You are looking at posts that were written on March 24, 2007.
You are looking at posts that were written on .
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | Apr » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |
Suatu waktu saya tengah dilanda gundah. Memikirkan dan merasa bahwa ada perhatian yang berubah dari suami untuk diri saya. Secara tiba-tiba saya merasa nelangsa ketika tidak bersamanya. Dan entah darimana datangnya, kemudian bayangan yang menyedihkan berkelebat memenuhi benak. Saya cemburu? Duh, saya amat malu untuk mengakui rasa yang satu ini. Begitu mengganggu, namun enggan jika disebutkan. Tetapi, kenapa perasaan saya tidak karu-karuan seperti ini? Dengan tiba-tiba saya bisa menuntut hal-hal sepele dari suami. Kemudian tanpa disadari sering menjadi pertengkaran yang tak terhindarkan.
Sampai saat itu saya tidak bisa mengekspresikan perasaan saya secara gamblang, saya berharap biar sang suami mengerti dengan sendirinya. Saya ingin menyaksikan sedikit kepekaannya terhadap perubahan rasa yang saya miliki. Alhasil, suasana jadi menggantung, suami saya terheran-heran dengan perubahan sikap saya itu. Dia mengeluhkan sikap saya yang bagai badai tak kenal musim, uring-uringan, masalah kecil dibuat seolah-olah jadi sangat genting.
Masih dalam kaitan keinginan saya akan kesungguhan itu. Kemudian, saya bertekad mengukur kedalaman cintanya. Saya sadari ini sangat bodoh. Tapi saya tengah ingin melakukan kebodohan itu.
Nah ini dia. Buku tebal biru yang berisi catatan kesehariannya kini berada dalam genggaman (saya tidak ingin menyebutkan bahwa itu buku diary). Buku berbentuk dan bergaris formal itu saya buka. Tulisan khas bersambungnya yang sudah saya sangat kenali itu sudah terisi sebanyak setengah buku. Saya mulai membaca dengan sangat hati-hati. Tak ada satu baris katapun yang terlewat. Paling tidak, saya berharap akan mendapatkan jawaban atas kegelisahan saya pada buku ini.
Kemudian, entah berapa halaman yang sudah saya lewati, mata saya tertuju pada kalimat yang membuat kecemburuan saya tersulut. Walau tidak terbakar, tapi lumayan membuat saya gusar. Kemudian saya ambil stabillo warna kuning menyala. Saya goreskan warna terang itu dengan sangat tegas pada kata-kata yang membuat saya tersulut itu. Lalu, dihalaman berikutnya saya menemukan serangkaian kalimat yang tidak saya fahami maknanya, kemudian saya berikan symbol tanda tanya besar dipinggir kalimat tersebut. Karena saya menduga dan sangat yakin bahwa kata-kata kiasan itu menuju kepada kerahasiaan yang disembunyikannya.
Duh, sungguh saya menyadari telah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Ada hak pribadinya yang tengah saya langgar. Namun saat itu saya tak perduli. Sopan santun dan etika terkalahkan oleh rasa penasaran yang sudah mendesak dan memuncak.
***
“Buku – ku kok diberi warna stabillo de? Kenapa? Dikasih coretan tanda tanya-nya lagi..” suami saya bertanya dengan wajah penuh keheranan.
Saya memang sudah memperkirakan. Cepat atau lambat pertanyaan ini pastilah akan segera tiba. Saya terdiam menenangkan rasa. Mencoba mencari kata untuk menjawab. Hening…
Belum sempat saya menemukan jawaban yang tepat, tiba-tiba suami saya menembak dengan pertanyaan kedua.
“Kamu cemburu ya de?”
Deg! Saya menelan ludah. Pahit terasa. Walaupun saya sudah memprediksi situasi ini, namun tak urung membuat saya tertohok dengan telak. Jantung saya berdetak lebih kencang. Ada malu melintas. Saya harus mengakui, dia sudah membaca gejolak apa yang tengah menghinggapi perasaan saya.
Akhirnya dengan besar hati saya memang harus mengakui dan mengkomunikasikan hal ini. Saya harus mengakui bahwa saya memang telah mencemburuinya dan kini saya tengah gelisah menentukan kadar cintanya. Untunglah saat itu saya memilih untuk berterusterang dan menangisi kegelisahan itu dihadapannya. Sesuatu yang selama ini saya simpan rapat dan malu untuk mengakuinya. Dalam interaksi itu kemudian ada penjelasan darinya, ada silang pendapat antar saya dengan dia, ada bantahan-bantahan ringan. Namun, setelah itu saya merasakan rasa lega luar biasa. Beban keresahan saya cair bersamaan melalui pernyataan-pernyataan yang diungkapkannya.
Itulah, kesalahan saya karena tidak mengakui perasaan cemburu itu akhirnya membuat suasana semakin tidak nyaman bagi kami semua.
Padahal jika saja saya dengan cepat berani membuat pengakuan itu dan mengekspresikannya dengan baik, maka hal tersebut akan sangat menolong saya untuk segera keluar dari kegelisahan yang menyiksa tersebut.
Ya, masalah communications breakdowns (kegagalan komunikasi) itulah yang menjadikan rasa gundah saya tidak sampai pada tempatnya. Sehingga saya mereka-reka sendiri dengan dugaan-dugaan yang membuat saya sakit.
Saya bergejolak sendiri, sedih dan merana sendiri. Sementara itu, suami saya tidak tahu menahu dan tidak mengerti gerangan masalah apa yang tengah melanda saya.
Tuduhan yang bermain-main dibenak saya adalah jelas karangan dan rekaan saya sendiri. Dan sangat mungkin syetan turut serta dengan penuh semangat memprovokasi saya. Membuat segala sesuatunya terasa dahsyat dan begitu dramatis.
Padahal, jika saja saya mau bersikap cerdas untuk mengambil tindakan tabayyun (saling memberi dan meminta penjelasan) dengan sikap santun dan baik, masalah ‘prasangka dan kecemburuan’ itu pasti tak akan berlarut-larut hingga mengeringkan persediaan air mata.
Saya sangat berharap semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga yang bisa saya ingat terus selamanya.
"Wahai pemuda gagah yang bergelimang harta dan sejuta asa,
apakah engkau telah bersiap-siap menghadapi malam pertama?
Wahai orang tua yang telah bongkok punggung dan dekat ajalnya,
apakah engkau telah bersiap-siap menghadapi malam pertama?
Ia adalah malam pertama dengan dua wajah;
mungkin menjadi malam pertama bagi malam-malam surga berikutnya,
Atau menjadi malam pertama bagi malam-malam neraka selanjutnya. " (Dr. Aidh Al-Qarni)
Kembali aku tercenung menyimak baris demi baris untaian kata dari puisi Dr. Aidh Al-Qarni (semoga Allah merahmatinya) dalam buku yang berjudul Malam Pertama di Alam Kubur.
Belum lama ini, sahabat kami benar-benar telah mengalami peristiwa "Malam Pertama" tersebut; setelah beberapa waktumenempuh ikhtiar dengan berobat secara medis maupun alternatif. Kami hanya bisa berucap inna lillahi wa inna ilaihi roji’un..
Pak Marzuki adalah seorang guru yang masih muda, usia kepala tiga. Ia memiliki kepribadian dan hubungan yang baik di mata kami semua. Dari beberapa ungkapan bela sungkawa, ternyata hampir setiap orang merasa kehilangan, baik sesama teman guru, maupun anak-anak didiknya. Bahkan seorang anak kelas 1 yang baru beberapa kali bertatap muka dengannya-pun sempat berkaca-kaca mendengar berita ini.
Sehari sebelumnya, teman-teman kami menjenguknya di rumah sakit. Nampak sekali dia tengah kesakitan. Saat itu, sakaratul maut telah mulai menghampiri. Betapa nampak peristiwa yang amat berat harus dilaluinya, ketika berjuang untuk mengucapkan kata-kata Allah, Allahu Akbar… Kini ia telah menghadap kepada Pemilik Sejati. Semoga Allah SWT meridhoi dan memberi ampunan kepadanya.
Di kantor kami, peristiwa meninggalnya Pak Marzuki menjadi pelajaran yang amat berharga. Kami jadi berintrospeksi dan merenung, orang yang begitu baik seperti dia-pun, di saat ajal hampir menjelang ternyata tak begitu saja dengan mudah melafalkan kalimat-kalimat tauhid yang insya Allah menjadi kemudahan meraih ridho Allah dalam saat-saat pertemuan dengan-Nya. Lalu bagaimana dengan kita? Yang dalam dzohirnya-pun masih sering terlihat jauh dari nilai-nilai Islami.
Pantas saja, para salafussholih, begitu takut menghadapi "Malam Pertama" ini. Sebagaimana kisah wafatnya para sahabat Rasulullah, yang nota bene telah dijamin menjadi penghuni surga.
Seperti kisah menjelang wafatnya Sayyidina Umar bin Khatab RA, orang yang telah terbukti perjuangan dan pengorbanannya untuk dienullah; orang yang diserang oleh seorang kafir disaat menjadi imam dalam sebuat jamaah sholat shubuh, orang yang begitu banyak memberikan harta-nya untuk perjuangan Islam, beliau masih merasa takut menghadap Tuhannya karena merasa belum cukup bekal untuk dipersembahkan kepada Rabb-nya.
Lagi-lagi, peristiwa-peristiwa kematian yang masih bisa disaksikan oleh kita yang masih hidup, memang perlu ditadaburi dengan sepenuh hati. Kita sedang berjalan menuju gerbang kematian. Entah giliran yang ke berapa? Yang jelas itu adalah sebuah keniscayaan.
Seberapa banyak bekal yang telah kita kumpulkan untuk menghadapi "malam pertama" di alam kubur.
Jangan merasa serem dulu dengan judul di atas. Apa sih yang ada di benakmu kalo mendengar kosakata dakwah? Apakah sosok Bu Lutfiah Sungkar yang kalem dan keibuan dalam berdakwah? Ataukah sosok bu kyai kamu di pondok dan suka beri wejangan-wejangan dakwah ke muridnya? Hmm.. mungkin malah kamu kawatir bakal jadi guru agama kayak bu guru di sekolah?
Hehehe… kalem aja. Jangan kayak saya dulu yang udah merinding denger kata dakwah. Kesannya serius dan kerjaan para orangtua. Kita yang muda-muda gini rasanya ogah banget untuk mikir yang berat-berat. Tul nggak?
Tapi ternyata eh ternyata setelah tahu apa dakwah itu jadi ketagihan deh. Maunya pingin melakukan terus untuk ‘menjerumuskan’ orang lain ke jalan yang benar (ciee…). Maksudnya sama-sama mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang dimau oleh dakwah yaitu Islam. Kalo nggak percaya, simak terus yee. Jangan ke mana-mana sebelum tuntas, okay? Lanjuuuttt!
Kenapa harus dakwah?
Sejak diruntuhkannya daulah khilafah (negara Islam) tahun 1924 di Turki oleh Musthafa Kamal at-Taturk, praktis umat Islam berada pada kondisi yang mengenaskan. Tanpa negara, tanpa aturan Allah untuk mengatur kehidupan dan tanpa pelindung dari bahaya sipilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme). Contoh sederhana, bisa kamu lihat dari umat Islam yang ada di Irak dan Afghanistan yang jadi bulan-bulanan kafir penjajah Amerika. Harga nyawa umat Islam lebih murah daripada harga ayam. Tiap hari ada aja yang dibunuh dan muslimahnya banyak yang diperkosa oleh mereka.
Itu penjajahan yang terlihat secara fisik dan kasat mata melalui berita-berita di media. Lalu yang nggak terlihat alias tersamar bentuknya gimana? Bisa berbentuk penjajahan pemikiran dan bisa juga kebudayaan, tuh. Nggak usah jauh-jauh kalo mau ambil contoh tentang ini. Coba lihat fenomena remaja Indonesia yang mayoritas hobinya pada dugem dan foya-foya. Sudah prestasi belajar dan berkarya merosot, angka kejahatan dan maksiat malah makin meningkat. Sebut saja mulai dari merebaknya narkoba, seks bebas, saling bunuh antar teman, bunuh diri, dan masih banyak yang lain.
Eksploitasi perempuan terutama muslimahnya makin melonjak tajam. Hmm.. yang namanya lomba audisi jadi seleb full sebagai ajang pamer aurat menjamur di mana-mana. Popularitas, ketenaran dan budak uang menjadi gejala yang memprihatinkan. Sampai-sampai adik-adik kita yang masih balita tergoda untuk menirukannya. Coba perhatikan apa yang mereka dendangkan waktu nyanyi, mulai Lelaki Buaya Darat-nya Ratu, Aku Ingin Bercinta-nya Dewa 19, hingga lagu dangdut SMS-nya Trio Macan dan Jablay-nya Titi Kamal udah sangat dihapalnya.
Itu adalah sedikit gambaran tentang kondisi masyarakat kita. Coba bayangkan kalo kita diam saja terhadap semua kondisi nggak ideal ini, mau jadi apa masyarakat 10 tahun ke depan? Bukankah kata Rasulullah, gambaran masyarakat itu ibarat orang naik kapal. Ada yang berada di dek bawah dan ada pula yang di dek atas. Orang yang di dek bawah harus naik dulu bila mau minum. Karena malas naik turun akhirnya mereka berinisiatif untuk melubangi kapal aja supaya mudah untuk dapat air. Lha kalo orang yang ada di dek atas nggak peduli untuk menasehati maka alhasil kapal itu pasti tenggelam dalam waktu dekat.
Sama. Meskipun kamu merasa baik tapi nggak peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan orang lain tanpa mau menasehati atau berdakwah pada mereka, maka tunggu saja kehancuran itu akan datang. Bukankah adzab itu nggak akan pilih-pilih kalo sudah ditimpakan pada suatu kaum? Baik yang saleh atau yang salah, semuanya pasti kena imbasnya. Makanya sebelum itu semua terjadi, dakwah yuk dakwah. Berangkaaat!
Dakwah yang kayak gimana?
Dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Walah, istilah apa pula ini? Maksudnya Islam drjsk dulu kan udah pernah diterapkan dalam bentuk yang paling oke yaitu seluruh aturan diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari bukan saja atas nama individu tapi juga dalam tataran masyarakat dan negara. Wuih…top banget!
Nah, kondisi itu sudah nggak ada lagi sekarang. Makanya dakwah yang ada adalah upaya untuk mengembalikan Islam itu supaya diterapkan lagi dalam kehidupan. Jadi ideologi negara, gitu. Gimana caranya?
First of all, kamu kudu membenahi diri dulu. Ya iyalah, masa’ mau berdakwah tapi kondisi diri masih kacau balau? Mulai detik ini, kuatkan tekad untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Nah, untuk tahu gimana caranya jadi orang baik, maka kamu kudu ngaji. Nggak bisa nggak tuh. Harga pas. Nggak bisa ditawar lagi. So, untuk itu kudu ada orang yang bakal membimbing kamu supaya jadi orang baik. Mirip analogi or contoh kasus kapal di atas.
Ngaji di sini bukan ngaji sekadar baca al-Quran tanpa paham maknanya. Tapi ngaji yang mendalam hingga kamu dapetin ilmunya dan paham untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalo ini udah mendarah daging dalam diri, jangan diam aja. Sampaikan kebaikan Islam itu pada orang lain. Inilah yang namanya dakwah. Menyeru orang lain pada kebaikan yaitu al-Islam dan mencegah orang lain berbuat kemungkaran.
Oya, untuk berdakwah nggak harus nunggu hapal al-Quran seluruh juz dahulu baru berdakwah. Nggak kok. Tapi sesedikit apa pun ilmu yang kamu punya, sampaikan. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyampaikan bahwa “Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat”?
Satu ayat ini kalo kamu bisa menerapkannya terus diikuti oleh orang lain, wuih… ditanggung deh bisa jadi tabungan di akhirat kelak. Pahala yang kamu dapatkan sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu. Hal itu insya Allah akan makin berlipat-lipat manakala orang yang kamu dakwahi tadi berdakwah lagi, terus orang terakhir tadi mendakwahkannya lagi, begitu terus dan terus. Pahala akan mengalir ke kamu tak putus-putus. Keren banget kan?
Misal nih, sebagai contoh sederhana. Kamu paham bahwa menutup aurat bagi perempuan itu wajib. Selain kamunya sendiri sudah berkerudung dan berjilbab, kamu menyebarkannya juga pada teman-teman di sekeliling dan keluargamu. Terus nih, perbuatanmu ini diikuti sama mereka dan disebarkan lagi pada orang lain. Orang lain ini menyebarkan lagi pada orang-orang lain lagi. Selain kebaikan akan semakin bertambah banyak dan menyebar, pahala untuk kamu juga semakin bertambah, insya Allah. Hmm… dan yang pasti kalo kamu lakukan semua ini dengan ikhlas karena Allah semata, ditanggung deh Allah Swt. pasti akan makin cinta sama kamu. Insya Allah.
Tapi ini cuma contoh kecil dari berdakwah. Sebab sesungguhnya Islam itu luas, bahkan bisa dikata setiap detil perbuatan kita di dunia ini nggak ada yang nggak diatur sama Islam. Menjadi kewajiban tiap individu muslim untuk memahaminya kemudian menjalankannya dalam amalan praktis sehari-hari.
Sobat, dakwah ini harus ada skala prioritas. Teman-temanmu yang muslim menjadi perhatian utama daripada yang nonmuslim. Bukan berarti menganak tirikan mereka yang nonmuslim, tapi bukankah Allah sendiri yang berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk Islam? Lagipula, mereka yang nonmuslim ini bakal tersentuh hati dan akalnya bila mereka nantinya melihat sendiri indahnya Islam bila diterapkan oleh pemeluknya.
Nggak kayak sekarang. Berapa banyak mereka mencemooh Islam hanya karena oknum yang mengaku muslim tapi sikapnya sangat tidak mencerminkan Islam. Belum lagi tuduhan terorisme, udik, bodoh, kuno, dan berbagai julukan nggak pantas lainnya. Itu semua disebabkan karena dakwah Islam nggak jalan. Makanya banyak di antara kaum nonmuslim itu sering salah sangka tentang Islam. Jangankan yang nonmuslim, lha wong dari kalangan muslim sendiri aja banyak kok yang nggak paham keindahan dan rahmatnya Islam. Betul itu!
Cewek ambil peran
Jangan mau jadi cewek pasif yang cuma buat pajangan tanpa karya nyata. Emangnya kamu boneka pake dipoles make up tebal kayak badut terus lenggak-lenggok di depan para lelaki? Idih, murahan banget! Nggak jaman, Non.
Cewek tuh merdeka, dari eksploitasi ataupun dari intimidasi. Walah, istilah apa pula ini? Maksudnya sudah nggak jaman, modal kecantikan fisik cewek dijadikan alat untuk mencari duit dan menggoda laki-laki. Cewek kudu diperhitungkan karena kiprahnya, peran nyata dengan modal kecerdasan, keimanan dan akhlaknya.
Begitu juga dalam dakwah. Jangan mau jadi obyek saja, tapi kita kudu jadi subyek yang akan merubah jaman. Plis deh coba kamu renungkan, dengan populasi penduduk dunia yang diyakini mayoritas adalah cewek, dan kemudian bayangkan kalo semuanya itu adalah perempuan sadar yang bertekad kuat untuk melakukan revolusi kebaikan dengan dakwah. Dijamin deh, kehidupan Islam yang kita cita-citakan bersama akan mudah terwujud, insya Allah. Karena sungguh, di balik lemah lembutnya cewek sebetulnya tersimpan kekuatan dahsyat di baliknya untuk mewarnai dunia. Masalahnya, warna apa yang akan kita torehkan itu bergantung pada kita sendiri, para cewek.
Meskipun dakwah cewek bisa ke semua kalangan, tapi sebetulnya ada fokus tertentu biar dakwah ini efektif. Cewek dakwah juga ke cewek. Bukan nggak boleh dakwah ke cowok, cuma seringnya bukannya dakwah malah jadi demenan. Nah lho! Kecuali kalo kamu bisa menjaga izzah sebagai muslimah, ini sih no problemo. Tapi jangan keterusan yah. Selanjutnya serahkan pada teman cowok yang udah ngaji duluan untuk membina teman cowok kamu itu. Sedangkan kamunya sendiri balik lagi deh fokus untuk membina cewek dan asyik berdakwah-ria dengan mereka.
Oya, dakwah bisa dilakukan baik dengan sendiri-sendiri ataupun bersama-sama, lho. Tapi ibaratnya sapu lidi, ia akan mempunyai kekuatan kalo dijadikan satu dalam ikatan yang sama. Kamu nggak bakal bisa menyapu dengan bersih hanya dengan sebatang sapu lidi. Beda banget kalo puluhan atau ratusan batang sapu lidi tadi diikat kuat dalam satu ikatan terus buat nyapu pasti bakal bersih bin kinclong.
Sama dengan dakwah. Meskipun bisa dilakukan sendiri-sendiri tapi hasilnya pastilah tidak seoptimal apabila dilakukan secara berjamaah. Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik bisa dikalahkan oleh kejahatan yang diatur dengan rapi. Tapi itu pun dengan catatan, kalo dakwahnya juga niat banget dan caranya benar sesuai tuntunan dakwah Rasulullah saw.
Eh, bukan dominasi cowok aja lho yang bisa mengatur langkah dakwah dengan rapi, cewek juga nggak kalah. Karena sesungguhnya perintah untuk berdakwah ini ditujukan emang buat hamba Allah baik cowok ataupun cewek. Betul kan?
Ibaratnya timbangan, cewek dan cowok di dunia ini saling bekerjasama dalam kebenaran dan kebaikan. Jadi, kalo pun cewek berdakwah, itu bukan dalam konteks saingan atau pun pemberdayaan perempuan sebagaimana slogan para feminis. Tapi dakwah ini sebagai bukti ketundukan diri seorang hamba Allah untuk mengharap ridhoNya semata.
Jadi, dakwah bukan monopoli para cowok or ibu kyai or ibu ustad aja. Tapi dakwah wajib bagi tiap individu yang mengaku dirinya muslim, tanpa dibedakan lagi jenis kelamin. Dari sini kalo mau bicara tentang kesetaraan, Islam sudah punya konsep ini jauh hari sebelum para feminis teriak-teriak. Namanya juga sistem hidup yang sempurna, maka sudah komplit-plit semua apa yang ada di dalamnya. Nggak ada yang namanya pameo surga nunut neraka katut. Terjemahan bebasnya sih, kemana pun para cowok pergi entah ke surga or neraka, cewek bisanya cuma ngikut aja. Idih…ogah banget!
Dalam Islam, cewek punya sikap untuk menentukan masa depannya sendiri. Mau masuk surga or neraka, cewek punya hak untuk memilih. Nggak cuma bisa ikut-ikutan. Mau mengubah dunia ini menjadi makin rusak or jadi lebih baik, cewek punya peran. Jadi keberadaan cewek emang kudu diperhitungkan dalam segala seginya. So, kalo kamu emang cewek oke, yuk kita pilih surga dengan melakukan dakwah demi mengubah wajah dunia menjadi indah dalam naungan Khilafah yang menerapkan syariah Islam. Setuju? Pasti dong, namanya aja cewek oke. Iya kan? Siiipppp dah!
Sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum agama Islam muncul di muka bumi, para nabi dan rasul telah diutus untuk menyampaikan wahyu Alloh SWT dan syari�at-Nya kepada umat manusia. Para rasul itu adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda. Di antara mereka ada yang diberi kemampuan luar biasa dalam berargumen dan berdebat, sebelum usianya genap delapan belas tahun. Nabi Ibrahim a.s., misalnya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur�an, adalah pemuda yang sering berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan kepada patung-patung yang tidak dapat bicara, memberi manfaat dan mudharat (QS Al-Anbiya:60-67). Kita juga ingat kisah Ashabul Kahfi � yang tergolong pengikut Nabi Isa a.s. Mereka adalah anak-anak muda yang menolak kembali agama nenek moyang mereka, menolak menyembah selain Alloh SWT. Mereka bermufakat mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua, karena jumlah mereka relatif sedikit yakni tujuh orang di antara masyarakat penyembah berhala. Fakta sejarah ini terekam jelas dalam Al-Qur�an surat Al Kahfi ayat 9-26, yang di antaranya : �(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo�a : �Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)�.� (Q.S. Al-Kahfi : 10) �Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk�. (Q.S. Al-Kahfi : 13) Potensi Besar Pemuda-Mahasiswa dalam Kehidupan Masyarakat Demikian keadaan dan peran golongan pemuda. Kiprah mereka telah terukir indah dalam tinta emas sejarah. Mereka merupakan tonggak dan potensi besar suatu kehidupan. Terlebih kelompok pemuda seperti mahasiswa; karena, selain diharapkan oleh umat, peranan mereka pun sangat didambakan oleh kelompok masarakat lainnya sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Posisi mereka sebagai �mahasiswa� memang menjadi peluang bagi mereka untuk mengembangkan potensi sebesar-besarnya. Tidak heran jika perubahan sosial politik diberbagai belahan dunia dipelopori oleh gerakan pemuda-mahasiswa. Sebagian sahabat yang menyertai Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam � yang akhirnya berhasil menguasai lebih dari dua pertiga belahan bumi � adalah para pemuda yang menjadi murid (mahasiswa) Rasulullah SAW. Secara fitra, masa muda merupakan jenjang kahidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda-mahasiswa memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda mahasiswa. Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, mereka adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa sekarang ini. Namun, potensi tinggallah potensi. Ibarat pedang yang sangat tajam; ketajamannya tidak menjadi penentu bermanfaat-tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itu-lah yang menentukannya. Pedang yang tajam terkadang digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang bertanggung jawab, ketajaman pedang itu akan membawa manfaat. Demikian juga dengan potensi mahasiswa. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan. Jadi, potensi yang dimiliki oleh pemuda-mahasiswa haruslah diarahkan untuk menyokong dan mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Seorang mahasiswa muslim tentunya akan berada di garis depan untuk membela, memperjuangkan, dan mendakwahkan nilai-nilai Islam. Seorang mahasiswa muslim tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran umat yang sangat memprihatinkan ini. Seorang mahasiswa muslim jangan sampai menjadi penghalang kemajuan Islam dan perjuangan kaum muslimin. Na�udzubillah. Menyorot Realitas Pemuda-Mahasiswa Muslim Kini Kita akui, pengaruh sistem kehidupan yang berlaku dalam suatu kurun kehidupan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan perilaku manusia yang hidup pada zaman tersebut. Hal ini berlaku pula bagi pemuda-mahasiswa. Format kehidupan mahasiswa sekarang, sedikit banyak telah terpengaruh oleh sistem kehidupan yang berlaku sekarang, yaitu sistem demokrasi kapitalis. Kalau memperhatikan apa yang terjadi di kampus-kampus di negeri ini, secara umum, paling tidak kita akan menemukan adanya beberapa kelompok mahasiswa muslim yang pemahaman dan kecenderungannya relatif berlainan. Citra dan cita-cita mereka juga relatif berbeda sesuai dengan landasan pemikiran yang mendasarinya. Kelompok pertama, adalah mereka yang merasa tidak puas dengan kondisi sekarang, lalu melakukan berbagai perubahan. Mereka melihat bahwa sistem kehidupan yang berlaku sekarang hanya melahirkan penderitaan dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Arah perubahan ynag mereka inginkan ada yang tidak terlepas dari format ideologi kapitalis, ada juga yang terpengaruh ideologi sosialis. Haluan politik kapitalis berjalan seiring dengan format demokrasi yang mereka terjemahkan sesuai dengan kondisi di negeri ini. Kelompok demokrat ini memang lebih menginginkan agar demokrasi yang ada benar-benar ditegakkan. Isu-siu bahwa kedaulatan dan kekuasaan di tangan rakyat, bahwa rakyatlah yang paling berhak menentukan arah pemerintahan, paling sering mereka teriakkan dengan lantang. Terhadap berbagai masalah kemasyarakatan, isu hhak asasi manusia (HAM) juga sering mereka jadikan bukti lemahnya penerapan demokrasi; terlepas dari paham atau tidaknya mereka akan hakekat demokrasi dan aturan produk barat lainnya. Adapun yang terpengaruh oleh sosialis mengehendaki perubahan yang lebih radikal. Mereka menuntut perubahan tatanan kehidupan melalui revolusi. Menurut mereka, suksesi kepemimpinan mestinya segera dilakukan. Cara yang mereka lakukan tidak jarang mengarah kepada pengrusakan, dengan membangkitkan emosi massa. Kerugian akibat aksi-aksi yang mereka lakukan tidak sedikit. Berbagai isu kesenjangan sosial dan kasus kerusuhan yang melibatkan massa menajdi sarana subur utnuk aksi mereka. Jurus mereka kerap kali memancing di air keruh. Apapun alasannya, cara-cara yang ditempuh kelompok mahasiswa ini tidak bisa dibenarkan oleh Islam. Landasan perjuangan kelompok tersebut jelas tidak sesuai dengan pandangan Islam. Sebab, ide-ide sosialis ataupun kapitalis, termasuk demokrasi serta ide-ide yang terlahir darinya seperti HAM, pluralisme, dan lain-lain, merupakan pemahaman Barat yang kufur yang sangat bertentangan dengan Islam. Haram bagi kaum muslimin mengambil pemahaman dan aturan-aturan yang bukan berasal dari Islam. Alloh SWT berfirman : �Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.� (Q.S. Al-Hasyr : 7) Hal lain yang sangat kita sayangkan, tidak sedikit mahasiswa muslim yang turut mempropagandakan dan memperjuangkan paham-paham tersebut. Di antara mereka ada yang melakukannya karena ikut-ikutan saja, karena kebodohannya, dan ada juga karena memang ingin memperjuangkannya. Akibatnya, secara tidak langsung, mereka menjadi prototipe dan agen-agen Barat dalam menyebarkan paham-paham yang sebenarnya merupakan racun bagi kaum muslimin. Kelompok kedua adalah mereka yang cuek terhadap kondisi kehidupan masyarakat. Yakni, mereka yang tidak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat. Bagi mereka yang penting selamat. �Ngapain susah-susah mikirin nasib kaum muslimin yang lain. Mikirin diri sendiri aja udah susah. Memang sistem kapitalis yang menyetir pola kehidupan sekarang melahirkan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Sistem ini memang berhasil memberikan nilai materi yang cukup berlimpah. Namun, ternyata keberhasilan itu hanya diraup oleh segelinitr orang yang �kuat�, sementara mayoritas rakyat hidup dalam kesengsaraan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, pengangguran kian membludak, dan berbagai tindak kriminal mulai menjadi wabah sosial kemanusiaan. Kondisi seperti ini hanya akan melahirkan sistem individualis yang semakin tajam. Setiap manusia �termasuk mahasiswa- lalu berpikir pintas untuk �menyelamatkan� diri, dan akhirnya tidak peduli dengan keadaan lingkungan. Standar perbuatan mereka adalah manfaat. Bagi mereka, yang penting bermanfaat dirinya dan tidak merugikan orang lain. Bagi mereka pacaran tidak menjadi masalah, asal tidak hamil dan tidak menimbulkan �masalah�. Kelompok ini memang benar-benar ingin �menikmati� dan hidup tenteram dalam kondisi sekarang. Mereka tidak peduli kenikmatan hidupnya itu diraih di atas penderitaan orang lain. Bagi kelompok mahasiswa seperti ini �keberhasilan studi� merupakan cita-cita yang paling dijunjung tinggi dan senantiasa jadi haluan perjuangannya. Bagi mereka, standar keberhasilan itu adalah meraih nilai studi yang setinggi-tingginya. Sains memang cukup mereka �kuasai�, namun keilmuannya itu tidak berpengaruh terhadap perilaku mereka dalam kehidupan masyarakat. Dalam studinya, kelompok ini memang relatif banyak berhasil; namun mereka belum mampu memenuhi dambaan dan harapan umat. Kehidupan mahasiswa kelompok ini hanya berkisar antara kampus dan rumah. Angan-angan mereka �kalau sudah lulus kelak- adalah pekerjaan yang mantap dengan gaji yang besar, istri yang cantik, fasilitas yang mewah, dan anak-anak yang lucu dan manis. �Persetan dengan lingkungan! Yang penting aku, istriku, anak-anakku, dan keluargaku �aman�!� Cara hidup kelompok ini jelas tidak dibenarkan oleh Islam. Dalam Islam tidak dikenal sistem kehidupan individualis. Kehidupan masyarakat dalam Islam tidak membeda-bedakan apakah seorang itu mahasiswa, pelajar, karyawan, atau lainnya. Semuanya bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan di sekelilingnya. Rasulullah SAW mengingatkan : �Barang siapa bangun pagi�hari dan hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Barang siapa tidakpernah memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka tidak termasuk golonganku�. (HR. Thabrani dari Abu Dzar Al-Ghifari) Kelompok ketiga adalah mereka yang �terbius� sehingga terjerat dan terjerumus dalam bejatnya sistem kehidupan masa kini. Sistem kapitalis yang mengagung-agungkan materi, telah mencabut niali-nilai kehidupan lainnya, baik nilai-nilai akhlaq, kemanusiaan, dan kerohanian (agama). Korban-korban sistem ini sudah cukup bergelimpangan. Sebagai contoh, tidak sedikit mahasiswa yang terjerumus dalam pemakaian obat-oabat terlarang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjerat dalam sindikat pengedar yang berskala internasional. Mereka yang terjerumus dalam sek bebas tidak kalah mengerikan. Hasiltemuan FKM UNAIR menyebutkan bahwa pengidap AIDS sebagian besar kalangan remaja. Dari 100 responden remaja yang diteliti, FKM menyimpulkan bahwa 22,9 persen remaja usia 15 � 19 tahun telah terkena virus HIV/AIDS, sedangkan remaja usia 20 � 24 tahun yang terjangkit mencapai 77,1 persen. Fantastis dan sungguh mengerikan. Atau kita juga sangat dikejutkan oleh peristiwa yang menjijikkan, peristiwa VCD porno Itenas 1 Bandung dan Itenas 2 Medan. Sungguh memalukan dan mengerikan. Tawuran remaja yang tadinya hanya merupakan tren remaja-remaja SMU, kini sudah diikuti oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Bahkan yang sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan, sekitar dua bulan yang lalu, mahasiswa ITS yang cukup tersohor dengan teknologinya itu ikut-ikutan tawuran. Sungguh memalukan! Kejadian-kejadian di atas hanya sekedar contoh kasus betapa kelompok mahasiswa yang demikian ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Kasus aborsi, skandal dan jaringan seks bebas, perampokan, pembobolan bank, penodongan, dan tindak kriminal lainnya tidak jarang dilakukan oleh pemuda-mahasiswa. Kelompok keempat adalah kelompok pemuda-mahasiswa yang peduli lingkungan dan sadar akan kerusakan dan kebrobokan sistem yang ada akibat tidak diberlakukannya aturan Islam dalam realitas kehidupan. Dengan pemahaman terhadap kenyataan seperti itu, disertai pendalaman terhadap tsaqofah Islam, mereka melakukan perjuangan dakwah, menyeru umat untuk kembali kepada Islam. Meskipun jumlahnya tidak terlampau besar, peranan mereka sangat diharapkan umat untuk melakukan perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang Islami. Alhamdulillah, di berbagai perguruan tinggi perkembangan mereka cukup menggembirakan. Bahwa berjilbab itu merupakan kewajiban bagi seorang muslimah sudah menjadi opini yang tidak terbantahkan lagi. Sungguh menyedihkan kalau di antara mahasiswi muslim ada yang belum paham bahwa jilbab itu wajib. Padahal, jika hal itu dilalaikan, Allah SWT akan menurunkan azab yang sangat pedih. Begitu juga, gerakan-gerakan kebangkitan Islam cukup santer di berbagai perguruan tinggi. Gerakan keIslaman yang berasal dari Timur Tengah ataupun bercorak lokal semakin bermunculan. Semuanya menyuarakan kebangkitan Islam. Pemahaman Islam yang mereka raih bukan pemahaman yang bersifat �abangan�. Meskipu belajar di perguruan tinggi umum, kitab-kitab kuning yang berbahasa Arab �baik dari kalangan fuqaha tempo dulu maupun para mujtahid abad 20- pun menjadi santapan keseharian mereka. Meskipun masih terdapat berbagai perbedaan visi tentang kebangkitan dan metode yang mereka lakukan, kelompok terakhir ini merupakan kelompok dambaan ummat menuju kemuliaan hidup . Umat Islam tidak mungkin bangkit dengan mengadosi aturan-aturan yang bukan berasal dari Islam, baik dari paham kapitalis mapun sosialis. Ketahuilah, umat Islam tidak mungkin meraih kemulaiaan kalalu umatnya hanya memperhatikan kepentingan pribadi. Islam mustahil akan muncul dari generasi-generasi yang telah � sekarat� karena korban kedurjanaan sistem kapitalis. Islam hanya akan bangkit melalui manusia-manusia yang ikhlas mewakafkan kehidupannya demi tegaknya Islam. Islam akan jaya di tangan mereka yang memegang Islam walaupun bagai memegang bara api. Meskipun secara materi kondisi mereka terkadang menyedihkan, perjuangan mereka tak pernah redah; karena mereka mendambakan kemuliaan surga yang dijanjikan Alloh SWT. Mereka yakin akan janji Allah SWT dalam Al-Qur�an : �Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka�. (QS. At-Taubat : 111). Khatimah Demikianlah kondisi realita pemuda-mahasiswa yang terlahir dan hidup pada saat ini. Citra keIslaman mereka tidak sedikit yang tererosi dan terdegradasi oleh budaya-budaya asing yang membius dan meracuni harapn dan cita-cita mereka. Cinta mereka terwarnai kasih sayang semu, cinta produk manusia. Cinta yang lahir dari napsu demi kenikmatan sesaat. Cinta yang berakhir dalam kehampaan dan kegersangan. Meskipun demikian, masih ada mahasiswa dan mahasiswi yang masih teguh memegang dan mempertahankan �dengan sekuat tenaga dan segala kemampuan- citra mereka yang hakiki sebagai muslim. Merekalah the real agent of change . Semoga Alloh SWT senantiasa menyertai mereka. Amin Ya Robbal �Alamin.