Bekerja dengan Cinta

Posted on January 7, 2007 by cucuk-aryan.
Categories: Motivations.

Dzikir Cinta untuk Ibunda

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: A Special For....

Di beberapa literatur Islam, banyak kita temukan sumber yang membahas tentang sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Kesepuluh sahabat itu semuanya laki-laki. Kisah-kisah mereka tersebar di berbagai buku sejarah yang kemudian banyak dijadikan rujukan umat Islam zaman sekarang untuk bisa meneladani dan berbuat seperti apa yang sahabat-sahabat tadi kerjakan. Harapannya, tentu untuk bisa mendapatkan dan meraih surgaNya juga. Sejauh ini, kesepuluh sahabat tadi yang cukup dikenal publik (umat Islam). Padahal, dalam sejarahnya, banyak juga wanita-wanita yang dijanjikan masuk surga. Di antaranya, ada Sumayyah binti Khayat, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Waraqah, Ummu Aiman, Nasibah binti Ka’ah, Ummu Haram dan Ummu Zafar. Kisah-kisah mereka bisa kita baca dalam buku karangan Muhammad Ali Qutb yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga” (Mubasyiraatu bi Jannatun). Dalam bukunya dikisahkan, Sumayyah adalah sosok muslimah yang mempunyai harga diri (izzah) yang tinggi. Memiliki kesabaran dan keikhlasan luar biasa di fase-fase awal dakwah Rasulullah. Sumayyah mempunyai suami bernama Yasir. Keluarga ini memproklamirkan diri sebagai keluarga muslim, mengikuti ajaran Muhammmad. Kenyataan ini membuat tidak senang para pemuka masyarakat yang saat itu masih menyembah berhala, Lata, Uzza. Maka, disiksalah mereka oleh kaumnya, dan hanya akan menghentikan siksanya ketika mau melepaskan diri dari ajaran Muhammad. Namun, Sumayyah dan keluarganya tetap istiqomah, tetap tegar dalam ke-Islaman dan memegang teguh keyakinannya untuk membenarkan ajaran Muhammad. Dan akhirnya, wanita dan suaminya gugur di medan kesyahidan. Sumayyah adalah wanita perkasa pertama yang syahid dalam sejarah Islam pada periode awal Islam datang. Selain itu, ada Asma’ putri Abu Bakar, sang “pemilik dua sabuk”. Kisah yang mengharumkan namanya ketika ia terlibat dakwah dalam peristiwa hijrah. Wanita inilah yang bertugas mengantar bekal makanan untuk Muhammad dan Abu bakar ayahnya ketika hijrah. Asma keluar dari kota Mekah di malam hari tanpa menghiraukan gelap gulitanya malam, sepi dan sunyinya malam, terjalnya bebukitan dan bahaya binatang buas. Yang ada dalam dirinya, hanya bertawakal kepada Allah agar diberi kekuatan untuk bisa memegang amanah. Ketika sampai ke Gua Tsur inilah peristiwa sejarah “pemilik dua sabuk” terjadi. Asma’ menyobek kerudungnya menjadi dua. Satu bagian untuk dijadikan sebagai ikat pinggang dan satunya lagi untuk mengikat bekal. Saat itu, Rasulullah memberi kabar gembira atas apa yang telah dilakukan Asma’, kemudian berkata, "Sesungguhnya Allah telah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga”. Sejak itu, Asma, putri Abu Bakar mendapat gelar Dzatu an-nitthqain yaitu orang yang mempunyai dua ikat pinggang. Masih banyak lagi cerita lainnya. Tentang Ummu Ruman (Zainab), wanita yang dijanjikan surga bukan karena keelokan wajahnya, tapi, ia adalah isteri Abu Bakar yang sabar menerima resiko mendampingi suaminya dalam berdakwah, ia adalah simbol wanita pertama yang memikul tugas mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak mereka.. Tentang Ummu Waraqah, seorang wanita baik hati yang teraniaya dan dibunuh hamba sahayanya sendiri karena iming-iming harta. Tentang Ummu Aiman yang penuh ikhlas merawat Muhammad. Tentang Nasibah binti Ka’ab, bidadari yang terluka dalam perang Uhud. Begitu juga Ummu Zafar, wanita yang sabar dalam keadaan sakitnya. Saya trenyuh dan haru membaca kisah-kisah wanita hebat itu, bidadari-bidadari surga itu… hingga kemudian saya teringat kepada ibunda…. Istaria Sumari, dia hanya wanita sederhana. Tapi, sebagai anaknya, ketulusan, kasih sayang dan ajaran cintanya sampai saat ini masih terus saya rasakan. Dia bukan hanya sosok seorang ibu, tapi sekaligus guru dan sahabat. Mungkin saat ini saya belum bisa berikan yang terbaik untuknya. Karena itu, hanya lantunan doa dan dzikir cinta yang bisa saya berikan untuk Ibunda tercinta Ya Allah ya Rabbi Berikanlah kebahagiaan dalam hatinya Jadikanlah ia wanita yang senantiasa teguh Memegang ajaranMu Muliakanlah ia di dunia dan kelak Berikan kesempatan kepadanya Untuk bisa merasakan surgaMU ~Lelaki sunyi dalam sepotong mimpi~

In Memorian….

Posted on by cucuk-aryan.
Categories: A Special For....

Wanita berusia 60 tahun itu dipanggil “Mbah” oleh anak jalanan Stasiun Lempuyangan. Aku mengenal Mbah sejak anak jalanan Stasiun Lempuyangan tidak dapat kutemui lagi berkeliaran di stasiun, dengan begitu tentu saja aku kesulitan untuk mengumpulkan mereka mengaji di masjid stasiun itu.

Seorang anak jalanan, Yudi mengantarku ke rumah Mbah, tidak jauh dari stasiun. “Sekarang anak-anak tidur di rumah Mbah…” lapor Yudi padaku. Sebuah rumah gubug dengan satu kamar tidur dan sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter menjadi satu dengan dapur. Di ruangan 2 x 3 meter itulah Mbah menampung anak-anak jalanan.

Sekitarsepuluh anak jalanan tidur di rungan sempit itu dan di ruangan itupula dikemudian hari aku mengumpulkan anak jalanan untuk belajar Iqro’ setiap hari dan mendengarkan ceramah setiap bulannya. Yudi kemudian memperkenalkan aku dengan Mbah, seorang wanita yang masih kelihatan segar dan kuat di usia senjanya.

Mbah dengan segala keterbatasan dan keikhlasannya membuka lebar pintu gubugnya untuk anak jalanan yang membutuhkan tempat untuk berteduh, mengurus mereka seperti mengurus cucu sendiri, walaupun ia sendiri membutuhkan uluran tangan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yang selama ini bergantung dari pesanan kue tradisional jika ada tetangga yang hajatan.

Namun aku yakin, rezeki Allah Maha Luas apalagi untuk seorang yang berhati mulia seperti Mbah. Pernah suatu kali, Rahmat seorang anak jalanan yang diasuh mbah minta sedikit beras untuk diisi ke dalam botol yakult yang akan digunakannya untuk ngamen.

“Nggak ada beras” jawab Mbah.

“Sedikiiit aja Mbah…” pinta Rahmat dengan wajah memelas.

“Nggak ada beras, kalo nggak percaya lihat aja di situ”

Rahmat mencari beras ke tempat yang ditunjuk Mbah, dia terdiam setelah melihat tempat Mbah biasa menyimpan beras telah kosong, Aku lantas berfikir, kalau nggak ada beras berarti Mbah dan anak-anak hari ini tidak makan…tapi baru saja aku berfikir begitu, datang seorang laki-laki mengucapkan salam dan ditangannya ada sekotak besar nasi dan lauk-pauknya, ada hajatan katanya.

Subhanallah!

Begitu cepatnya pertolongan Allah datang kepada Mbah dan anak-anak yang kelaparan! Yang membuatku lebih terharu, Mbah langsung memanggil anak-anak untuk makan bersama, dan dalam hitungan detik kotak nasi itu telah dikerumuni anak-anak asuhan Mbah..

Suatu hari…Mbah sakit! Tiga hari tidak sadarkan diri. Panik, aku segera memanggil taksi dan membawa Mbah ke rumah sakit. Di ruang UGD Mbah mulai sadar, lisannya tak henti-henti mungucapkan kalimat thoyyibah. Dokter mendiagnosa penyakit Mbah, hipertensi dan magh kronis. Mbah harus dirawat di rumah sakit. Lima hari Mbah berdiam di rumah sakit, selama itu aku dan anak-anak bergantian menjaganya.

Setiap hari Mbah merengek minta segera dipulangkan karena takut biaya rumah sakit yang mahal. Seorang Ibu yang dirawat dalam satu bangsal dengan Mbah, dibawa pulang oleh anaknya karena sudah tidak kuat menanggung biaya rumah sakit sedangkan sakit ibunya tak jua menunjukkan kesembuhan.

Setelah Mbah kuyakinkan bahwa kesembuhannya-lah yang terpenting, hal itu memicu semangat Mbah untuk segera sembuh dan dalam tempo lima hari Mbah telah dinyatakan sehat. Untuk menutupi biaya rumah sakit, teman-teman kampusku memberikan sumbangan, dan untuk menutupi kekurangannya kujual perhiasanku. Semua itu belumlah sepadan dengan apa yang selama ini Mbah lakukan…

Ketulusan, cinta, kasih sayang yang ia berikan untuk anak-anak yang bukan dari darah dagingnya sendiri. Dan semua itulah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh mereka, anak jalanan. Kasih sayang dan perhatian Mbah, bukan hanya untuk anak jalanan, tapi juga untukku.

Sebagai anak kost yang jauh dari orang tua dan keluarga, kasih sayang dan perhatian Mbah bagaikan air yang menyejukkan. Setiap kali aku datang ke rumah Mbah untuk mengajar anak-anak, Mbah tak pernah lupa menyuguhkan segelas teh hangat untukku, kalau ada, disertai makanan kecil sekadarnya.Jika tidak ada, Mbah hanya menyuguhkan segelas air putih. Apabila sehari saja aku tidak datang, Mbah sibuk mencariku.

Ketika tangan kiriku patah akibat kecelakaan, Mbah tak pernah berhenti memikirkanku. Dengan penuh harap Mbah memohon padaku agar ia kuperbolehkan ikut ke kost untuk merawatku hingga tanganku sembuh, atau kalau tidak, Mbah minta agar aku membawa baju-baju kotorku ke rumahnya agar dapat ia cuci.

Suatu kali, aku berkata pada Mbah, “Mbah, kalau kuliah saya selesai, saya harus pulang. Mbah ikut saya ya…”. Mbah terdiam, lantas berkata, “Kalau Mbak sudah nikah aja Mbah ikut, ngerawat anaknya Mbak…”.

Aku begitu terharu mendengarnya, dan berjanji dalam hati, kalaupun aku harus pulang ke daerah asalku, suatu saat nanti ketika aku menikah aku akan kembali ke Yogya untuk menjemput Mbah, mengajaknya tinggal bersamaku. Beberapa bulan setelah itu… setelah wisuda, aku datang ke rumah Mbah dengan membawa sedikit oleh-oleh. Aku bermaksud memberinya kabar gembira bahwa aku telah berhasil lulus sekaligus berpamitan pulang ke daerah asal…namun bukan Mbah yang kutemui, melainkan anaknya.

Dengan hati-hati anaknya mengatakan padaku bahwa Mbah telah meninggal dunia sebulan yang lalu karena ditabrak kendaraan ketika menyeberang jalan…sekujur tubuhku lemas.terngiang kembali perkataan Mbah, “Kalau Mbak sudah nikah Mbah ikut Mbak…” tak disangka itu pertemuan kami yang terakhir, dan mungkin keinginan Mbah yang terakhir…tapi mbah tak pernah lagi dapat kutemui apalagi tinggal bersamaku.. walaupun aku telah menikah dan kembali ke Yogya,

Mbah tak pernah tinggal bersamaku seperti keinginannya dahulu. Satu pelajaran yangkudapat dari Mbah, selalu ikhlas menolong orang lain meskipun dalam keadaan sempit..