You are looking at posts that were written in the month of January in the year 2007.
« OlderYou are looking at posts that were written in the month of January in the year 2007.
« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Feb » | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | ||||
Bagi seorang gadis, ada masa penantian yang acapkali menimbulkan suasana rawan, menanti jodoh. Padahal jodoh, maut dan rezeki adalah wewenang Allah semata. Tak ada sedikitpun hak manusia untuk mengklaim wewenang tersebut. Tapi, watak manusia terkadang lupa dengan janji Allah. Apalagi bila lingkungan sekitarnya terus menerus memburu’nya untuk menikah, sementara jodoh yang dinantikan tak kunjung tiba. Dalam keadaan demikian, kerap muncul bermacam efek yang dapat membahayakan dirinya.
Seorang wanita akan dianggap dewasa bila ia telah mengalami menstruasi. Islam mencatat masa ini sebagai masa awal mukallafnya seorang wanita. Yang perlu diketahui, wanita sekarang menjadi akil baligh jauh lebih cepat dibanding masa dahulu. Dua puluh tahun yang lampau, wanita paling cepat mengalami menstruasi pada usia 15 tahun. Namun pada masa ini, tak jarang wanita mulai mens pada usia 11 tahun. Akibatnya, kedewasaan wanita terhadap masalah-masalah perkawinan akan meningkat secara cepat.
Keresahan mulai melanda tatkala usia sudah merangkak naik, tapi calon suami tak kunjung datang. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai teladan dilingkungannya. Ada muslimah-muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara walimah ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Ada juga yang bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.
Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang nggak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki (ikhwan) yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “ikhwan” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.
Data yang terlihat dibeberapa biro jodoh juga menambah daftar panjang fenomena yang menggambarkan betapa kaum Hawwa sangat dihantui masalah-masalah rawan yang membuat kita berpikir panjang dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Tentang hal diatas, Al qur’an dengan apik mengisahkan ketidakberdayaan seorang wanita menghadapi masa penantian. “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali …” (QS. An Nahl:92).
Pernikahan memang bukan fardhu. Tidak ada dosa atas seseorang yang tidak menikah selama ia memang tidak menentang sunnah Rasul ini. Jadi, sekarang atau nanti kita menikah, bukanlah problem utama. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi masa-masa penantian ini dengan hal-hal yang positif ataupun aktifitas yang berkenaan dengan persiapan pra nikah.
Persiapan berawal dari hati. Kebersihan hati akan membuat seseorang tenang dalam melangkah. Istilah “perawan tua” tidak akan menggetarkan perjalanannya dan membuat dia berpaling dari jalan dakwah. Kalaupun tak berjodoh di dunia, bukankah Allah akan menggantikannya di akhirat kelak sesuai dengan tingkatan amalnya?
Kebersihan hati juga akan sangat menentukan sikap qona’ah (ikhlas menerima dan merasa cukup) terhadap pemberian Allah. Sehingga ia dengan senang hati menerima, jika sekiranya Allah memberinya jodoh seseorang yang secara fisik (selain agama) tidak sesuai harapannya, agar tidak kaget melihat standar kebahagiaan yang diluar bayangannya.
Orang tua dan keluarga juga perlu dikondisikan, agar mereka tidak menyalahkan Islam. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jilbab adalah yang selama ini menjadi penghalang anaknya tidak mendapatkan pasangan.
Selain itu, bersabar dan berdo’a nampaknya merupakan kunci mutlak untuk menstabilkan moral (akhlaq). Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka yang barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada. Dengan do’a, ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik. Mungkin tidak saat itu juga do’a-do’a kita akan segera dikabulkan, tetapi bukankah do’a adalah ibadah? Jadi, semakin banyak do’a terucap, semakin banyak pula ibadah dilakukan.
Buat para muslimah yang baru saja menikmati keindahan meneguk bahtera rumah tangga, tampaknya ada sikap yang harus dilakukan untuk menjaga perasaan muslimah yang belum menikah. Istri-istri baru itu, biasanya senang “mengompori”. Sebenarnya sikap ini sah-sah saja, agar tampak bukti bahwa menikah tanpa pacaran, menikah dalam rangka dakwah adalah “pengorbanan” yang menyejukkan. Tapi jika hanya sekedar memanasi tanpa solusi, sebaiknya sikap seperti itu ditahan. Apalagi jika si muslimah
itu tidak siap dengan cerita-cerita seputar nikah itu, bisa jadi akan memedihkan perasaannya.
Namun demikian, lain halnya dengan muslimah-muslimah yang ‘bandel’, yang dengan berbagai alasan kerap menolak untuk menikah meski seharusnya sudah siap. Baik tuntutan dakwah maupun tuntutan lainnya.
Menikah adalah ibadah. Tapi, ia bukan satu-satunya ibadah. Masih banyak alternatif ibadah yang bisa dilakukan. Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung juga teralami. Masih banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita. Mumpung masih gadis, optimalkanlah potensi diri. Karena kelak, jika kesibukan menjadi istri dan ibu menghampiri kita, waktu untuk menuntut ilmu, menghapal ayat Qur’an dan hadits, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang. Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS 3:142)
Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita. Saudaraku yang baik, ciri khas umat Dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu dikomentari. Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari.,ketika dia melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari, ketika menonton televisi misalnya ; komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton . Penonton tv yang dewasa itu senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan (tentunya acara yang bermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah, Subhanalloh.
Ketika menyaksikan demonstrasi dia bertafakur.. ‘beginilah kalau negara belum matang, setiap waktu demo, kata-kata yang dikeluarkan jauh dari kearifan-ternyata sangat mudah menghina, mencaci, dan memaki itu’ Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa bisa dilihat dari komentar-komentarnya,makin terkendali Insya Allah akan semakin matang. Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan merabaperasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikap terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa,bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan semakin bijak.
Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri. Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (Wara’), dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu ; tiap detik, tiap tutur kata, dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan. Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.
Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ; didalam rumah seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangis sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis , mengapa ? karena ternyata ibunya menangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap, stabil, Amanah dan bertanggung jawab.
Istilah adult berasal dari bahasa latin yang diambil dari kata adultus berarti telah tumbuh menjadi kekuatan_ dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa (Hurlock, 1992). Oleh karena itu seorang yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat._ Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah kesempurnaan. Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu keadaan menjadi…. (a state of becoming). Meski tidak ada seorangpun yang sanggup untuk bertindak dan bereaksi terhadap semua situasi dan semua aspek-aspek kehidupan, dengan kedewasaan yang penuh. Tapi bagaimanapun juga, dalam dunia kerja seorang pimpinan akan dituntut untuk menangani permasalahan-permasalahan secara lebih dewasa.
Oleh karena itu, ia setidaknya harus memiliki beberapa ciri yang menunjukkan kedewasaan tersebut. Kesuksesan dan kegagalan seseorang untuk memimpin dan mengarahkan bawahannya akan sangat tergantung pada kedewasaan sikap dan tindakan yang akan diambilnya. Bagaimana bentuk kedewasaan yang dituntut untuk dimiliki tersebut? Dibawah ini akan diungkapkan beberapa kualitas yang seharusnya dimiliki seorang pimpinan agar ia dianggap dapat bersikap dewasa. Setiap kualitas yang satu menjadi kewajiban untuk mencapai kualitas yang lainnya, dan menjadi bagian dari diri sang pemimpin dalam menunaikan tugas sebagai seorang yang dianggap sudah dewasa penuh. Adapun ciri-ciri kedewasaan yang harus dimiliki oleh sorang pemimpin adalah sebagai berikut:
Menghargai Orang Lain
Seorang pimpinan yang baik harus bekerja bersama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa ia harus bekerja dengan kekuatan- kekuatan, kelemahan-kelemahan, kesanggupan, dan_ kekurangankekurangan dari orang lain itu. Jika dia dewasa, dia akan menghargai perbedaan yang ada tersebut dan tidak akan mencoba untuk membentuk orang lain agar sesuai dengan keinginannya sendiri dan tidak memperalat bawahan untuk kepentingannya sendiri. Ia sanggup untuk menerima kenyataan yang ada, bahwa setiap orang memiliki andil terhadap hasil akhir suatu pekerjaan yang dikerjakan secara bersama-sama (teamwork).
Hal ini bukan berarti bahwa seorang pemimpin yang dewasa mempunyai hati yang lemah. Ia menerima orang lain, bukan berarti memanjakan mereka untuk selamanya termasuk jika kekurangan mereka (bawahan) akan mengganggu dan mempengaruhi tujuan secara keseluruhan. Seorang pimpinan yang dewasa harus mampu memberhentikan atau memecat seseorang yang tidak lagi memberikan sumbangan terhadap kemajuan atau kebaikan organisasi. Hal ini penting sebab merupakan suatu ketidakadilan bagi perusahaan dan orang lain jika orang yang tidak lagi mampu memberikan kontribusi masih tetap dipertahankan.
Sabar
Pemimpin yang dewasa dapat belajar menerima kenyataan bahwa untuk beberapa permasalahan memang tidak ada penyelesaian atau pemecahan yang mudah. Ia tidak akan dengan mudah menerima pemecahan masalah pertama yang disarankan. Ia akan menghargai fakta dan akan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sebelum memberi saran pemecahan. Bukan saja ia bersedia sabar, tetapi ia tahu benar perlunya beberapa alternatif untuk mengambil suatu keputusan dalam pemecahan masalah.
Penuh Daya Tahan
Semua mahluk hidup pasti pernah mengalami sakit, kesulitan dan kekecewaan. Begitupun dengan seorang pemimpin tidak akan pernah luput dari permasalahan seperti itu. Biarpun demikian seorang pemimpin yang dewasa akan bangkit lagi dan sehat lagi setelah diterpa kemalangan yang bertubi-tubi dengan harapan dan daya tahan yang dimilikinya. Ia akan berusaha jujur dan tidak akan berpura-pura semua keadaan baik-baik saja. Ia menerima kenyataan bahwa rasa sakit harus dipikul, kesalahan-kesalahan diperbaiki dan ia tidak akan membuang waktu untuk menyesali dan meratapi kesalahan yang sudah berlalu. Kegagalan akan meremukan dan menghancurkan orang yang lemah, sedangkan seorang dengan kepribadian dewasa akan mengambilnya sebagai pelajaran dari pengalaman yang sangat berharga.
Sanggup Mengambil Keputusan
Orang yang dewasa, disamping kesabaran dan ketabahannya untuk mencari pemecahan masalah, juga harus mampu untuk mengambil suatu keputusan, walaupun hanya menggunakan data atau informasi yang sangat minim, kurang lengkap atau masih kabur. Setelah menimbang fakta yang ada, ia akan segera menyadari bahwa dalam suatu waktu suatu tidakan harus segera diambil. Dengan menyadarkan dirinya terhadap keyakinan dirinya dan terhadap orang-orang disekitarnya ia harus sanggup untuk mengambil dan memikul resiko yang sudah diperhitungkan olehnya.
Peter Drucker pernah menyatakan bahwa masa depan tidak pernah ada kepastian, tetapi hanya ada kemungkinan-kemungkinan. Seorang pemimpin yang dewasa harus belajar menerima hal ini. Ia harus mampu untuk membuat keputusan-keputusan berdasarkan perkiraan-perkiraan atau kemungkinan-kemungkinan terbaik yang dapat diperoleh, sebab ia tahu jika menunggu untuk memperoleh kepastian yang menyeluruh maka keputusan yang diambil mungkin sudah terlambat.
Menyenangi Pekerjaan
Seseorang yang memiliki emosi yang sehat atau memiliki kepribadian dewasa akan mengetahui bagaimana menikmati pekerjaannya. Apapun jenis pekerjaannya seseorang yang dianggap dewasa akan jarang bermalas-malasan. Ia mengetahui bagaimana menemukan kepuasan dalam melakukan tugas dengan baik dan ia merasa bangga melaksanakan tugas tersebut. Para pemimpin yang dewasa akan memperoleh kepuasan dalam menangani suatu pekerjaan dan_ tidak menggagap pekerjaan sebagai beban hidup. Bagi seorang yang berkepribadian dewasa pekerjaan sangat perlu untuk kelangsungan hidupnya sebagai seorang individu._ Pekerjaan merupakan jalan bagi dirinya untuk mengungkapkan dirinya (aktualisasi diri). Dengan bekerja dirinya akan merasa terjamin untuk tidak berkubang dengan kecemasan-kecemasan dan permasalahan-permasalahan dirinya sendiri.
Menerima Tanggung Jawab
Orang yang tidak dewasa akan mengeluh dan menyesal tentang kegagalan yang mereka alami. Mereka akan merasa bahwa kegagalan yang mereka alami merupakan kesalahan orang lain dan nasib baik sedang menjauhi mereka. Untuk menghindari kegagalan, mereka cenderung untuk tidak menerima tanggung jawab.
Sebaliknya bagi mereka yang berkepribadian dewasa segala kesuksesan dan kegagalan merupakan tanggungjawab diri sendiri. Mereka menyadari bahwa setiap orang memerlukan ketabahan dan kekuatan serta tempat berlindung pada saat-saat sulit, dan yang bertanggung jawab untuk menangani hal tersebut adalah diri sendiri Percaya pada orang lain/kekuatan lain seperti dukun, pimpinan, nasib baik, dll, untuk memecahkan masalah merupakan suatu tanda ketidakdewasaan. Kepercayaan terhadap kekuatan diri sendiri dan berani menerima tanggung jawab dalam kehidupan sangat penting untuk menimbulkan rasa aman dan kebahagiaan
Percaya Pada Diri Sendiri
Seorang pimpinan yang dewasa akan_ menyambut baik partisipasi orang lain, walaupun menyangkut pengambilan keputusan yang sulit. Hal tersebut terjadi karena mereka sangat yakin dan percaya terhadap kemampuan mereka sendiri sehingga tidak ada rasa takut untuk berkompetisi. Mereka akan mudah melihat dan mengenal bahwa orang lain yang memiliki ide-ide dan fikiran yang berharga. Bagi mereka kekuatan orang lain hanya akan menjadi ancaman bagi orang yang tidak merasa aman, dan yang tidak ada kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Seorang pimpinan yang dewasa akan memperoleh kepuasan berdasarkan prestasi yang dilakukan oleh bawahannya. Ia akan merasa bangga dalam keyakinan dan kesadaran bahwa bawahannya adalah tanggung jawabnya. Sebaliknya bagi seorang pimpinan yang tidak dewasa akan merasa sebagai suatu hal yang pahit dan menyakitkan apabila diberikan situasi yang serupa.
Memiliki Rasa Humor
Tertawa adalah sehat. Orang yang dewasa atau matang setuju dengan ucapan itu. Namun demikian orang yang dewasa tidak akan membuat orang tertawa dengan cara merugikan atau melukai perasaan orang lain. Mereka juga tidak akan tertawa jika orang lain dalam keadaan susah atau terluka perasaannya. Orang yang sehat emosinya akan selalu mengingat bahwa humor itu harus baik sifatnya dan menyebarkan kebahagiaan bagi yang mendengarkannya. Orang yang dewasa akan menggunakan humor bukan sebagai alat pemukul atau menjatuhkan orang lain, tetapi sebagai alat untuk melicinkan suasana dan mengendorkan ketegangan.
Memiliki Kepribadian yang Utuh
Orang yang dewasa, bukanlah orang yang membuang-buang dan menyia-nyiakan energinya dengan memakai dan menggerakkan seluruh energinya ke berbagai arah yang tidak menentu, bahkan sering bertentangan arah. Pada umumnya mereka adalah orang yang teratur dan sudah terorganisir serta dapat menangani problemnya dengan efektif. Mereka bukan orang yang mudah beralih perhatian atau menyimpang dari rencana oleh karena keinginan-keinginan yang muncul dengantiba-tiba, tetapi mereka dapat dengan mudah beralih dari kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain tanpa kebingunagan dan kekacauan. Seimbang( Seorang pemimpin yang dewasa akan hidup dalam suatu kehidupan yang seimbang. Ia merasa bangga menjadi bagian dari perusahaan dan tahu persis posisi dan peranannya di dalam perusahaan.
Ia pintar menempatkan diri sehingga tidak menyulitkan dirinya dan perusahaan. Ia_ sanggup untuk bekerja keras dan selalu siap mengatasi tekanan yang diterimanya serta dapat menikmati masa senggangnya dengan baik. Menerima Diri Sendiri (Para pemimpin yang efektif_ mempunyai pandangan dan penilaian yang baik terhadap kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Pada kenyataannya hal ini sangat menentukan kesuksesan seorang pemimpin.
Namun hanya pemimpin yang memiliki kedewasaan yang dapat memilih dan mengumpulkan pembantu-pembantu dan orang-orang dekatnya untuk saling menutupi kekurangan dan kelemahan. Karena ia dapat melihat dan menilai diri sendiri dengan baik secara objektif dan realistis, maka ia akan sanggup untuk menggunakan kelebihan dan bakatnya secara efektif. Ia juga akan terbebas dari rasa frustrasi yang mungkin timbul karena kegagalan mencapai suatu hal yang diluar_ kemampuan dirinya.
Memiliki Prinsip yang Kuat
Banyak pemimpin yang sungguh-sungguh melihat perusahaan sebagai suatu mahluk hidup yang harus dijaga dan dipelihara. Mereka memandang dirinya sebagai pengawal bagi keselamatan dan kebaikan perusahaan. Mereka menganggap dirinya berperan sebagai pengasuh dan pelindung perusahaan yang kemudian meneruskan dan menyerahkan pengawalan dan fungsi mengasuh tersebut kepada penerusnya.
Hal tersebut pula yang menjelaskan mengapa pemimpin tidak akan segan-segan untuk bersikap keras dan tegas dalam menghadapi orang lain bila menyangkut keselamatan dan kelangsungan hidup perusahaan. Mereka memegang teguh prinsip-prinsip yang telah ditanamkan dalam perusahaan dan tidak akan kenal kata menyerah jika dihadapkan paa soal hidup matinya perusahaan.
INGAT, pahlawan hanya muncul sekali. Karena itu, keinginan pahlawan untuk comeback tidak lain hanyalah mimpi buruk. Tengoklah, misalnya, kisah Napoleon setelah dia tekuk-tekuk musuh-musuhnya sampai benar-benar bertekuk lutut. Dia mencari momentum untuk comeback. Justru karena ambisinya itu, dia malah dilempar ke Pulau Elba, tempat yang sangat terpencil hingga dia meninggal.
Andaikan seorang pahlawan berhasil comeback pun, pasti kemunculan dia untuk kedua kalinya tidak akan secemerlang sebelumnya. Hukum alam memaksa dia, mau tidak mau untuk menjadi karaten. Situasi dan kondisi apapun yang dia ciptakan atau hadapi, hukum alam tidak akan memungkinkan dia untuk mempertahankan marwahnya.
Ada banyak kriteria pahlawan. Namun, dunia olahrga sering digunakan sebagai analogi. Dunia olahraga dapat ditarink kembali ke masa Yunani Kuno, ketika tradisi olimpiade masih berada dalam tahap-tahap awal. Analogi itu yang dijadikan A.E. Houseman dalam puisi To an Athlete Dying Young.
Seandainya atlet itu tidak meninggal tepat ketika dia berada di puncak kejayaan, mungkin dia akan mati setelah tua dalam keadaan mengenaskan. Kalau ingin tahu dalam kehidupan nyata, tengoklah, misalnya, Johny Weismuller, olahragawan terkenl pada 1940-an. Dia juara renang Olimpiade, kemudian menjadi bintang film terkenal Hollywood khusus sebagai pemain Tarzan, lalu turun derajat sebagai tukang sobek karcis bioskop, dan akhirnya meninggal dalam usia tua tanpa perwatan.
Di luar dunia olahraga, coba bayangkan jika Bung Tomo meninggal pada saat dia sedang berpidato berkobar-kobar pukul sembilan malam awal Desember 1945. Pasti dia akan menjadi pahlawan besar dengan status resmi sebagai pahlawan nasional. Karena di tIdak meninggal pada saat itu, namanya beberapa kali dicemarkan tangan-tangan politik dan akhirnya dia meninggal bukan sebagai pahlawan.
Coba bayangkan pula, seandainya seorang mahasiswa demonstran pada 1966, Arief Rahman Hakim, tidak tertembak sampai meninggal pada waktu demonstrasi menentang Soekarno berada di titik puncak, tidak mungkin ada jalan di sekian banyak kota di Indonesia yang diberi nama Arief Rahman Hakim. Pada penamaan jalan, Arief Rahman Hakim dalam beberapa kasus jauh lebih terhormat dari pada, katakanlah, penyair Amir Hamzah, pendiri Kepolisian Republik Indonesia, atau pengusaha rokok yang dalam hidupnya menyumbang banyak devisa.
***
Dalam panorama politik sesudah reformasi 1998, banyak pula pahlawan-pahlawan muncul. Kalau boleh jujur, mereka bukanlah pahlawan-pahlawan besar, meski mungkin juga bukan pahlawan-pahlawan kelas kambing. Mereka bukan pahlawan besar karena mereka tidak menciptakan jaman, tapi diciptakan jaman.
Ketik jaman menjdi lebih kacau karena reformasi yang seharusnya untuk kemaslahatan orang banyak berubah untuk kemaslahatan pribadi, mentl dan moral mereka justru tambah bobrok. Mereka terseret menjadi bagian bola salju yang menggelinding dari satu kotoran ke kotoran lainnya.
Pahlawan-pahlawan itu tidak mau sadar bahwa pada hakikatnya, kepahlawanan pada diri seseorang hanya tampil satu kali dan selanjutnya akan hilang. Mereka menyadari pernah gagal dan jatuh. Namun, mereka yakin masih bisa bangkit kembali, menjadi pahlawan yang lebih hebat dari sebelumnya. Realita yang tidak dihadapi dengan sikap realistis, namun dengan sikap delusif, pasti akan membuahkan mimpi buruk bagi mereka.
Hakikat kepahlawanan yang diikat oleh hukum alam “sekali berarti, sesudah itu mati” adalah pemicu penting lahirnya sekian banyak gerakan politik, baik dalam bentuk resmi partai politik maupun yang tidak. Mereka adalah orang-orang lama yang muncul karena situasi dan kondisi jaman, lalu gagal, dan tidak mau menerima kegagalan itu sebagai realita. Dengan mimpi indah yang akhirnya menjadi mimpi buruk, mereka ingin menjadi macam-macam, khususnya presiden masa mendatang.
Dalam ilmu pengetahuam, ada psikologi humanistik dengan pelopor Abraham Maslow. Psikologi humanistik paling tepat diterapkan pada orang-orang dengan personalitas normal, yaitu berambisi positif, bukan ambisi destruktif.
Seorang dokter umum ingin menjadi dokter spesialis terkemuka, seorang juara pingpong kelas RT ingin menjadi juara kelas provinsi, seorang lulusan AKABRI ingin menjadi jendral bintang empat dengan jabatan panglima angkatan bersenjata, dan lainnya adalah wajar.
Tentu saja, ambisi tidak sekedar ambisi tanpa modal yang tepat. Seorang juara pingpong kelas RT umur 30 tahun, lalu punya ambisi menjdi juara pingpong kelas dunia, mislnya, tidak lain adalah seseorang yang tidak realistis. Ambisi semacam ini tidaklah sehat dan tidak masuk kategori “aktualisasi diri” dalam konteks psikologi humanistik.
Ada pula ambisi yang tidak dapat dikategorikan dalam psikilogi humanistik, yaitu ambisi dengan jalan menjatuhkan orang lain yang dianggapnya sebagai penghalang atau pesaing. Justru di titik inilah, pahlawan-pahlawan bukan dalam arti sebenarnya, namun pahlawan kesiangan, banyak bermunculan. Penyebabnya, para pahlawan ini menganggap bahwa kedudukan politik adalah perwujudan tertimggi aktualisasi diri mereka.
Implikasi politik, dengan sendirinya, menciptakan ironi yang tampaknya gagh tapi sebetulnya amat menyedihkan. Gagah karena untuk comeback adalah slogan muluk namun klise, misalnya “demi kepentingan nusa dan bangsa” sebagai penoles maksud asli “demi kepentinganku sendiri.” Implikasi politik juga dan itulah yang penting, adanya keinginan untuk saling menjatuhkan dengan jargon agung “koireksi demi kepentingan nasional”, entah berapa persen kadar kepentingan nasionalnya.
Ikhwah fillah sekalian, menjelang Tahun Baru 1428 Hijriyyah yang bertepatan dengan 1 Muharram 1428 H, ada beberapa hal yang patut kita refleksikan.
Tahun Baru adalah saat yang tepat untuk mengintrospskesi diri, merenungi dan merefleksi diri bahkan juga umat ini. Kita renungkan apa yang hingga kini telah dicapai oleh kita umat Islam setelah kejatuhannya yang kedua pada tahun 1924 M yang lalu. Apa yang telah kita perbuat dan perjuangkan untuk kembali meniti jalan kebangkitan Islam menyongsong kejayaannya yang gemilang.
Ikhwah fillah sekalian, kita akan selalu ingat bahwa Rasulullah telah menjanjikan kepada umat ini berbagai kemenangan. Rasulullah pernah memberikan sinyalemen masa depan : "Suatu saat nanti umatku akan mampu menaklukkan Konstantinopel (Byzantium, Romawi Timur). Sebaik-baik pasukan adalah pasukan pada saat itu. Dan sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pada saat itu. Umatku juga akan menaklukkan bangsa Rum (Romawi Barat : Eropa&Amerika)." Shahabat bertanya : "Yang manakah yang akan kita taklukkan terlebih dulu, ya Rasul?" Rasul menjawab : "Negerinya Heraklius (Konstantinopel) yang akan terlebih dulu kita taklukkan!"
Dan kita lihat sebuah fakta ikhwah fillah sekalian, bahwasannya Konstantinopel takluk oleh seorang pemuda muslim Sulthan Muhammad al Fathih II tahun 1453 M pada usianya yang baru 23 tahun! Maka beliau bersama pasukannya saat itu telah membuktikan janji kemenangan yang telah Rasulullah berikan! Rentang masa Rasulullah dengan pembuktian janji itu sekitar 7s.d.8 abad lamanya.
Dan ikhwah fillah sekalian, masa yang kini kita hidup di dalamnya adalah masa yang berada dekat pada siklus kedua pembuktian janji itu. Kita berada pada masa yang sangat dekat dengan abad-abad kemenangan! Berarti, penaklukkan bangsa Rum (Eropa dan Amerika) sepertinya tidak lama lagi! Dan janji Rasulullah juga pasti akan terbuktikan! Dan kita sangat mengharapkan bahwa penaklukkan ini adalah penaklukkan damai, bukan peperangan. Islam yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah adalah Islam yang damai dan sangat membenci peperangan. Namun bukan berarti kita mengingkari perang jika ternyata kondisi mengharuskan kita untuk berperang. Kita perhatikan bahwa perang-perangyang ada pada masa rasulullah adalah perang-perang defensif. Posisi umat Islam pada saat itu berada pada posisi bertahan. Artinya, umat Islam yang diserang terlebih dahulu. Kita lihat Perang Badar, Uhud, Khandaq (Ahzab) akan kita temukan fakta ini! Setelah Perang Tabuk, Rasulullah berkata kepada para shahabat : "Mulai hari ini, mereka (kaum kafir) tidak akan lagi menyerang kita, kitalah yang akan menyerang mereka." Dan kita akan lihat fakta bahwasannya posisi ofensif (menyerang) yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan penyerangan militer tapi justeru sebuah "jalan damai" yaitu dengan sebuah Perjanjian Hudaibiyyah. Dan serangan ofensif setelah itu adalah jalan damai Fathu Makkah (Pembukaan kota Makkah).
Ikhwah fillah sekalian, mengapa umat yang dididik (tarbiyyah) oleh Rasulullah mampu menjadi pemimpin dunia. Mereka pada awalnya adalah orang-orang gurun, ada juga yang badui. Mereka bodoh dan terbelakang. Kebanyakan mereka adalah para penggembala. Tapi ikhwah sekalian, suatu kekuatan besar telah merasuki jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa itulah yang mampu menghantarkan Islam hingga ke segenap penjuru dunia. Islam pun memimpin dan melayani dunia dengan implementasi ajarannya yang mulia. Hingga kita pun merasakannya.
Ikhwah fillah sekalian, jumlah shahabat yang tertarbiyyah (terbina) saat hijrah dari Madinah ke Makkah saat Fathu Makkah adalah sekitar 120 orang. Ketika terjadi peristiwa Fathu Makkah, maka umat Islam pun menjadi sekitar 120.000-an orang. Dan kini kita saksikan bahwa jumlah total umat Islam sedunia ada sekitar 1,2 milyaran orang!
Ikhwah fillah sekalian, Rasulullah juga pernah memberikan kabar gembira : "Telah diperlihatkan kepadaku bahwa umatku akan berkuasa dan memimpin dunia dan wilayah umatku itu terbentang dari Timur hingga Barat. Wilayah itu dihimpunkan hingga aku melihat ada warna merah dan putih."
Yang pasti warna merah-putih dalam hadits ini tidak ada kaitannya dengan warna bendera Indonesia. Tapi ikhwah fillah sekalian, saya seperti merasa bahwa merah-putih itu adalah kita umat Islam di bumi Indonesia! Kita lihat faktanya bahwa Indonesia adalah negeri dengan jumlah muslim terbesar di seantereo jagat. Kita juga akan terhenyak dan sadar ketika seorang Ulama Internasioanl Syaikh Yusuf al Qaradhawy menyatakan bahwa kami (umat Islam di Timur Tengah khususnya, di belaha dunia yang lain umumnya) butuh sosok pemersatu. Dan beliau sangat mengharapkan bahwa sosok itu adalah umat Islam di bumi Indonesia ini! Kami, kata beliau, sangat butuh sosok yang akan memimpin dunia Islam. Dan sekali lagi, ikhwah fillah sekalian, mereka sangat mengharapkan sosok itu adalah kita; kaum muslimin di bumi nusantara!
Bagaimana dengan kita ikhwah fillah sekalian!? Kita sangat sadar bahwa kita umat Islam di Indonesia sedang terjangkit virus "Mulim Paradox". Yaitu suatu kondisi di mana ada paradox (pertentangan) antara entitas Islam dengan entitas Muslim-nya. Ibaratnya seperti Langit dan Sumur! Islam itu langit dan umat Islam itu sumur! Islam mengajarkan keshalihan, tapi faktanya banyak kita yang tidak shalih. Islam mengajarkan kejujuran, tapi faktanya yang koruptor kebanyakn orangIslam. Islam sangat menganjurkan kepedulian terhadap kondisi umat, tapi faktanya banyak di antara kita yang egois dan apatis. Islam sangat memerintahkan tentang penguasaan IPTEK, tapi kita malah terjangkit penyakit kebodohan. Islam sangat memerintahkan kita untuk kuat dalam segala hal (politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb.), tapi faktanya kita lemah dalam itu semua!
Lalu bagaimana solusinya ikhwah fillah sekalian? Tak ada jalan lain selain "mendekatkan" Islam yang langit dan umat Islam yang sumur akan menggapainya! Dan jalan itu adalah jalan tarbiyyah di segala bidang! Jalan pembinaan dan pendidikan! Secara utuh dan sesuai dengan manhaj Rasulullah tentunya!
Dengan jalan tarbiyyah itu, kita umat Islam Indonesia akan mampu melahirkan para khalifah (pahlawan mukmin) yang akan mengemban amanah kemenangan dan kejayaan! Karena itu, berbuatlah yang banyak dan terarah agar terlahir manusia-manusia muslim Indonesia yang berderajat khalifah! Dan hal ini harus dimulai dari diri kita sendiri. Maka, jadikanlah diri kita seorang khalifah. Dan akan lahir ribuan bahkan jutaan khalifah-khalifah yang lain! Dan untuk menjadi seorang khalifah, tidak perlu menanti tegaknya Asy Syri’ah! Tidak perlu menanti datangnya Sang Mesiah! Tidak perlu menanti tegaknya Al Khilafah!
Karena itu ikhwah fillah sekalian, jadilah khalifah mulai saat ini! Dan sambutlah momen Tahun Baru Muharram ini dengan JIWA BARU! Dengan RUH BARU! Dan dengan SEMANGAT BARU!!!
SELAMAT TAHUN BARU 1428 HIJRIYYAH…
Perempuan itu kini tidak mengharapkan apa pun. Tidak juga sekadar bermimpi. Bukanlah kepesimisan yang pelan-pelan, kemudian bertambah cepat, sedang membunuh jiwanya. Tapi, dia hanya berusaha menyesuaikan dirinya pada realitas yang ada.
Tidak lagi ia sanggup bermimpi. Bermimpi membangun rumah tangga. Padahal, sejak kelas tiga SMU, atau enam tahun yang lalu, impian itu menjadi salah satu poin besar rancangan hidupnya. Tapi kini tidak lagi. Kini, ia hanya ingin mengalir seperti air. Ia tak ingin mematok target lagi. Sebab ia tidak ingin air matanya kembali tertumpah hanya karena keinginan yang entah kapan akan terwujud.
Bukan karena dirinya mengidap penyakit AIDS, kanker rahim, atau apa pun itu, yang kemungkinan besar akan membuat seorang laki-laki harus berpikir keras untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Bukan. Bukan itu. Tapi karena kondisi yang dialami dirinya, lebih tepatnya keluarganya, yang menyebabkan dirinya tak sanggup lagi berkeinginan berumah tangga. Bahkan untuk sekadar bermimpi.
Kita semua pasti setuju, bahwa jika seseorang akan menikah, maka ia harus menyiapkan mental, fisik, materi, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan perempuan itu. Ia, perempuan itu, harus menambah tuntutan tersebut dengan satu persiapan lagi. Yaitu bekal untuk menghadapNya di akhirat nanti. Memang, bukan hanya perempuan itu yang harus menyiapkan bekal ke akhirat dengan sebaik mungkin. Melainkan setiap mukmin. Tapi, bagi perempuan itu, persiapan bekal akhirat menjadi sesuatu yang wajib adanya. Sebab, ketika ia memutuskan untuk menikah, nyawanyalah yang akan dipertaruhkan. Benarkah? Ya, benar. Karena kakak pertamanya belum menikah. Perempuan. Mengidap penyakit kejiwaan. Dan…, pernah mengancam akan menghabisi nyawa adiknya, perempuan itu.
Setidaknya, itulah yang terlontar dari mulut sang kakak perempuan itu. Itu terjadi ketika sang kakak tahu bahwa ada seorang laki-laki sholeh yang ingin melamar sang adik, perempuan itu. Amarah liar kakaknya itu menjadi-jadi. Barang-barang pecah belah pun di lemparnya di depan mata perempuan itu. Teriakan histeris sang kakak membahana, hingga keesokan harinya para tetangga mulai menatap keluarga perempuan tersebut dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
Akan tetapi, sesungguhnya, perempuan itu tidak takut mati. Bahkan di tangan kakaknya sendiri yang mengidap skizofrenia sejak sembilan tahun yang lalu.
Tidak. Ia tidak takut mati.
Yang ia takutkan hanyalah, apabila sepeninggalnya nanti, orang-orang yang dicintainya justru tidak kuasa menghadapi cobaan ini. Tidak sanggup mengikhlaskan semua ini.
Yang ia takutkan adalah jika adik laki-lakinya yang begitu disayanginya, yang juga tidak begitu kuat mental dan ruhiyahnya itu (akibat sembilan tahun berhadapan dengan seorang kakak yang terganggu jiwanya), akan semakin dalam memasuki jurang. Hingga untuk kembali ke rumah setelah bekerja seharian, bukanlah menjadi pilihan utama. Melainkan lebih baik menginap di rumah teman. Dan perempuan itu tidak tahu, apakah sang teman akan mengingatkan adiknya bila waktu sholat telah tiba? Akan mengingatkan jika jalan sang adik mulai menyimpang?
Yang perempuan itu takutkan pula, jika kedua orang tua yang begitu dikasihinya, tidak lagi kuat menahan tatapan sinis para tetangga, yang seakan-akan memperolok mereka: "Kalian orang tua yang gagal mendidik anak. Lihat saja, seorang anaknya sakit jiwa…" (Padahal, perempuan itu yakin benar bahwa ujian ini sebenarnya bisa saja ditimpakan Allah kepada siapa saja. Namun Allah memilih keluarga perempuan itu untuk menghadapinya).
Tidak. Ia tidak sanggup melihat mata kedua orang tuanya semakin sembab setiap pagi, akibat sepertiga malam terakhirnya selalu membanjiri sajadah mereka dengan doa pengharapan agar sisa kebaikanNya masih tetap terselip bagi keluarga perempuan itu.
Akhirnya, seiring berjalannya waktu, perempuan itu kini mencoba berharap kembali padaNya. Mencoba untuk berani memulai mimpinya yang sempat menguap begitu saja. Ia masih ingin, ingin sekali membangun rumah tangga Islami yang dulu pernah didambakannya dengan seorang laki-laki sholeh, yang lebih kuat keimanannya dari pada dirinya. Meskipun, ia juga sangat menyadari, kondisinya masih saja tidak semudah yang ia bayangkan. Ia hanya ingin memasrahkan segalanya padaNya, apa pun itu keputusanNya.
Hingga akhirnya, beruntunglah ia masih berani menyimpan sebuah doa, yang selalu ia panjatkan sebelum tidur malamnya, "Allah, jika engkau tidak memperkenankan aku bertemu penamping hidupku di dunia ini, berikanlah ganjaran yang terbaik di sisiMu kelak…"
Alhamdulillah. Sejak itu, sang perempuan menjadi lebih kuat dari pada sebelumnya. Karena ia percaya, segala sesuatu pasti ada batasnya. Karena ia percaya, air mata tak abadi, akan hilang dan berganti. Pun ia percaya, semakin besar ujian seseorang, semakin besar pahala yang akan didapatkan jika keikhlasan menjadi perisainya.
Apalagi ia juga percaya…, bersama kesulitan, ada kemudahan…. Seperti sekarang ini. Ia memang masih sulit menghadapi perangai kakaknya. Tapi ia diberiNya kemudahan untuk menjadi seorang muslimah yang benar-benar Islam. Mampu berserah diri padaNya setulus-tulusnya…
Jati Diri
Masa SMU adalah masa yang paling indah, disaat itulah para remaja sedang berusaha untuk mencari jati diri yang sesuai dengan dirinya, mereka masih mengikuti dengan lingkungan yang sedang dihadapinya, kalo ia lagi berteman yang senengnya nyayiin Numb-nya Linkin Park maka ia juga ikutan nyanyiin dan pas ia ketemu ama temen yang senengnya nyanyi dangdut, ia juga ikutan nyanyi “Goyang dombreeet….goyang dombret ser ser 2X”.
Kita semua mesti sadar, kita sekarang udah bukan lagi anak SMU yang masih membawa tempat nasi jika kesekolah, disuapin kalo makan dan dimandiin (oh my God…!! yang terakhir dibacanya pelan2 ya), kita ini MAHASISWA/I guys…!! yang punya visi dan misi kedepan yang siap untuk memimpin bangsa, membawa rakyat menjadi aman, makmur dan sejahtera. Kita harus kritis dan care dengan lingkungan kita, saudara-saudara kita, seperti yang terjadi dengan negara kita seperti dibawah ini.
Indonesia Negara Kaya tetapi Miskin
Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber alamnya, mengapa harus menangis karena kemiskinan. Indonesia memiliki hutan hujan tropis sebesar 1,148,400 Km2 (terbesar di Asia-Pasific) dan pesisir yang membentang sepanjang 81,000 Km (14% dari seluruh pesisir dunia dan terpanjang didunia), kekayaan tambang Indonesia sangat besar dan melimpah ruah, bahkan Indonesia adalah salah satu negara penghasil migas yang cukup diperhitungkan dunia. Tetapi mengapa Indonesia harus mengemis-ngemis mencari hutang dan menuruti semua prasyarat pihak asing yang sangat tidak masuk akal.
Pengambilalihan perusahaan yang bermasalah oleh pemerintah seperti yang terjadi terhadap BCA dan bank-bank lain yang bermasalah. Penjualan saham BCA sebesar 51% oleh pemerintah kepada Faralon Capital yaitu sebesar 5,3 trilyun tidak seimbang dengan biaya rekap BCA yang dilakukan pemerintah dengan cara mengeluarkan obligasi rekap (surat hutang) sebesar 60 trilyun dengan menggunakan bunga mengambang (floating rate) sebesar rata-rata 14% (Rp 8,4 trilyun/tahun atau Rp 700 milyar/bulan). Pembayaran bunga harus ditanggung rakyat melalui APBN melalui pembayaran pajak. (Ingat itu baru satu bank!). Bayangkan…, pemerintah hanya mendapatkan dana sebesar 5,3 trilyun, sementara pemerintah harus membayar bunga sebesar 8,4 trilyun setiap tahunnya. Artinya untuk kasus BCA pemerintah mengalami defisit 3,1 trilyun. Siapa yang harus menanggung kerugian ini ? Jelas jawabnya adalah rakyat (kita semuanya !!).
Indosat adalah BUMN yang sangat sehat harus dijual kepada pihak Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) sebesar 624 juta dollar (Rp 4,992 trilyun jika kurs 1 dollar Rp 8000) dengan menjual saham 41,94%, tidak hanya itu, 8% saham Indosat dipegang investor BEJ (Bursa Efek Jakarta), 35% dipegang investor dibursa saham Amerika, sehingga Indonesia hanya memiliki 15,06% saham dari Indosat, padahal Indosat mampu memberikan pemasukan kepada negara sebesar Rp 1,405 Trilyun pada tahun 2001 sebelum terjual, sekarang apa yang didapat Indonesia dengan hanya 15,06% ??? Siapa yang harus menanggung kerugian ini ? Jelas jawabnya adalah rakyat (orang tua kita !!).
Dengan dikeluarkannya UU No 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan diteruskan dengan disahkannya UU No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, maka sejak itu Indonesia memilih politik hukum pertambangan yang berorientasi pada kekuatan modal besar eksploitatif. PT. Freeport adalah salah satu perusahaan Multinational Corporation (MNC) yang bergerak dalam bidang penambangan tembaga di Papua, letak penambangan di gunung Yet Segel Ongop Segel (Grasberg) dan telah merubah gunung menjadi lubang raksasa sedalam 700 m, PT FI dimiliki oleh perusahaan multinasional berbasis di USA Freeport McMoran Copper dan Gold, sementara PT. New Minahasa Raya antara lain dimiliki oleh Newmount Mining Corporation yang juga berbasis di Amerika. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) merupakan LSM yang paling gencar mengecam praktek PT. Freeport di Papua (Irian Jaya), yang telah beroperasi sejak tahun 1960, yang disebut Walhi telah sangat merusak lingkungan hidup di Papua. Tahun 1995 hingga tahun 2000 saja, PT. Freeport telah memproduksi 420 juta ton sampah industri yang 95%-nya dibuang kelembah Wanagon diwilayah Gasberg, Papua. Mengingat skalanya yang luar biasa itu, tidak heran jika aktivitas PT. Freeport telah mengakibatkan kerusakan lingkungan parah disungai-sungai diwilayah Papua dan terutama didanau Wanagon. Keterlibatan PT. FI dalam menyediakan fasilitas bagi pelaku pelanggaran HAM di Mimika, telah dibuka oleh Uskup Muninghof tahun 1995 yang menghebohkan dunia international pun tidak bisa menggerakkan pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap pelanggaran HAM termasuk PT. FI yang menyediakan saran dan prasarananya.
What We Do Know ??
Bingung ya, jangan bingung donk… Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menenangkan pikiran dan mendinginkan kepala pake es kalo perlu serta menganalisa apa yang sebenarnya terjadi, mengapa semua ini bisa terjadi dan apa akar masalah dari semua ini. Sebagai seorang mahasiswa/i kita harus mempunyai pola berfikir yang arif dan bijaksana, artinya kita tidak bisa hanya menyalahkan sebuah pemerintahan yang tidak jujur dan amanah, melainkan kita harus mengamati secara keseluruhan dan bersikap kritis dan bertanya “Mengapa masalah ini terus berkelanjutan dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lainnya ???Siapakah yang bersalah, apakah orang-orang yang duduk dalam pemerintahan ataukah aturan yang mengaturan kehidupan ini ???”
Pernah nggak kamu mainin Puzzle (Pizza kok buat mainan…), itu loh gambar yang telah dipotong-potong (biasanya tidak beraturan) dan tugas kita adalah memasang kembali potongan-potongan tadi dan menyusun kembali menjadi sebuah gambar seperti sebelumnya, semakin kecil potongannya, semakin sulit kita merangkainya. Dalam mensikapi berbagai peristiwa yang terjadi kita tidak bisa langsung memutuskan ini dan itu tanpa menghubungkan dengan berbagai peristiwa yang terjadi baik lokal maupun global, contoh kasus peledakan bom didepan kantor Kedutaan Australia yang terjadi 9 September 2004 di Jakarta, kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa JI (Jamaah Islamiyah) sebagai pelaku peledakkan hanya karena berdasarkan cara ledakan yang sama persis seperti yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Legian Bali yaitu sama-sama menggunakan bom mobil, bisa saja ada pelaku lain yang menggunakan cara yang sama. Kita tidak bisa menyimpulkan hanya dengan satu bukti dan terus memukul semuanya secara general (keseluruhan). Bisa jadi pihak asinglah yang secara sengaja membuat keributan di Indonesia demi kepentingan-kepentingan mereka. Contoh diatas sama persis jika kita menganalisa berbagai masalah di Indonesia maupun diberbagai dunia, semakin banyak fakta yang kita peroleh maka semakin jelas gambar yang hendak kita susun.
Untuk menilai fakta-fakta yang terjadi didunia ini, maka kita harus memiliki standar penilaian baik dan buruk secara fakta (realita). Kita semua pasti sadar betul bahwa hidup didunia ini ada kelahiran dan ada kematian, dari fakta ini maka ada 3 pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh kita semua setiap manusia, yaitu :
1. Yang berhubungan dengan kelahiran, dari mana saya datang ?
2. Yang berhubungan dengan kehidupan kita sekarang didunia, untuk apa saya ada ?
3. Yang berhubungan dengan kematian, setelah kehidupan dunia ini saya akan kemana ?
Dari pertanyaan yang mendasar tersebut diatas, ada 3 ideologi yang secara fakta ada didunia yang menjawab pertanyaan tersebut, yaitu pertama, ideologi Sosialisme (beraqidahkan Komunis), ideologi ini pernah diterapkan dinegara Uni Soviet dan mengalami kehancuran pada tahun 1990. Paham ini pernah muncul di Indonesia dengan adanya PKI dengan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G/30S/PKI). Jawaban Ideologi ini atas 3 pertanyaan diatas adalah
1. Meyakini bahwa kehidupan (manusia) ini berasal dari materi dan tidak meyakini adanya Tuhan.
2. Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk bebas.
3. Setelah kehidupan ini manusia akan menjadi materi kembali.
Secara umum, sistem ekonomi sosialisme memiliki konsepdasar sebagai berikut. Pertama, secara riil (equality). Kedua, penghapusan kepemilikan individu (Private Property), baik secara keseluruhan maupun sebagian. Ketiga, mengatur produksi dan distribusi secara kolektif. Dari konsep diatas, maka timbul sama rasa sama bahagia, individu tidak diperbolehkan memiliki harta secara individu.
Kedua, ideologi Kapitalisme (berqidahkan Sekuler yaitu pemisahan agama dari kehidupan), ideologi ini sedang berjaya pada masa sekarang ini dan dianut (diterapkan) oleh hampir seluruh negara-negara didunia ini (AS, Inggris, Perancis, Malaysia, Singapore, Jepang, dsb). Jawaban Ideologi ini atas 3 pertanyaan diatas adalah
1. Meyakini bahwa kehidupan (manusia) ini berasal dari Tuhan Sang Pencipta.
2. Tujuannya diciptakan manusia adalah untuk bebas (God is Watch Maker)
3. Setelah kehidupan ini manusia akan kembali ke Tuhan dan masuk surga.
Kapitalisme berasal dari kata Kapital yang artinya pemilik modal, ciri khas dari ideologi ini adalah dalam hal ekonominya. Konsep dasar ekonomi Kapitalisme adalah barang dan jasa terbatas sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas. Maka sangat wajar apabila penanganan kemiskinan dalam kacamata kapitalis adalah dengan cara mempertinggi pertumbuhan ekonomi, sementara untuk mempertinggi pertumbuhan ekonomi pertama-tama tergantung pada tingginya tingkat penanaman modal . Metode ini mengharuskan negara yang menerapkan ideologi ini memberikan “perhatian yang luar biasa” untuk mengenjot produksi nasional dan domestik agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sehingga tidak heran negara tersebut akan mengundang kalangan investor dalam dan luar negeri agar mereka mau berproduksi dinegaranya, maka kompensasi yang harus diberikan adalah memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi mereka melalui penggadaian aset-aset milik rakyat dan aset berharga lainnya untuk dieksploitasi, seperti di Indonesia dan negara-negara lainnya. Didalam Kapitalis tidak ada pembagian kepemilikan baik itu individu, umum ataupun negara, sehingga semua kekayaan alam yang ada diseluruh dunia bisa dimiliki secara individu.
Ketiga, ideologi Islam (beraqidahkan Islam), ideologi ini pernah lahir sejak tahun 622 M dengan hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah hingga runtuhnya Turki Ustmani 3 Maret 1924 M dan dianut oleh 2/3 daratan dunia ini. Jawaban Ideologi ini atas 3 pertanyaan diatas adalah
1. Meyakini bahwa kehidupan (manusia) ini berasal dari Allah SWT
2. Tujuannya diciptakan manusia adalah untuk tunduk dan patuh terhadap semua yang telah ditetapkan oleh Allah SWT (beribadah).
3. Setelah kehidupan ini manusia akan kembali kepada Allah SWT dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang dilakukan didunia dan akan diberi balasan, yaitu surga (patuh terhadap perintah-Nya) dan neraka (melanggar perintah-Nya).
Ciri khas dari Islam adalah keterikatan setiap perbuatan hamba terhadap aturan Allah, sehingga semua aturan haruslah bersumber dari-Nya. Begitu pula dalam hal ekonomi, Islam memandang semua kekayaan adalah milik Allah SWT (An Nur : 33) sehingga Islam mengatur masalah kepemilikan, dimana kepemilikan umum (Public Property) seperti bahan tambang yang tidak terbatas, sumber daya alam serta semua hal yang bisa mengakibatkan persengketaan dalam mencarinya dalam suatu komunitas , tidak boleh dijadikan kepemilikan individu (Private Property) maupun kepemilikan negara (State Property). Kepemilikan umum dibagikan langsung kepada masyarakat, bisa dalam bentuk benda yang diperlukan, seperti air, gas, minyak, listrik secara gratis atau dalam bentuk uang hasil penjualan.
Jawaban dari 3 pertanyaan mendasar tersebut diatas akan menimbulkan pandangan hidup (Aqidah) pada manusia, dari pandangan hidup tersebut akan memunculkan gambaran nyata tujuan hidup serta gambaran hidup manusia (Konsep Hidup). Setelah manusia mempunyai Konsep Hidup, maka ia akan mewujudkan tatanan hidup serta metode mewujudkan, mempertahankan dan menyebarluaskannya (Metode Operasional). Terbentuknya sebuah Sistem Kehidupan adalah tatakala manusia mewujudkan Konsep Hidupnya, dan tatkala Aqidah diterapkan dengan adanya Sistem Kehidupan maka terbentuklah Ideologi. Sifat dasar dari tiap-tiap ideologi adalah saling mempengaruhi dan saling menghancurkan.
Masalahnya adalah kita harus benar-benar memikirkan konsep mana yang sesuai dengan fakta dan dapat membawa kepada kebaikan bukan malah sebaliknya seperti yang terjadi pada masa sekarang ini. Hanya ada 3 pilihan konsep hidup yang harus kita pilih, apakah Sosialisme-Komunis, Kapitalis-Sekuler ataukah Islam.
Ini adalah pilihan yang bersifat pasti, tidak boleh adanya kesalahan dalam menentukannya, karena sangat berbahaya dan bisa berakibat kehancuran. Oleh sebab itu seperti gambaran game Puzzle tadi diatas, kita harus sangat-sangat berhati-hati dan jeli serta kritis dalam melihat tiap-tiap potongan Puzzle tersebut, jangan mudah terpancing oleh bisikan seseorang yang tidak tau gambar sebenarnya tentang Puzzle tersebut, ya…!! Anda harus membuktikannya sendiri, bayangkan permainan Puzzle tersebut adalah hidup kita, tatkala kita benar dalam menyusun gambar tersebut maka selamatlah kita, tapi bila kita salah dalam menyusun, maka hancurlah kita.
Dengan berorganisasi kita akan sering berjumpa dengan berbagai fakta yang dapat membantu dalam menentukan konsep hidup kita, dengan kita bisa mengasah daya kritis, kejelian, kepekaan sosial, membaca serta menganalisa kondisi yang ada. Disamping itu, diorganisasi akan banyak sekali pengalaman-pengalaman yag tidak bisa didapat dibangku kuliah, eh siapa tau kita bisa dekat dengan dosen, kan bisa mempengaruhi nilai lho dan siapa tau juga kita jadi kenal dengan orang yang tajir (banyak duit), kan bisa buat utangan kalo kiriman ortu terlambat (Ooo…). Sampai jumpa pada Cakrawala ilmu yang ke 2 dengan tema Motivasi Diri yang akan membahas cara pembuktian konsep hidup secara logika.
Bagan Penjelasan Jati Diri
Sosialisme (Komunis) dianut oleh Uni Soviet dan hancur pada tahun 1990
1. Manusia berasal dari materi dan tidak mengakui adanya Tuhan.
2. Hidup untuk bebas
3. Mati kembali menjadi materi
Kapitalisme (Sekuler/pemisahan agama dari kehidupan), sekarang dianut oleh hampir seluruh negara
1. Manusia berasal dari Tuhan Sang Pencipta.
2. Hidup untuk bebas, tidak ada pengaturan Tuhan terhadap manusia (God is watch maker)
3. Mati kembali kepada Tuhan dan masuk surga
Islam (Islam), sekarang tidak ada negara satupun yang menganutnya. Lahir tahun 622 M dan hancur tahun 1924 ditandai dengan hancurnya Turki Ustmani 3 Maret 1924, menguasai 2/3 bumi.
1. Manusia berasal dari Allah SWT
2. Hidup untuk beribadah dan tunduk serta patuh terhadap segala perintah-Nya.
3. Kembali kepada Allah dan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan (surga/neraka).
Di beberapa literatur Islam, banyak kita temukan sumber yang membahas tentang sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Kesepuluh sahabat itu semuanya laki-laki. Kisah-kisah mereka tersebar di berbagai buku sejarah yang kemudian banyak dijadikan rujukan umat Islam zaman sekarang untuk bisa meneladani dan berbuat seperti apa yang sahabat-sahabat tadi kerjakan. Harapannya, tentu untuk bisa mendapatkan dan meraih surgaNya juga. Sejauh ini, kesepuluh sahabat tadi yang cukup dikenal publik (umat Islam). Padahal, dalam sejarahnya, banyak juga wanita-wanita yang dijanjikan masuk surga. Di antaranya, ada Sumayyah binti Khayat, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Waraqah, Ummu Aiman, Nasibah binti Ka’ah, Ummu Haram dan Ummu Zafar. Kisah-kisah mereka bisa kita baca dalam buku karangan Muhammad Ali Qutb yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga” (Mubasyiraatu bi Jannatun). Dalam bukunya dikisahkan, Sumayyah adalah sosok muslimah yang mempunyai harga diri (izzah) yang tinggi. Memiliki kesabaran dan keikhlasan luar biasa di fase-fase awal dakwah Rasulullah. Sumayyah mempunyai suami bernama Yasir. Keluarga ini memproklamirkan diri sebagai keluarga muslim, mengikuti ajaran Muhammmad. Kenyataan ini membuat tidak senang para pemuka masyarakat yang saat itu masih menyembah berhala, Lata, Uzza. Maka, disiksalah mereka oleh kaumnya, dan hanya akan menghentikan siksanya ketika mau melepaskan diri dari ajaran Muhammad. Namun, Sumayyah dan keluarganya tetap istiqomah, tetap tegar dalam ke-Islaman dan memegang teguh keyakinannya untuk membenarkan ajaran Muhammad. Dan akhirnya, wanita dan suaminya gugur di medan kesyahidan. Sumayyah adalah wanita perkasa pertama yang syahid dalam sejarah Islam pada periode awal Islam datang. Selain itu, ada Asma’ putri Abu Bakar, sang “pemilik dua sabuk”. Kisah yang mengharumkan namanya ketika ia terlibat dakwah dalam peristiwa hijrah. Wanita inilah yang bertugas mengantar bekal makanan untuk Muhammad dan Abu bakar ayahnya ketika hijrah. Asma keluar dari kota Mekah di malam hari tanpa menghiraukan gelap gulitanya malam, sepi dan sunyinya malam, terjalnya bebukitan dan bahaya binatang buas. Yang ada dalam dirinya, hanya bertawakal kepada Allah agar diberi kekuatan untuk bisa memegang amanah. Ketika sampai ke Gua Tsur inilah peristiwa sejarah “pemilik dua sabuk” terjadi. Asma’ menyobek kerudungnya menjadi dua. Satu bagian untuk dijadikan sebagai ikat pinggang dan satunya lagi untuk mengikat bekal. Saat itu, Rasulullah memberi kabar gembira atas apa yang telah dilakukan Asma’, kemudian berkata, "Sesungguhnya Allah telah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga”. Sejak itu, Asma, putri Abu Bakar mendapat gelar Dzatu an-nitthqain yaitu orang yang mempunyai dua ikat pinggang. Masih banyak lagi cerita lainnya. Tentang Ummu Ruman (Zainab), wanita yang dijanjikan surga bukan karena keelokan wajahnya, tapi, ia adalah isteri Abu Bakar yang sabar menerima resiko mendampingi suaminya dalam berdakwah, ia adalah simbol wanita pertama yang memikul tugas mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak mereka.. Tentang Ummu Waraqah, seorang wanita baik hati yang teraniaya dan dibunuh hamba sahayanya sendiri karena iming-iming harta. Tentang Ummu Aiman yang penuh ikhlas merawat Muhammad. Tentang Nasibah binti Ka’ab, bidadari yang terluka dalam perang Uhud. Begitu juga Ummu Zafar, wanita yang sabar dalam keadaan sakitnya. Saya trenyuh dan haru membaca kisah-kisah wanita hebat itu, bidadari-bidadari surga itu… hingga kemudian saya teringat kepada ibunda…. Istaria Sumari, dia hanya wanita sederhana. Tapi, sebagai anaknya, ketulusan, kasih sayang dan ajaran cintanya sampai saat ini masih terus saya rasakan. Dia bukan hanya sosok seorang ibu, tapi sekaligus guru dan sahabat. Mungkin saat ini saya belum bisa berikan yang terbaik untuknya. Karena itu, hanya lantunan doa dan dzikir cinta yang bisa saya berikan untuk Ibunda tercinta Ya Allah ya Rabbi Berikanlah kebahagiaan dalam hatinya Jadikanlah ia wanita yang senantiasa teguh Memegang ajaranMu Muliakanlah ia di dunia dan kelak Berikan kesempatan kepadanya Untuk bisa merasakan surgaMU ~Lelaki sunyi dalam sepotong mimpi~
Wanita berusia 60 tahun itu dipanggil “Mbah” oleh anak jalanan Stasiun Lempuyangan. Aku mengenal Mbah sejak anak jalanan Stasiun Lempuyangan tidak dapat kutemui lagi berkeliaran di stasiun, dengan begitu tentu saja aku kesulitan untuk mengumpulkan mereka mengaji di masjid stasiun itu.
Seorang anak jalanan, Yudi mengantarku ke rumah Mbah, tidak jauh dari stasiun. “Sekarang anak-anak tidur di rumah Mbah…” lapor Yudi padaku. Sebuah rumah gubug dengan satu kamar tidur dan sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter menjadi satu dengan dapur. Di ruangan 2 x 3 meter itulah Mbah menampung anak-anak jalanan.
Sekitarsepuluh anak jalanan tidur di rungan sempit itu dan di ruangan itupula dikemudian hari aku mengumpulkan anak jalanan untuk belajar Iqro’ setiap hari dan mendengarkan ceramah setiap bulannya. Yudi kemudian memperkenalkan aku dengan Mbah, seorang wanita yang masih kelihatan segar dan kuat di usia senjanya.
Mbah dengan segala keterbatasan dan keikhlasannya membuka lebar pintu gubugnya untuk anak jalanan yang membutuhkan tempat untuk berteduh, mengurus mereka seperti mengurus cucu sendiri, walaupun ia sendiri membutuhkan uluran tangan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yang selama ini bergantung dari pesanan kue tradisional jika ada tetangga yang hajatan.
Namun aku yakin, rezeki Allah Maha Luas apalagi untuk seorang yang berhati mulia seperti Mbah. Pernah suatu kali, Rahmat seorang anak jalanan yang diasuh mbah minta sedikit beras untuk diisi ke dalam botol yakult yang akan digunakannya untuk ngamen.
“Nggak ada beras” jawab Mbah.
“Sedikiiit aja Mbah…” pinta Rahmat dengan wajah memelas.
“Nggak ada beras, kalo nggak percaya lihat aja di situ”
Rahmat mencari beras ke tempat yang ditunjuk Mbah, dia terdiam setelah melihat tempat Mbah biasa menyimpan beras telah kosong, Aku lantas berfikir, kalau nggak ada beras berarti Mbah dan anak-anak hari ini tidak makan…tapi baru saja aku berfikir begitu, datang seorang laki-laki mengucapkan salam dan ditangannya ada sekotak besar nasi dan lauk-pauknya, ada hajatan katanya.
Subhanallah!
Begitu cepatnya pertolongan Allah datang kepada Mbah dan anak-anak yang kelaparan! Yang membuatku lebih terharu, Mbah langsung memanggil anak-anak untuk makan bersama, dan dalam hitungan detik kotak nasi itu telah dikerumuni anak-anak asuhan Mbah..
Suatu hari…Mbah sakit! Tiga hari tidak sadarkan diri. Panik, aku segera memanggil taksi dan membawa Mbah ke rumah sakit. Di ruang UGD Mbah mulai sadar, lisannya tak henti-henti mungucapkan kalimat thoyyibah. Dokter mendiagnosa penyakit Mbah, hipertensi dan magh kronis. Mbah harus dirawat di rumah sakit. Lima hari Mbah berdiam di rumah sakit, selama itu aku dan anak-anak bergantian menjaganya.
Setiap hari Mbah merengek minta segera dipulangkan karena takut biaya rumah sakit yang mahal. Seorang Ibu yang dirawat dalam satu bangsal dengan Mbah, dibawa pulang oleh anaknya karena sudah tidak kuat menanggung biaya rumah sakit sedangkan sakit ibunya tak jua menunjukkan kesembuhan.
Setelah Mbah kuyakinkan bahwa kesembuhannya-lah yang terpenting, hal itu memicu semangat Mbah untuk segera sembuh dan dalam tempo lima hari Mbah telah dinyatakan sehat. Untuk menutupi biaya rumah sakit, teman-teman kampusku memberikan sumbangan, dan untuk menutupi kekurangannya kujual perhiasanku. Semua itu belumlah sepadan dengan apa yang selama ini Mbah lakukan…
Ketulusan, cinta, kasih sayang yang ia berikan untuk anak-anak yang bukan dari darah dagingnya sendiri. Dan semua itulah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh mereka, anak jalanan. Kasih sayang dan perhatian Mbah, bukan hanya untuk anak jalanan, tapi juga untukku.
Sebagai anak kost yang jauh dari orang tua dan keluarga, kasih sayang dan perhatian Mbah bagaikan air yang menyejukkan. Setiap kali aku datang ke rumah Mbah untuk mengajar anak-anak, Mbah tak pernah lupa menyuguhkan segelas teh hangat untukku, kalau ada, disertai makanan kecil sekadarnya.Jika tidak ada, Mbah hanya menyuguhkan segelas air putih. Apabila sehari saja aku tidak datang, Mbah sibuk mencariku.
Ketika tangan kiriku patah akibat kecelakaan, Mbah tak pernah berhenti memikirkanku. Dengan penuh harap Mbah memohon padaku agar ia kuperbolehkan ikut ke kost untuk merawatku hingga tanganku sembuh, atau kalau tidak, Mbah minta agar aku membawa baju-baju kotorku ke rumahnya agar dapat ia cuci.
Suatu kali, aku berkata pada Mbah, “Mbah, kalau kuliah saya selesai, saya harus pulang. Mbah ikut saya ya…”. Mbah terdiam, lantas berkata, “Kalau Mbak sudah nikah aja Mbah ikut, ngerawat anaknya Mbak…”.
Aku begitu terharu mendengarnya, dan berjanji dalam hati, kalaupun aku harus pulang ke daerah asalku, suatu saat nanti ketika aku menikah aku akan kembali ke Yogya untuk menjemput Mbah, mengajaknya tinggal bersamaku. Beberapa bulan setelah itu… setelah wisuda, aku datang ke rumah Mbah dengan membawa sedikit oleh-oleh. Aku bermaksud memberinya kabar gembira bahwa aku telah berhasil lulus sekaligus berpamitan pulang ke daerah asal…namun bukan Mbah yang kutemui, melainkan anaknya.
Dengan hati-hati anaknya mengatakan padaku bahwa Mbah telah meninggal dunia sebulan yang lalu karena ditabrak kendaraan ketika menyeberang jalan…sekujur tubuhku lemas.terngiang kembali perkataan Mbah, “Kalau Mbak sudah nikah Mbah ikut Mbak…” tak disangka itu pertemuan kami yang terakhir, dan mungkin keinginan Mbah yang terakhir…tapi mbah tak pernah lagi dapat kutemui apalagi tinggal bersamaku.. walaupun aku telah menikah dan kembali ke Yogya,
Mbah tak pernah tinggal bersamaku seperti keinginannya dahulu. Satu pelajaran yangkudapat dari Mbah, selalu ikhlas menolong orang lain meskipun dalam keadaan sempit..