kamu, semuanya sama kamu dan mama sama, sayang kalian palsu, kalian menolak aku.”

“Ndro maafin aku ndro aku nggak ingin kamu…,” Aku mencoba menjelaskan tapi lagi-lagi Andro menyerangku dengan kata-katanya yang terus menyiksaku.

“Pergi kamu Mel …kamu udah mati bagiku pergi!” Andro kembali mendorongku dan aku kembali terjatuh, entah dari mana datangnya keyakinan ini, aku tidak lagi berlari meninggalkan Andro seperti yang yang pernah kulakukan dua tahun yang lalu. Aku justru bangkit dan menenangkannya dalam pelukanku.

“Aku nggak akan pergi lagi Ndro…aku akan ada disini buat kamu karena aku sayang kamu…ya, aku sayang kamu Ndro.” Aku merasakan suatu kelegaan yang selama ini belum pernah kurasakan. Kelegaan karena aku bisa jujur pada diriku sendiri mengakui perasaanku yang sesungguhnya pada Andro. Walau aku tahu aku telah berkhianat. Ya aku telah mengkhianati cintaku pada Radit juga berkhianat pada persahabatan kami.

Cinta

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: A Special For....

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis? Ketika kita membayangkan?
Itu karena hal terindah didunia TIDAK TERLIHAT…
Kita semua agak aneh… dan hidup sendiri juga rada aneh.
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita…
Kita bergabung dengannnya dan jatuh ke dalam suatu keanehan yang serupa yang dinamakan CINTA…

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan…
Tapi ingatlah… melepas BUKAN akhir dari dunia…
Melainkan awal suatu kehidupan baru…

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti,
Mereka yang telah mencari… dan mereka yang telah mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa
Pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..

CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata
‘Aku turut bahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil… BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI…
Ingatlah… bahwa kau mungkin menemukan cinta dan kehilangannya
Tapi ketika cinta itu mati, kau tidak perlu mati bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana… dalam perjalanan kehidupan,
Kamu belajar tentang dirimu sendiri
Dan menyadari… bahwa penyesalan tidak seharusnya ada…
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kamu buat.

TEMAN SEJATI mengerti ketika kamu berkata ‘Aku lupa..’
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu Sebentar’
Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘Tinggalkan Aku Sendiri’
Membuka pintu meskipun kamu belum mengetuk dan berkata ‘Bolehkah Aku Masuk?’

MENCINTAI… BUKANLAH kamu melupakan..
Melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN

BUKANLAH bagaimana kamu mendengarkan
Melainkan bagaimana kamu MENGERTI

BUKANLAH apa yang kamu lihat
Melainkan apa yang kamu RASAKAN

BUKANLAH bagaimana kamu melepaskan
Melainkan bagaimana kamu BERTAHAN

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati…
Dibandingkan menangis tersedu-sedu.. air mata yang keluar dapat dihapus..
Sementara air mata yng tersembunyi menggoreskan luka yang takkan pernah hilang

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah,
Kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia.. dapat mencintai seseorang..
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya

Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia…
Jangan pernah percaya bahwa melepaskan akan SELALU berarti kamu benar-bener mencintai
MELAINKAN.. BERJUANGLAH demi cintamu itulah CINTA SEJATI

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA orang yang berada disekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang
Hanya dengan ‘seseorang’

Kadang kala, orang yang PALING kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu
Dan kadang kala, teman yang membawamu kedalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kau sadari…

[[[[[[[

CINTA adalah anugerah, membuat kita tertawa
Membuat kita menyanyi, membuat kita sedih, membuat kita menangis, membuat kita bertanya mengapa?
Membuat kita menerima. Membuat kita memberi. Dan yang penting membuat kita hidup.

Bukanlah kehadiran dan ketidakhadiran yang penting, kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Yang jadi masalah bukan bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.

Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka sudah
berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima atau dibalas itulah saat hidup menjadi penuh makna

Always…
Love

Perempuan yang Masih Ingin Berani Memulai Mimpi

Posted on June 3, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Cerpen.

Perempuan itu kini tidak mengharapkan apa pun.
Tidak juga sekadar bermimpi. Bukanlah kepesimisan yang pelan-pelan, kemudian
bertambah cepat, sedang membunuh jiwanya. Tapi, dia hanya berusaha menyesuaikan
dirinya pada realitas yang ada.

 

Tidak lagi ia sanggup bermimpi. Bermimpi membangun
rumah tangga. Padahal, sejak kelas tiga SMU, atau enam tahun yang lalu, impian
itu menjadi salah satu poin besar rancangan hidupnya. Tapi kini tidak lagi.
Kini, ia hanya ingin mengalir seperti air. Ia tak ingin mematok target lagi.
Sebab ia tidak ingin air matanya kembali tertumpah hanya karena keinginan yang
entah kapan akan terwujud.

 

Bukan karena dirinya mengidap penyakit AIDS, kanker
rahim, atau apa pun itu, yang kemungkinan besar akan membuat seorang laki-laki
harus berpikir keras untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Bukan.
Bukan itu. Tapi karena kondisi yang dialami dirinya, lebih tepatnya
keluarganya, yang menyebabkan dirinya tak sanggup lagi berkeinginan berumah
tangga. Bahkan untuk sekadar bermimpi.

 

Kita semua pasti setuju, bahwa jika seseorang akan
menikah, maka ia harus menyiapkan mental, fisik, materi, dan sebagainya. Akan
tetapi, tidak demikian halnya dengan perempuan itu. Ia, perempuan itu, harus
menambah tuntutan tersebut dengan satu persiapan lagi. Yaitu bekal untuk
menghadapNya di akhirat nanti. Memang, bukan hanya perempuan itu yang harus menyiapkan
bekal ke akhirat dengan sebaik mungkin. Melainkan setiap mukmin. Tapi, bagi
perempuan itu, persiapan bekal akhirat menjadi sesuatu yang wajib adanya.
Sebab, ketika ia memutuskan untuk menikah, nyawanyalah yang akan dipertaruhkan.
Benarkah? Ya, benar. Karena kakak pertamanya belum menikah. Perempuan. Mengidap
penyakit kejiwaan. Dan…, pernah mengancam akan menghabisi nyawa adiknya,
perempuan itu.

 

Setidaknya, itulah yang terlontar dari mulut sang
kakak perempuan itu. Itu terjadi ketika sang kakak tahu bahwa ada seorang
laki-laki sholeh yang ingin melamar sang adik, perempuan itu. Amarah liar
kakaknya itu menjadi-jadi. Barang-barang pecah belah pun di lemparnya di depan
mata perempuan itu. Teriakan histeris sang kakak membahana, hingga keesokan
harinya para tetangga mulai menatap keluarga perempuan tersebut dengan tatapan
yang tidak seperti biasanya.

 

Akan tetapi, sesungguhnya, perempuan itu tidak
takut mati. Bahkan di tangan kakaknya sendiri yang mengidap skizofrenia sejak
sembilan tahun yang lalu.

 

Tidak. Ia tidak takut mati.

 

Yang ia takutkan hanyalah, apabila sepeninggalnya
nanti, orang-orang yang dicintainya justru tidak kuasa menghadapi cobaan ini.
Tidak sanggup mengikhlaskan semua ini.

 

Yang ia takutkan adalah jika adik laki-lakinya yang
begitu disayanginya, yang juga tidak begitu kuat mental dan ruhiyahnya itu
(akibat sembilan tahun berhadapan dengan seorang kakak yang terganggu jiwanya),
akan semakin dalam memasuki jurang. Hingga untuk kembali ke rumah setelah
bekerja seharian, bukanlah menjadi pilihan utama. Melainkan lebih baik menginap
di rumah teman. Dan perempuan itu tidak tahu, apakah sang teman akan
mengingatkan adiknya bila waktu sholat telah tiba? Akan mengingatkan jika jalan
sang adik mulai menyimpang?

 

Yang perempuan itu takutkan pula, jika kedua orang
tua yang begitu dikasihinya, tidak lagi kuat menahan tatapan sinis para
tetangga, yang seakan-akan memperolok mereka: "Kalian orang tua yang gagal
mendidik anak. Lihat saja, seorang anaknya sakit jiwa…" (Padahal,
perempuan itu yakin benar bahwa ujian ini sebenarnya bisa saja ditimpakan Allah
kepada siapa saja. Namun Allah memilih keluarga perempuan itu untuk
menghadapinya).

 

Tidak. Ia tidak sanggup melihat mata kedua orang
tuanya semakin sembab setiap pagi, akibat sepertiga malam terakhirnya selalu
membanjiri sajadah mereka dengan doa pengharapan agar sisa kebaikanNya masih
tetap terselip bagi keluarga perempuan itu.

 

Akhirnya, seiring berjalannya waktu, perempuan itu
kini mencoba berharap kembali padaNya. Mencoba untuk berani memulai mimpinya
yang sempat menguap begitu saja. Ia masih ingin, ingin sekali membangun rumah
tangga Islami yang dulu pernah didambakannya dengan seorang laki-laki sholeh,
yang lebih kuat keimanannya dari pada dirinya. Meskipun, ia juga sangat menyadari, kondisinya masih saja tidak
semudah yang ia bayangkan. Ia hanya ingin memasrahkan segalanya padaNya, apa
pun itu keputusanNya.

 

Hingga akhirnya, beruntunglah ia masih berani
menyimpan sebuah doa, yang selalu ia panjatkan sebelum tidur malamnya,
"Allah, jika engkau tidak memperkenankan aku bertemu penamping hidupku di
dunia ini, berikanlah ganjaran yang terbaik di sisiMu kelak…"

 

Alhamdulillah. Sejak itu, sang perempuan menjadi
lebih kuat dari pada sebelumnya. Karena ia percaya, segala sesuatu pasti ada
batasnya. Karena ia percaya, air mata tak abadi, akan hilang dan berganti. Pun
ia percaya, semakin besar ujian seseorang, semakin besar pahala yang akan
didapatkan jika keikhlasan menjadi perisainya.

 

Apalagi ia juga percaya…, bersama kesulitan, ada
kemudahan…. Seperti sekarang ini. Ia memang masih sulit menghadapi perangai
kakaknya. Tapi ia diberiNya kemudahan untuk menjadi seorang muslimah yang
benar-benar Islam. Mampu berserah diri padaNya setulus-tulusnya…