You are looking at posts that were written on March 29, 2007.
You are looking at posts that were written on .
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | Apr » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |
Mungkin kita pernah bertanya kepada diri sendiri:
mengapa ada banyak orang yang mau bersusah payah mengingatkan orang
lain? Mengapa ada begitu banyak orang yang rela kehilangan begitu
banyak waktu hanya untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang
dipahami dan diyakininya? Mengapa selalu saja ada orang yang merasa
harus peduli dan cinta kepada orang lain, sehingga ia merasa perlu
untuk menegur dan menyadarkan? Apakah kita sudah punya jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Seorang teman
pernah menyampaikan bahwa ia merasa hampa dalam hidupnya. Padahal, ia
sudah mendapatkan segala cita-cita dan keinginannya. Ia sudah bekerja
di sebuah perusahaan asing. Perusahaan yang setidaknya memberikan
jaminan hidup yang lebih dari cukup. Ia pun berambisi ingin meraih
gelar sarjana, maka ia kuliah meski dengan susah payah karena harus
berbagi waktu dengan pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian berhasil
lulus. Keluarga? Ia bahkan sudah lebih dulu menikah ketimbang saya yang
waktu itu masih luntang-lantung tak karuan. Keluarga? Ia sudah punya
anak-anak dan istri yang siap menemani, mendampingi dan menghidupkan
hari-harinya.
Tapi mengapa ia merasa hampa dalam
hidup, padahal ia sudah berhasil meraih segala yang diangankan dan
diinginkannya selama ini? Bukankah sebuah kebahagiaan ketika kita bisa
berhasil meraih apa yang selama ini kita harapkan? “Memang bahagia,
tapi rasanya belum lengkap,” begitu jawabnya suatu saat.
Ia
lantas bercerita bahwa dirinya merasa iri dengan teman-temannya semasa
sekolah dulu dan saat itu masih sering bertemu karena ada sebagian yang
bekerja di kota yang sama dengannya. Ia sampaikan bahwa ia merasa tak
berarti apa-apa di hadapan teman-temannya. Meski jika dibandingkan
secara ekonomi, beberapa temannya tak seberuntung dirinya. Tapi ia
tetap memendam rasa iri sekaligus rasa kagum kepada teman-temannya yang
senantiasa istiqomah dalam dakwah. Sementara ia sendiri merasa bahwa
hidup sekadar menikmati untuk diri dan keluarganya saja. Ia pantas
merasa iri dan kagum kepada teman-temannya yang, meski dengan kondisi
jauh lebih sederhana darinya, tapi mampu berbagi dengan orang lain.
Meski kehidupan ekonomi teman-temannya terbilang biasa, tapi baginya
adalah istimewa. Karena teman-temannya bisa berbagi tenaga, berbagi
waktu, dan berbagi ilmu dengan sesamanya.
Kemudian, tak lama setelah ‘curhat’ kecil-kecilan itu, ia bertekad untuk membagi kehidupannya untuk orang lain. Ia sudah azzam-kan
kuat-kuat dalam niatnya untuk terjun dan menyiapkan diri dalam barisan
pengemban dakwah. Ia semangat mengkaji Islam dan tak kenal lelah
mencari ilmu. Tak lama kemudian, dakwah telah menjadi pilihan hidupnya.
Ia sudah menyiapkan segalanya untuk itu. Alhamdulillah. Tapi beberapa
waktu lalu, terdengar kabar dari teman saya yang satu daerah dengannya.
Kabar yang tak sedap tentang dirinya: ia futur dari dakwah.
Innalillaahi. Mungkin ia belum sepenuhnya siap.
Sebelum
bisa menulis seperti ini, sebelum bisa menyampaikan secara lisan kepada
orang lain tentang Islam, saya termasuk orang yang cuek terhadap orang
lain. Saya punya prinsip, “Urus diri sendiri, jangan campuri urusan
orang lain. Dan yang terpenting: Jangan membuat susah orang lain”. Itu
saja sudah cukup bagi saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Tapi,
ternyata prinsip itu runtuh seketika saat seorang teman mengajak saya
untuk merenung tentang hidup. Saya termasuk kagum kepadanya karena di
usianya yang masih remaja (waktu itu SMA kelas 2) sudah berani
berbicara tentang bagaimana memiliki rasa peduli kepada orang lain, ia
sudah dengan tegas menyampaikan bahwa dakwah adalah perjuangan antara
hidup dan mati. Entah dari siapa dan bagaimana caranya ia mendapatkan
prinsip tersebut. Yang jelas dan pasti, pikiran dan perasaannya sudah
jauh lebih dewasa dari fisiknya itu sendiri. Saya salut kepadanya.
Karena ia telah begitu serius menyiapkan diri di jalan dakwah. Subhanallah.
Masih
di tahun-tahun yang sama, awal tahun 90-an waktu itu, gairah mengkaji
Islam di kalangan pelajar sangat semarak. Semangat mereka mampu
membakar perasaan dan pikiran saya waktu itu. Saya bahkan merasa yakin,
jika banyak anak muda yang memiliki semangat untuk mengkaji Islam,
bukan mustahil bila Islam akan semakin banyak pendukungnya, pembelanya,
dan pejuangnya. Akan banyak anak muda yang mengemban dakwah Islam
dengan semangat berkobar-kobar laksana api yang membakar. Ia akan
mendidihkan pikiran dan jiwa sesamanya untuk bangkit bersama membela
Islam. Tentu, dengan tiada henti.
Kini, belasan
tahun sejak saya tercerahkan dengan Islam, kebanggaan saya kian
memuncak, karena ada banyak generasi pembela dan pejuang Islam yang
masih belia, padahal jaman saya seusia mereka, saya masih senang
main-main. Kini, semangat untuk mengemban dakwah mengalir sampai jauh
ke generasi yang masih belia. Saya yakin, ini tidak jadi dengan
sendirinya, tapi disiapkan oleh orang-orang yang punya semangat untuk
menggerakkan segenap potensi yang dimiliki kaum Muslimin. Insya Allah,
kemenangan Islam, bukan khayalan. Kemenangan Islam bukan juga mimpi
atau ilusi. Tapi sebuah kenyataan. Insya Allah.
Mari peduli dengan dakwah
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang
perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada
jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark
seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek terhadap dakwah berarti
bukan mukmin sejati. Apa iya kita tega jika ada teman kita yang berbuat
maksiat tapi kita diamkan saja?
Bahkan Allah Ta’ala memuji aktivitas mulia ini dalam firmanNya:
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan
identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya,
mampu mencapai hingga sepertiga planet bumi ini. Itu artinya, hampir
seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam.
Betul, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini
terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Subhanallah,
inilah prestasi hebat para pendahulu kita. Itu karena mereka memiliki
semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini dan
punya kepedulian untuk menyebarkan dakwah dan jihad. Sesuai dengan
seruan Allah Swt.“Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini,
jaman sudah jauh berubah ketimbang ribuan tahun lalu saat Islam mulai
menyebar. Saat ini arus informasi makin sulit dikontrol. Internet,
misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan
informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa
menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata banyak di antara
kita yang harus mengurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus
kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita.
Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan
perasaan kita. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa
banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban
rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Mengerikan.
Sobat,
Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan
agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka
kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan,
bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu,
semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba,
apa kita tidak merasa risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan
remaja (dan juga orangtua)? Apa kita tidak merasa was-was dengan
tingkat kriminalitas pelajar dan tentunya orang dewasa yang makin
meroket saja? Apa kita tidak merasa kesal melihat tingkah sebagian
teman remaja yang hidupnya tak dilandasi dengan ajaran Islam?
Seharusnya
masalah-masalah seperti inilah yang menjadi persoalan kita siang dan
malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita,
beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang
senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita tidak tenang jika belum
berbuat untuk menyadarkan sesama dengan dakwah ini.
Itu
sebabnya, kita sebisa mungkin melakukan aktivitas mulia ini, sebagai
bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw.
bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang
menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat
satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat
duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian
bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka
ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang
yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk
milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu
orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya,
tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Untuk
ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita.
Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atau Rambo yang bisa
melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Jika kita
ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang
apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara
kita harus disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar.
Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini.
Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di
dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya
alasan kenapa kita wajib berdakwah, menaruh peduli, dan tentunya
menyiapkannya dengan benar dan baik.
Sobat muda
muslim, biar dakwah kita mantap, mulailah menancapkan niat yang kuat
untuk mengkaji Islam. Insya Allah, ketika udah mantap, tanpa harus
dipaksa pun kita akan memulai berdakwah. Terus dan terus tanpa henti.
Kata seorang teman, pokoknya “sejati” alias sekali jajal tak mau henti.
Percayalah!
Oya, meski dalam dakwah pasti ada
ujian dan fitnah, kita harus tetap sanggup bertahan. Jangan cengeng
kayak Aas Rolani yang nyanyiin Tetes Banyu Mata 2 dalam irama tarling dangdut: “fitnahan lan hasutan wis ora sanggup nahan” Halah! Jangan nyerah dong!
Sobat,
Allah Swt. udah memotivasi kita:”You are the best!” Yup, “Kuntum khairu
ummah!” (kamu sekalian adalah umat yang terbaik!) Wuih, keren banget
kan? Nah, biar disebut umat terbaik, maka kita kudu beriman kepada
Allah Swt. serta aktif dan giat berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar). Tentu, dengan tiada henti. Allahu Akbar!