You are looking at posts that were written in the month of March in the year 2007.
Newer »You are looking at posts that were written in the month of March in the year 2007.
Newer »| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | Apr » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |
Wanita Suci
(Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di
Dunia)
Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena
toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak
mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah
makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu
dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkanpersamaan.
Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan
membuatkumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan
inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding
khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat
mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh
Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.
Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak
berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri,
berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan
pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin
kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau
kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.
Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu
kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi
karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada
wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski
hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin
kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.
Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan
sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata
otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki
itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang
lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda
Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab
suci.
Wanita suci
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati
ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau
nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu
terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu
menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an tangis
do’amu.
Wanita suci
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu
pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan
itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang
kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta
ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak
pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat
kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi
kita.
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis? Ketika kita membayangkan?
Itu karena hal terindah didunia TIDAK TERLIHAT…
Kita semua agak aneh… dan hidup sendiri juga rada aneh.
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita…
Kita bergabung dengannnya dan jatuh ke dalam suatu keanehan yang serupa yang dinamakan CINTA…
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan…
Tapi ingatlah… melepas BUKAN akhir dari dunia…
Melainkan awal suatu kehidupan baru…
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti,
Mereka yang telah mencari… dan mereka yang telah mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa
Pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..
CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata
‘Aku turut bahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil… BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI…
Ingatlah… bahwa kau mungkin menemukan cinta dan kehilangannya
Tapi ketika cinta itu mati, kau tidak perlu mati bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana… dalam perjalanan kehidupan,
Kamu belajar tentang dirimu sendiri
Dan menyadari… bahwa penyesalan tidak seharusnya ada…
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kamu buat.
TEMAN SEJATI mengerti ketika kamu berkata ‘Aku lupa..’
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu Sebentar’
Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘Tinggalkan Aku Sendiri’
Membuka pintu meskipun kamu belum mengetuk dan berkata ‘Bolehkah Aku Masuk?’
MENCINTAI… BUKANLAH kamu melupakan..
Melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN
BUKANLAH bagaimana kamu mendengarkan
Melainkan bagaimana kamu MENGERTI
BUKANLAH apa yang kamu lihat
Melainkan apa yang kamu RASAKAN
BUKANLAH bagaimana kamu melepaskan
Melainkan bagaimana kamu BERTAHAN
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati…
Dibandingkan menangis tersedu-sedu.. air mata yang keluar dapat dihapus..
Sementara air mata yng tersembunyi menggoreskan luka yang takkan pernah hilang
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah,
Kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia.. dapat mencintai seseorang..
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya
Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia…
Jangan pernah percaya bahwa melepaskan akan SELALU berarti kamu benar-bener mencintai
MELAINKAN.. BERJUANGLAH demi cintamu itulah CINTA SEJATI
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA orang yang berada disekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang
Hanya dengan ‘seseorang’
Kadang kala, orang yang PALING kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu
Dan kadang kala, teman yang membawamu kedalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kau sadari…
CINTA adalah anugerah, membuat kita tertawa
Membuat kita menyanyi, membuat kita sedih, membuat kita menangis, membuat kita bertanya mengapa?
Membuat kita menerima. Membuat kita memberi. Dan yang penting membuat kita hidup.
Bukanlah kehadiran dan ketidakhadiran yang penting, kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Yang jadi masalah bukan bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang
Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.
Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka sudah
berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima atau dibalas itulah saat hidup menjadi penuh makna
Always…
Love

When U are lonely
I wish Love U
When U are down
I wish U joy
When U are troubled
I wish U peace
When things are complicated
I wish U simple beauty
When things are chaotic
I wish U inner silence
when things look empty
I wish U hop
HP miliknya ngadat. Komunikasi jadi tidak lancar.
Apalagi, wali murid tempat ia mengajar setiap saat dapat saja
menghubunginya. Untuk service, kantungnya sudah sangat tipis. Apalagi
ganti HP baru, sangat tidak mungkin.
Wajahnya berbinar melihat putri kecil dan anak lelakinya riang
menyambutnya pulang. Hatinya terhibur. Hilang seketika setumpuk beban
urusan yang tengah dirasakannya akhir-akhir ini. Mikal, putri sulung
empat tahunnya, selalu berceloteh saat menyambutnya pulang. Rayyan,
adiknya, baru tiga tahun, seakan bayangan utuh dirinya. Sangat mirip.
Anak itu, pandai mengambil hati ayah bundanya.
Malam setelah Isya ditunaikan, ia mengambil tempat di antara kedua
buah hati dan isterinya yang tengah menuntun putrinya belajar
melafalkan "Iqra." Lucu. Belajar Iqra sambil nonton televisi.
"Yah, maaf ya, tadi ada yang datang. Katanya masih saudara Ayah."
Isterinya kembali membuka obrolan ringan seperti malam-malam berlalu.
"Siapa?"
Penjelasan isterinya mengalir datar. Aduh, ternyata urusan uang. Uang lagi.
" Bunda, itu kan uang terakhir kita. Ongkos untuk jenguk Umi dan Mbahnya Rayyan. Ayah ga ada lagi lo!."
Meski ditekan perasaannya, keluar juga isi hatinya. Padahal ia tidak
pernah ingin melibatkan emosi isterinya dalam urusan finansial.
"Habis bagaimana Yah, Bunda kasihan. Ga tega. Melas-melasin minjemnya." Isterinya seolah ingin membela tindakannya.
Sebenarnya, ia faham betul watak isteri yang telah menemaninya hampir enam tahun itu. Murah belas-kasih. Ga tegaan.
Hari-harinya memasuki spektrum bayang-bayang keterbatasan dan
kegelisahan. Keuangannya tersudut di ruang hampa tanpa angka-angka dan
nilai harga. Tapi, sujud dan rukunya, selalu memompa semangatnya.
Hari Sabtu. Longgar.
"Gimana Yah, tetap jadi berangkat ke Jakarta? Anak-anak sejak semalam ribut terus."
Hatinya semakin tercekat. Apalagi janji si penghutang untuk mengembalikan dalam satu hari janjinya, nihil.
Subhanallah. Hatinya lirih.
"Bismillah, Bunda, yuk siap-siap." Katanya seketika. Meskipun di dompetnya hanya ada selembar 50 ribuan.
Awal Ramadhan 1427 H, dan setiap kali awal Ramadhan, seperti biasa,
keluarga kecilnya mengunjungi kedua kakek-nenek anak-anaknya. Mereka
biasa memanggilnya Ummi dan Mbah. Lucu, ga kompak, istilah Arab
dikawinkan dengan istilah Jawa. Tapi suasana kedekatan dan kecintaan
kedua orang sepuh itu pada cucu-cucunya, tak terlukiskan.
Hatinya gelisah di sela kesabarannya. Berhimpitan. Biasanya ia
selalu membawa sesuatu sekedar buah tangan menyambut Ramadhan. Tapi
kali ini terlewatkan.
Pulang.
* * *
"Ayah, itu ada dompet. Ambil Yah, selamatkan. Kasihan kan yang
punya!." Tiba-tiba putri kecilnya berteriak sambil menunjuk sebuah
dompet hitam yang tergeletak di atas aspal samping stasiun Beos.
Hatinya ragu. Tapi kata-kata putrinya "selamatkan", ada benarnya.
Suasana batinnya bermain, nakal dan liar. Hati kecilnya berujar jujur, kembalikan.
48 jam setelah disurati, si pemilik dompet datang ke kantor
tempatnya mengajar. Sang pemilik dompet tidak mengira bahwa isi
dompetnya masih utuh. SIM, STNK, KTP dan lembaran-lembaran 50 ribuan
dan beberapa 20 ribuan, masih utuh.
"Bunda, dompet beserta isinya telah diambil pemiliknya ke kantor
Ayah tadi siang." Baru kali ini, ia yang memulai obrolan ringan
keluarga. Hangat dan bersahaja.
"Al-hamdulillah. Ternyata, Mikal sangat terpengaruh Yah, dengan buku
cerita yang beberapa waktu lalu kita beli dan Bunda bacakan." Isterinya
menyodorkan buku cerita anak-anak berjudul " Ini Dompet Siapa?"
Dibolak-balik buku cerita itu. Ya Allah, pesan cerita itu telah
dibunyikan oleh putrinya beberapa waktu lalu. Pantas, ia begitu nyaring
memintanya mengambil dompet itu.
Hatinya lega. Perangnya telah usai. Dompet telah kembali pada
pemiliknya. Allah telah menyelamatkan niatnya melalui polah putrinya
yang belum lagi dewasa.
* * *
HPnya masih beberapa waktu lalu, rusak. Komunikasi elektroniknya
terputus. Biasanya, menjelang Idul Fitri, hampir tiada jeda, telponnya
itu menjerit mengingatkan pesan masuk atau panggilan yang isinya
sekedar ucapan selamat. Biasanyapun, undangan ceramah
Dikonfirmasi lewat benda segi empatnya itu.
Ia mencoba lapang. Biarlah.
Malam menjelang tidur, pintu rumah kontrakkan yang dihuninya
diketuk. Salam dijawab. Tanpa basa-basi, disuruhnya masuk si tukang
ketuk. Seorang dari keponakannya datang menyampaikan sesuatu.
"Bang, ada titipan dari pak Jabal."
Ingatannya mengembara. Pak Jabal Thariq, sahabat, mantan atasannya
dulu sewaktu masih mengajar di SMK yang dipimpinnya satu setengah tahun
yang lalu.
Hatinya bertanya, apakah gerangan. Sang keponakan pamit. Dibukanya bingkisan itu perlahan.
Subhanallah!, HP Nokia 6020. Baru.
Ia berujar, Iman memang lebih berharga dari segalanya. Kejujuran dan
kesabaran memang lebih mahal dari dari semuanya. Thank’s pak Jabal. Jazakallah.
Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?
Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.
Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.
Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.
So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.
Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)
Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?
Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.
Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!
Kenapa harus pacaran?
Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.
Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?
Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?
Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.
Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.
Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!
Jomblo adalah pilihan
Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?
Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!
Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).
Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.
Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?
Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?
Jomblo tapi sholihah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.
Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.
Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?
Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!
Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!
Terus terang saya pernah merasakan kesedihan yang cukup mendalam
karena kehilangan orang tercinta. Terlebih saat itu saya masih sangat
butuh bimbingan seorang ibu. Figur yang paling dekat bagi seorang anak
perempuan. Beliau diambil oleh Sang Khalik setelah bertahun-tahun sakit
keras.
Saat itu, memang saya sedikit kurang mengerti “Kejadian ini mengapa
dengan segera menimpa saya? Ini sungguhkah?”. Tapi saya selalu teringat
pesan ibu saya bahwa “Allah Pemilik semuanya, kamu, Mamah, Bapakmu,
Mas-mas dan Mbakmu bahkan seluruh yang ada di dunia ini. Jadi,
ibaratnya titipan, kita harus legowo kalau yang punya sudah memintanya
kembali”. Jadi, satu hal yang membesarkan hati saya, bisa jadi ibu saya
lebih dicintai Allah SWT sehingga dengan segera diambil, tidak terlalu
lama dititipkan.
Saya mungkin lebih beruntung daripada rekan saya ini. Saat gempa
kemarin, dia telah kehilangan 2 orang anggota keluarganya dalam waktu
sehari, dan bahkan hanya dalam hitungan jam. Ibu dan adik laki-lakinya
telah meninggal tertimpa rumahnya.
Di hari terjadinya gempa itu, rekan akhwat ini telah bersiap-siap
pergi kajian pagi ke Masjid Mardliyah dekat kampus. Wajar saja, karena
perjalanan dari rumahnya hingga kampus UGM membutuhkan waktu kurang
lebih 45 menit-an maka pukul 5.50 WIB, dia sudah berjilbab rapi. Baru
selesai mengenakan kaos kaki sebelah kanan, ternyata rumahnya seperti
digoncang, kontan dia berlari keluar rumah.
Tapi ternyata dia ingat, ibu, bapak dan 2 orang adiknya masih di
dalam. Akhirnya masuklah dia kembali ke dalam rumah. Pada saat yang
bersamaan tersebut, ibunya juga sudah keluar lewat pintu belakang. Tapi
teringat juga dengan suami dan anak-anaknya, masuklah beliau kembali ke
dalam rumah. Kedua adiknya ternyata masih di dalam kamar begitu pula
bapaknya yang juga tidak sempat menyelamatkan diri. Akhirnya, jadilah
mereka sekeluarga tertimpa bangunan di dalam rumah.
Begitu pula rekan saya tadi. Ternyata Allah masih memudahkannya
untuk bisa keluar dari reruntuhan itu dan mendengar sang bapak
merintih-rintih. Dengan dibantu tetangganya, akhirnya bapaknya dan adik
perempuannya bisa ditemukan.
Dalam beberapa saat kemudian, ibunya juga ditemukan, tapi sungguh
kondisinya sangat menyedihkan. Bagian kepalanya nyaris remuk dan
seketika beliau telah diambil oleh Sang Khalik. Adik laki-lakinya saat
ditemukan, tertimbun reruntuhan bangunan dan saat akan dibawa ke rumah
sakit, adiknya meninggal.
Tak bisa dibayangkan, kesedihan rekan saya saat itu. Dalam hitungan
jam, dia kehilangan 2 orang yang dicintainya. Ya.dalam sesaat saja,
jika Allah menginginkan, maka dalam sekejab itu pula, titipan itu
diambilNya. Oleh sebab itu, seperti rumusnya tukang parkir, yang
menjaga amanatnya dengan sebaik-baiknya, dan rela jika diambil oleh
sang pemiliknya kembali. Karena titipan adalah titipan, tak bisa
selamanya menjadi milik kita.
Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat
di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari,
ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun.
Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik
karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis
kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di
wajah wanita pengamen itu.
Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk
menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan
pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis
lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi
di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota. Yang ia tahu hanyalah,
terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma
bis kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh
hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.
Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang,
Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga
tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma
pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual
dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya
terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian
terlelap kembali merajut mimpi indahnya.
Anak pasar itu –kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab
apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia
tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah
tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat
transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani
ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk
menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap
mengakrabinya.
Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta
api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal
si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti
itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu
mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah
bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”
Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya
yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya
memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki
saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di
setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil
selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia.
Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi
sekeping receh yang diharapnya.
***
Anak-anak itu, memang belum akan men
gerti sebab apa ibunya mengejar
bis kota, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong
kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari
ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap
kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu
berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.
Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah
yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam
kamus hidup seorang ibu.
Entah kenapa saya ingin sharing cerita ini. Tiada maksud lain
kecuali berbagi pengalaman yang membuat saya semakin yakin, bahwa Allah
senantiasa ada disaat kita membutuhkan kehadiran-Nya. Sekali lagi yang
ingin saya tegaskan, Allah selalu hadir jika kita membutuhkannya, meski
sesungguhnya Allah tidak pernah ke mana-mana dan senantiasa di dekat
kita. Hanya saja, seringkali kita mengabaikan keberadaannya, atau
bahkan sedang ‘tidak’ membutuhkan-Nya.
Pekan kedua di bulan Februari ini, saya mengalami banyak hal yang
cukup menguras pikiran. Ini bukan soal handphone yang hilang, lebih
dari itu. Ibu saya sakit dan butuh biaya yang tidak sedikit. Di pihak
lain, Ayah (mertua) saya masuk rumah sakit, dirawat dan sudah tentu
membutuhkan biaya. Memang tidak hanya saya, anak yang harus menanggung
semua biaya tersebut dan biasanya memang tidak demikian. Hanya saja,
-saya yakin ini skenario Allah- adik-adik saya, dan juga adik-adik
isteri, untuk kali ini tidak bisa maksimal membantu seperti biasanya.
Jadilah, sebagian besar biaya itu harus diselesaikan oleh saya.
Saya mencoba tenang untuk mengatasinya. "Insya Allah ada, " jawaban saya untuk isteri yang bertanya, "Abang punya uang?"
Alhamdulillah uang di tabungan sudah dikirim untuk membeli obat ibu.
Kini giliran mengupayakan uang untuk biaya rumah sakit Ayah. Di pekan
kedua Februari itu, mulai bingung memutar otak dari mana mencari uang,
padahal tiga hari lalu Ayah sudah boleh pulang. Saya pun teringat satu
hal yang membuat optimis bisa mengatasi semua ini. Bulan Februari
adalah bulan pembayaran royalti buku saya. "Semoga penerbit tidak telat
mentransfernya ya Allah, " doa saya.
Senin sore pekan kedua itu, mampir ke ATM untuk cek saldo.
Mengernyit dahi ini, melihat saldo tidak bertambah. Berarti belum ada
transferan royalti. Saya pun pulang dengan lesu. Dua hari lagi Ayah
pulang, uang belum di tangan. Esok malamnya, saya berniat kembali ke
ATM, lagi-lagi untuk cek saldo. Sebelumnya, mampir dulu membeli
martabak pesanan si kecil. Pada saat menunggu pesanan, tiba-tiba
seseorang mencolek lengan saya, "kasihan pak, minta uang pak…"
rupanya seorang nenek pengemis.
Ada tinggal satu lembar uang di kantong, karena sebelumnya sudah
saya bayarkan ke tukang martabak. "bismillaaah…" yang selembar itulah
yang saya berikan ke pengemis tua itu. Sedetik kemudian, meluncurlah
sebaris doa, "dimudahkan urusannya, dilancarkan rezekinya, dipanjangkan
umurnya…" Tidak menunggu aba-aba, saya segera mengaminkan doa
pengemis tua itu.
Memang, doa seperti itu yang saya harapkan. Secepat mungkin saya
mengaminkan doa itu, berharap Allah benar-benar memudahkan segala
urusan yang tengah merumitkan pikiran ini. Setelah membeli martabak,
mampir lah saya ke ATM untuk cek saldo. "Semoga sudah ada, " harap saya.
Malang niang nasib lelaki ini. Baru saja memasukkan kartu ATM,
rupanya mesin ATM-nya error. Kartu langsung ‘tertelan’, sedang hari
sudah malam. Tidak bisa complain terhadap petugas bank atau lainnya.
Saya mencoba membenahi hati, "terima kasih Allah telah melatih
kesabaran buat hamba" ujar saya dalam hati.
Esoknya, tepat di hari Ayah akan pulang dari rumah sakit. Saya
kembali ke Bank tempat kartu ATM saya ‘tertelan’ untuk mengurusnya. Tak
lebih dari lima belas menit, urusan pun selesai. Saat itulah saya
menuju ATM lagi, dan "Subhanallah, terima kasih ya Allah…" saya
bersyukur habis-habisan. Sejumlah uang yang saya butuhkan untuk biaya
rumah sakit nampaknya bukan lagi masalah.
Terima kasih Allah, atas pelajaran berharga di pekan kedua Februari
itu. Allah, memang selalu hadir disaat kita memang membutuhkan-Nya.
Walau saya pun tahu, andai kita mengabaikan-Nya pun, Dia selalu ada.
Teman itu berarti seseorang di luar diri kita yang mengenal kita dan
berkenan berbicara dengan kita. Dia bisa siapa saja. Bisa orang tua
kita, bisa tetangga, bisa rekan kantor atau saudara kita sendiri. Teman
adalah orang yang tidak membuat kita merasa buruk juga tidak membuat
kita menjadi buruk Sedangkan musuh kita adalah sebaliknya, orang yang
membuat kita merasa buruk dan lebih buruk lagi dia dengan sengaja
membuat kita menjadi lebih buruk.
Wah, kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir manakala putriku
satu-satunya mempertanyakan apa arti seorang teman. Tak tahu bagaimana
menerangkan dengan lebih jelas lagi definisi teman dan musuh. Ini bukan
pertama kalinya aku kesulitan menerangkan definisi suatu hal pada
seorang anak berusia 10 tahun.
Berusaha menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana yang bisa
mereka mengerti. Sementara pengetahuan dan wawasanku juga terbatas. Apa
yang kuterangkan lebih kepada apa yang kutahu saja dan apa yang kurasa
dari pengalaman hidupku. Kusadari kadang jawaban-jawabanku tidak bisa
memuaskannya namun kuyakinkan hatiku bahwa bagaimana pun setiap
jawabanku ditujukan sekaligus untuk mendidiknya menjadi lebih baik.
“Jadi teteh boleh pilih-pilih teman?”
“Ya tergantung dong sayang…”
“Tergantung gimana?”
“Kalau maksud teteh itu pilih-pilih mana yang kaya mana yang miskin,
pilih berteman dengan yang pinter aja atau yang cantik aja, itu tidak
boleh. Kita tidak boleh membatasi diri berteman dengan siapa pun. Yang
kaya, yang miskin, yang cantik, yang jelek, yang pinter, yang bodoh,
itu semua bisa kita jadikan teman. Sementara jika ada yang mengajak
pada hal-hal buruk maka itu berarti dia bukan teman. Kita bisa
menganggapnya sebagai musuh namun tetap memperlakukan mereka dengan
adil.”
"Ngga ngerti ah Mah, yang ga boleh teteh jadikan teman yang seperti apa?"
"Gini, kalau ada teman teteh yang suka ngajak teteh melakukan yang
jelek, itu artinya dia bukan teman teteh. Kalau ada orang yang suka
berkumpul dan mempengaruhi teteh agar membenci orang lain maka itu juga artinya dia bukan teman teteh. Orang seperti itu harus dihindari karna akan membat hati teteh jadi buruk. Mamah tidak mengizinkan teteh memiliki kebencian dalam hati pada siapa pun termasuk pada musuh teteh itu. Teteh cukup menghindari agar tak terpengaruh sifat buruknya tapi tak perlu membencinya. Sekalian nih mamah juga mau kasih tau teteh agar
teteh tidak membangun sifat iri hati pada orang lain, apalagi sama
saudara sendiri karena iri hati inilah yang biasanya mendorong kita
menjadi miskin jiwa.”
Tanpa kusadari, pertanyaan putri sulungku justru membuka celah baru
bagi pikiranku, beruntungnya aku selama ini telah memiliki banyak teman
yang selalu mau berbagi, yang menunjukkan hal-hal positif, memperkaya
jiwaku dengan kebaikan-kebaikan yang mereka tularkan padaku tidak saja
lewat kata-kata tetapi lebih pada perilaku keseharian. Pikiranku
melayang dan mereka-reka…
Teman adalah seseorang yang mau menunjukkan di mana letak
kesalahanku, bukan seseorang yang membicarakanku di belakang dan
membiarkanku tetap dengan kesalahan yang ku buat tanpa tahu apa yang
salah.
Teman adalah seseorang yang tidak menumbuhkan perasaan negatif dalam
hati dan pikiranku. Teman adalah seseorang yang menegurku manakala aku
membicarakan orang lain. Teman adalah seseorang yang tidak membiarkanku
menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk sekedar mengobrol tanpa makna.
Teman adalah yang seseorang tidak pernah berbicara kasar dan
mempengaruhiku untuk ikut bicara kasar. Teman adalah seseorang yang
ingin aku menjadi lebih baik. Teman adalah seseorang yang membuatku
berpikir positif dan tidak berprasangka buruk Teman adalah… pasti masih
banyak kata-kata lain yang mewakili arti seorang teman…
Dan kutemukan, bukanlah teman jika orang itu membuat jiwa kita jadi
miskin dan penuh prasangka negatif karena pastilah dia menjerumuskan
kita agar berperilaku negatif tanpa kita sadari.
Malam kian larut, kucoba menutup mata dan berdoa agar keluarga ini
memiliki teman yang bermanfaat dan bisa memperkaya jiwa kami semua dan
juga agar keluarga ini dijauhkan dari kebencian dan rasa iri hati…
Awal tahun 2007,
Thanks buat semua orang yang membuat jiwaku merasa lebih kaya! Subahanallah, ternyata anak adalah sumber terdekat kita untuk bisa belajar menjadi lebih baik lagi…