Saat Titipan diAmbil Oleh Sang Pemilik

Posted on March 1, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Religion.

Terus terang saya pernah merasakan kesedihan yang cukup mendalam
karena kehilangan orang tercinta. Terlebih saat itu saya masih sangat
butuh bimbingan seorang ibu. Figur yang paling dekat bagi seorang anak
perempuan. Beliau diambil oleh Sang Khalik setelah bertahun-tahun sakit
keras.

Saat itu, memang saya sedikit kurang mengerti “Kejadian ini mengapa
dengan segera menimpa saya? Ini sungguhkah?”. Tapi saya selalu teringat
pesan ibu saya bahwa “Allah Pemilik semuanya, kamu, Mamah, Bapakmu,
Mas-mas dan Mbakmu bahkan seluruh yang ada di dunia ini. Jadi,
ibaratnya titipan, kita harus legowo kalau yang punya sudah memintanya
kembali”. Jadi, satu hal yang membesarkan hati saya, bisa jadi ibu saya
lebih dicintai Allah SWT sehingga dengan segera diambil, tidak terlalu
lama dititipkan.

Saya mungkin lebih beruntung daripada rekan saya ini. Saat gempa
kemarin, dia telah kehilangan 2 orang anggota keluarganya dalam waktu
sehari, dan bahkan hanya dalam hitungan jam. Ibu dan adik laki-lakinya
telah meninggal tertimpa rumahnya.

Di hari terjadinya gempa itu, rekan akhwat ini telah bersiap-siap
pergi kajian pagi ke Masjid Mardliyah dekat kampus. Wajar saja, karena
perjalanan dari rumahnya hingga kampus UGM membutuhkan waktu kurang
lebih 45 menit-an maka pukul 5.50 WIB, dia sudah berjilbab rapi. Baru
selesai mengenakan kaos kaki sebelah kanan, ternyata rumahnya seperti
digoncang, kontan dia berlari keluar rumah.

Tapi ternyata dia ingat, ibu, bapak dan 2 orang adiknya masih di
dalam. Akhirnya masuklah dia kembali ke dalam rumah. Pada saat yang
bersamaan tersebut, ibunya juga sudah keluar lewat pintu belakang. Tapi
teringat juga dengan suami dan anak-anaknya, masuklah beliau kembali ke
dalam rumah. Kedua adiknya ternyata masih di dalam kamar begitu pula
bapaknya yang juga tidak sempat menyelamatkan diri. Akhirnya, jadilah
mereka sekeluarga tertimpa bangunan di dalam rumah.

Begitu pula rekan saya tadi. Ternyata Allah masih memudahkannya
untuk bisa keluar dari reruntuhan itu dan mendengar sang bapak
merintih-rintih. Dengan dibantu tetangganya, akhirnya bapaknya dan adik
perempuannya bisa ditemukan.

Dalam beberapa saat kemudian, ibunya juga ditemukan, tapi sungguh
kondisinya sangat menyedihkan. Bagian kepalanya nyaris remuk dan
seketika beliau telah diambil oleh Sang Khalik. Adik laki-lakinya saat
ditemukan, tertimbun reruntuhan bangunan dan saat akan dibawa ke rumah
sakit, adiknya meninggal.

Tak bisa dibayangkan, kesedihan rekan saya saat itu. Dalam hitungan
jam, dia kehilangan 2 orang yang dicintainya. Ya.dalam sesaat saja,
jika Allah menginginkan, maka dalam sekejab itu pula, titipan itu
diambilNya. Oleh sebab itu, seperti rumusnya tukang parkir, yang
menjaga amanatnya dengan sebaik-baiknya, dan rela jika diambil oleh
sang pemiliknya kembali. Karena titipan adalah titipan, tak bisa
selamanya menjadi milik kita.

Sebab Cinta

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: For Ukhti-Ku.

Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat
di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari,
ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun.
Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik
karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis
kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di
wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk
menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan
pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis
lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi
di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota. Yang ia tahu hanyalah,
terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma
bis kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh
hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang,
Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga
tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma
pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual
dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya
terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian
terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu –kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab
apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia
tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah
tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat
transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani
ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk
menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap
mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta
api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal
si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti
itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu
mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah
bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya
yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya
memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki
saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di
setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil
selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia.
Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi
sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan menAnim_2
gerti sebab apa ibunya mengejar
bis kota, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong
kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari
ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap
kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu
berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah
yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam
kamus hidup seorang ibu.

Yakinlah, Allah selalu ada

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: Religion.

Entah kenapa saya ingin sharing cerita ini. Tiada maksud lain
kecuali berbagi pengalaman yang membuat saya semakin yakin, bahwa Allah
senantiasa ada disaat kita membutuhkan kehadiran-Nya. Sekali lagi yang
ingin saya tegaskan, Allah selalu hadir jika kita membutuhkannya, meski
sesungguhnya Allah tidak pernah ke mana-mana dan senantiasa di dekat
kita. Hanya saja, seringkali kita mengabaikan keberadaannya, atau
bahkan sedang ‘tidak’ membutuhkan-Nya.

Pekan kedua di bulan Februari ini, saya mengalami banyak hal yang
cukup menguras pikiran. Ini bukan soal handphone yang hilang, lebih
dari itu. Ibu saya sakit dan butuh biaya yang tidak sedikit. Di pihak
lain, Ayah (mertua) saya masuk rumah sakit, dirawat dan sudah tentu
membutuhkan biaya. Memang tidak hanya saya, anak yang harus menanggung
semua biaya tersebut dan biasanya memang tidak demikian. Hanya saja,
-saya yakin ini skenario Allah- adik-adik saya, dan juga adik-adik
isteri, untuk kali ini tidak bisa maksimal membantu seperti biasanya.
Jadilah, sebagian besar biaya itu harus diselesaikan oleh saya.

Saya mencoba tenang untuk mengatasinya. "Insya Allah ada, " jawaban saya untuk isteri yang bertanya, "Abang punya uang?"

Alhamdulillah uang di tabungan sudah dikirim untuk membeli obat ibu.
Kini giliran mengupayakan uang untuk biaya rumah sakit Ayah. Di pekan
kedua Februari itu, mulai bingung memutar otak dari mana mencari uang,
padahal tiga hari lalu Ayah sudah boleh pulang. Saya pun teringat satu
hal yang membuat optimis bisa mengatasi semua ini. Bulan Februari
adalah bulan pembayaran royalti buku saya. "Semoga penerbit tidak telat
mentransfernya ya Allah, " doa saya.

Senin sore pekan kedua itu, mampir ke ATM untuk cek saldo.
Mengernyit dahi ini, melihat saldo tidak bertambah. Berarti belum ada
transferan royalti. Saya pun pulang dengan lesu. Dua hari lagi Ayah
pulang, uang belum di tangan. Esok malamnya, saya berniat kembali ke
ATM, lagi-lagi untuk cek saldo. Sebelumnya, mampir dulu membeli
martabak pesanan si kecil. Pada saat menunggu pesanan, tiba-tiba
seseorang mencolek lengan saya, "kasihan pak, minta uang pak…"
rupanya seorang nenek pengemis.

Ada tinggal satu lembar uang di kantong, karena sebelumnya sudah
saya bayarkan ke tukang martabak. "bismillaaah…" yang selembar itulah
yang saya berikan ke pengemis tua itu. Sedetik kemudian, meluncurlah
sebaris doa, "dimudahkan urusannya, dilancarkan rezekinya, dipanjangkan
umurnya…" Tidak menunggu aba-aba, saya segera mengaminkan doa
pengemis tua itu.

Memang, doa seperti itu yang saya harapkan. Secepat mungkin saya
mengaminkan doa itu, berharap Allah benar-benar memudahkan segala
urusan yang tengah merumitkan pikiran ini. Setelah membeli martabak,
mampir lah saya ke ATM untuk cek saldo. "Semoga sudah ada, " harap saya.

Malang niang nasib lelaki ini. Baru saja memasukkan kartu ATM,
rupanya mesin ATM-nya error. Kartu langsung ‘tertelan’, sedang hari
sudah malam. Tidak bisa complain terhadap petugas bank atau lainnya.
Saya mencoba membenahi hati, "terima kasih Allah telah melatih
kesabaran buat hamba" ujar saya dalam hati.

Esoknya, tepat di hari Ayah akan pulang dari rumah sakit. Saya
kembali ke Bank tempat kartu ATM saya ‘tertelan’ untuk mengurusnya. Tak
lebih dari lima belas menit, urusan pun selesai. Saat itulah saya
menuju ATM lagi, dan "Subhanallah, terima kasih ya Allah…" saya
bersyukur habis-habisan. Sejumlah uang yang saya butuhkan untuk biaya
rumah sakit nampaknya bukan lagi masalah.

Terima kasih Allah, atas pelajaran berharga di pekan kedua Februari
itu. Allah, memang selalu hadir disaat kita memang membutuhkan-Nya.
Walau saya pun tahu, andai kita mengabaikan-Nya pun, Dia selalu ada.

Teman Adalah……….

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: A Special For....

Teman itu berarti seseorang di luar diri kita yang mengenal kita dan
berkenan berbicara dengan kita. Dia bisa siapa saja. Bisa orang tua
kita, bisa tetangga, bisa rekan kantor atau saudara kita sendiri. Teman
adalah orang yang tidak membuat kita merasa buruk juga tidak membuat
kita menjadi buruk Sedangkan musuh kita adalah sebaliknya, orang yang
membuat kita merasa buruk dan lebih buruk lagi dia dengan sengaja
membuat kita menjadi lebih buruk.

Wah, kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir manakala putriku
satu-satunya mempertanyakan apa arti seorang teman. Tak tahu bagaimana
menerangkan dengan lebih jelas lagi definisi teman dan musuh. Ini bukan
pertama kalinya aku kesulitan menerangkan definisi suatu hal pada
seorang anak berusia 10 tahun.

Berusaha menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana yang bisa
mereka mengerti. Sementara pengetahuan dan wawasanku juga terbatas. Apa
yang kuterangkan lebih kepada apa yang kutahu saja dan apa yang kurasa
dari pengalaman hidupku. Kusadari kadang jawaban-jawabanku tidak bisa
memuaskannya namun kuyakinkan hatiku bahwa bagaimana pun setiap
jawabanku ditujukan sekaligus untuk mendidiknya menjadi lebih baik.

“Jadi teteh boleh pilih-pilih teman?”

“Ya tergantung dong sayang…”

“Tergantung gimana?”

“Kalau maksud teteh itu pilih-pilih mana yang kaya mana yang miskin,
pilih berteman dengan yang pinter aja atau yang cantik aja, itu tidak
boleh. Kita tidak boleh membatasi diri berteman dengan siapa pun. Yang
kaya, yang miskin, yang cantik, yang jelek, yang pinter, yang bodoh,
itu semua bisa kita jadikan teman. Sementara jika ada yang mengajak
pada hal-hal buruk maka itu berarti dia bukan teman. Kita bisa
menganggapnya sebagai musuh namun tetap memperlakukan mereka dengan
adil.”

"Ngga ngerti ah Mah, yang ga boleh teteh jadikan teman yang seperti apa?"

"Gini, kalau ada teman teteh yang suka ngajak teteh melakukan yang
jelek, itu artinya dia bukan teman teteh. Kalau ada orang yang suka
berkumpul dan mempengaruhi teteh agar membenci orang lain maka itu juga artinya dia bukan teman teteh. Orang seperti itu harus dihindari karna akan membat hati teteh jadi buruk. Mamah tidak mengizinkan teteh memiliki kebencian dalam hati pada siapa pun termasuk pada musuh teteh itu. Teteh cukup menghindari agar tak terpengaruh sifat buruknya tapi tak perlu membencinya. Sekalian nih mamah juga mau kasih tau teteh agar
teteh tidak membangun sifat iri hati pada orang lain, apalagi sama
saudara sendiri karena iri hati inilah yang biasanya mendorong kita
menjadi miskin jiwa.”

Tanpa kusadari, pertanyaan putri sulungku justru membuka celah baru
bagi pikiranku, beruntungnya aku selama ini telah memiliki banyak teman
yang selalu mau berbagi, yang menunjukkan hal-hal positif, memperkaya
jiwaku dengan kebaikan-kebaikan yang mereka tularkan padaku tidak saja
lewat kata-kata tetapi lebih pada perilaku keseharian. Pikiranku
melayang dan mereka-reka…

Teman adalah seseorang yang mau menunjukkan di mana letak
kesalahanku, bukan seseorang yang membicarakanku di belakang dan
membiarkanku tetap dengan kesalahan yang ku buat tanpa tahu apa yang
salah.

Teman adalah seseorang yang tidak menumbuhkan perasaan negatif dalam
hati dan pikiranku. Teman adalah seseorang yang menegurku manakala aku
membicarakan orang lain. Teman adalah seseorang yang tidak membiarkanku
menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk sekedar mengobrol tanpa makna.

Teman adalah yang seseorang tidak pernah berbicara kasar dan
mempengaruhiku untuk ikut bicara kasar. Teman adalah seseorang yang
ingin aku menjadi lebih baik. Teman adalah seseorang yang membuatku
berpikir positif dan tidak berprasangka buruk Teman adalah… pasti masih
banyak kata-kata lain yang mewakili arti seorang teman…

Dan kutemukan, bukanlah teman jika orang itu membuat jiwa kita jadi
miskin dan penuh prasangka negatif karena pastilah dia menjerumuskan
kita agar berperilaku negatif tanpa kita sadari.

Malam kian larut, kucoba menutup mata dan berdoa agar keluarga ini
memiliki teman yang bermanfaat dan bisa memperkaya jiwa kami semua dan
juga agar keluarga ini dijauhkan dari kebencian dan rasa iri hati…

Awal tahun 2007,
Thanks buat semua orang yang membuat jiwaku merasa lebih kaya! Subahanallah, ternyata anak adalah sumber terdekat kita untuk bisa belajar menjadi lebih baik lagi…